Ucapkan Mantra, Hatimu Lenyap di Hatiku [BAG 2]

HANYA sehari setelah ulasan singkat mengenai buku ini tersebar di dunia maya, beragam tanggapan bermunculan. Ada yang bercanda, ada pula yang serius. “Kenapa baru terbitkan sekarang setelah lahir 5 anak, he he he…” tulis seorang kandidat doktor di Jepang tentang buku yang memuat Mantra Bugis ini.

Lain lagi tanggapan dari A Lagaligo Mappangara, ahli pertambangan perusahaan Chevron yang sedang berdinas di Doha, Qatar. Ia keponakan Bupati Luwu Timur A Hatta Marakarma. “hhhmmmmm… pantas kulitnya anakku putih2 semua :)”

Namun inti dari semua tanggapan itu tampaknya lebih mengacu pada pandangan bahwa sisi fungsional dari Assikalabineng masih cocok diterapkan saat ini karena sifat seks yang sangat universal.

Ini dikuatkan oleh pernyataan Muhlis Hadrawi, si penulis buku Assikalaibineng ini. “Hal ihwal pengetahuan seksualitas yang terkandung di dalam Assikalabineng pada dasarnya menjadi teks practical knowledge, karena menyajikan pengetahuan yang dapat dipraktikkan langsung oleh masyarakat di dalam kehidupan rumah tangganya.” (halaman 7).

Meskipun pengetahuan praktis (practical knowledge) di Assikalabineng ini ditujukan untuk masyarakat umum, namun tak mudah mendapatkan informasi yang lengkap dalam bentuk tertulis seperti pada naskah lontara. Hanya segelintir orang dengan strata sosial tertentu yang bisa menyimpan naskah-naskah kuno itu atau mendapatkannya dari penuturan. Dan karena itu boleh jadi Assikalabineng ini pernah menjadi paddissengan, atau pengetahuan yang eksklusif. Selain itu, buku ini juga memuat mantra – mantra Bugis dan doa persetubuhan.

Mari lihat tentang cara mendekati istri (halaman 93) menurut Assikalabineng. “Jika kamu mau menyentuh pintu kiri, tekuk kaki kirimu dan luruskan kaki kanannya, pastilah kamu menyentuh pintu kiri. Pada akhirnya di situlah perempuan akan menemukan kenikmatan…”

Di halaman 102. “Perlakukan semampu kamu hingga kenikmatan mencapai puncak. Pertemukan mulutmu dengan mulutnya. Hidungmu dengan hidungnya. Matanya dengan matamu. Dahinya dengan dahimu. Pastikan bahagian tubuhmu dan tubuhnya bertemu. Arahkan salah satu tanganmu ke farjinya. Tangan satunya lagi memegang kepalanya. Julurkan lidahmu, gigit lidahnya dan isaplah nafasnya. Ucapkan zikir ini A-I-U. Ucapkan dalam hati, “tubuhmu lenyap di tubuhku. Hatimu lenyap di hatiku, rahasiamu lenyap di rahasiaku…”

Baca Juga: Assikalaibineng, Kitab Persetubuhan Bugis

Tentang bagaimana menghadapi orgasme (halaman 112). “Apabila zakarmu telah masuk, tahanlah nafasmu. Janganlah lupa diri dan jangan terlalu bernafsu. Ingatlah kata syareat dalam persetubuhan. Jika mani telah keluar, maka lepaslah nafas sedikit demi sedikit. Jangan melepasnya sekaligus. Lepaskan sebanyak empat tahap lalu merasakan kenikmatannya.”

Ada pula cara memanjakan istri sehabis berhubungan (halaman 120). “Apabila kamu selesai bersetubuh, luruskan kaki dan sejajarkan lutut istri dengan baik. Tekan panggulnya dan usap pula keringatnya. Pegang pula persendiannya. Usap-usaplah seluruh tubuhnya sampai dia tertidur baru kamu berhenti.”

Tentang waktu dan hari bersetubuh yang ideal pun dikemukakan. Ada empat hari baik yakni malam Senin, Rabu, Kamis, dan Jumat. Kendati demikian, malam-malam itu tidak begitu mengikat, terutama jika berkaitan dengan vitalitas tubuh, situasi, mental, dan lingkungan. (amir pr)

SUMBER; TRIBUN TIMUR

 

Related Posts

About The Author

Add Comment