Tiga Senja dan Sepotong Surga (Bag. 2)

lanjutan dari bag 1

Meski tidur hanya dua jam, semangat dan tenaga tak menyurut. Matahari Selayar ternyata lebih rajin, jauh lebih awal menyinari bumi. Saya terbangun pukul 05:30 karena mengira sudah jam 7 atau 8. Pada hari ini, 18 November 2011, kami mengunjungi Pulau Gusung dengan menggunakan perahu kecil bercadik. Total ada 14 orang menumpangi perahu yang lebarnya tak lebih dari satu meter dengan panjang sekira 10 meter ini.

Kami meninggalkan dermaga Rahman Rauf pada pukul 08:30 dan tiba di Gusung yang terletak di sebelah utara Pulau Pasi’ menjelang pukul 10:00. Setelah menempuh perjalanan  selama satu jam lebih,  tampak sebuah bangunan tua. Perahu sempat merapat sebentar sebelum Acca dari Sileya Scuba Divers meminta pengemudi berbalik menuju kawasan bakau yang membelah Pulau Gusung dan Gusung Lengo. Kumpulan bakau ini membuat dua pulau ini seakan menyatu. Sayang, pagi itu air masih surut dan perahu tak dapat melaluinya. Perahu kami pun berbalik ke tempat semula.

Pemandangan sisi barat  P. Gusung (koleksi pribadi)

Kaki belum menginjakkan tanah, kami sudah terpana oleh keindahan laut yang tergambar jelas melalui airnya yang sangat jernih. Karang, Bintang Laut atau (starfish), ikan-ikan kecil, bulu babi dan Lamun (seagrass) menyambut kaki kami begitu turun dari perahu, lamun ini bukanlah bahan agar-agar. Bahan agar-agar adalah seaweed atau ganggang (alga). Selama ini memang terjadi salah kaprah karena ‘rumput laut’ dipakai untuk menyebut dua jenis tumbuhan yang berbeda. Selain lamun, ekosistem pulau yang terletak tepat di depan Kota Benteng adalah manggrove (bakau) dan tumbuhan karang.

Di depan kami, tampak berdiri kokoh sebuah bangunan tempat penyimpanan kopra yang dibangun oleh Belanda. Menurut Acca, penghuni awal pulau ini adalah para pemanjat kelapa yang didatangkan dari Bonto Mate’ne, Selayar. Kakek Acca, berusia 15 tahun ketika pertama kali ke pulau ini sebagai pemanjat kelapa. Kini usia kakek Acca mencapai 100 tahun lebih.

Gudang Kopra di P. Gusung (koleksi pribadi)

Kami menyusuri jalan setapak desa Bonto Lebang, -yang berpenghuni sekira 210 KK (data 2009)- yang terbuat dari semen pulau menghubungkan sisi barat di mana kami berencana untuk snorkeling. Jalan ini juga berfungsi sebagai tanggul, namun sayangnya mulai rusak meski belum berusia lama. Sebuah plang menuliskan pembangunan jalan ini dilakukan pada tahun 2011. Kami juga menjumpai pekerja mengerjakan beberapa bagian jalan. Terlihat berbeda dengan gudang beberapa konstruksi buatan Belanda yang masih berdiri kokoh meski dibangun puluhan tahun lalu.

Setelah berjalan tak lama tampak bekas tambak yang tak lagi berfungsi. Juga kelapa, bakau dan pinus terpampang di hadapan kami. Matahari sangat terik membuat kami kelelahan meski baru berjalan sekira dua kilometer. Kami memutuskan berhenti untuk beristirahat di sebuah pondok masyarakat setelah jembatan kayu yang menghubungkan Pulau Gusung dan Gusung Lengo.

Spot snorkeling dan diving di sisi barat hanya mampu kami pandangi. Air surut yang cukup membuat kami memutuskan tak melanjutkan perjalanan karena tak memungkinkan bagi kami untuk snorkeling. Vby, Dg Ke’nang, dan Dg. Ical memilih istirahat sedang Toar Sapada, Dg. Ipul, Dg. Nuntung dan Dg. Mappe tentu saja tak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan keindahan pulau ini dengan kamera mereka.

Di kejauhan, tampak sebuah pohon berdiri sendiri dikelilingi pasir putih hingga ke pemukiman. Dulunya, tempat pohon itu adalah sebuah pulau berpenghuni. Lalu badai datang menghantam, penghuni pulau pun memutuskan untuk berpindah ke Pulau Gusung Lengo. Pulau itu kini dinamai Gusung Tallang’a yang berarti gusung yang tenggelam, pada saat pasang air memisahkan pulau itu dari Gusung Lengo.

Sambil mengaso, saya membayangkan semburat jingga berlanskap pasir putih sehalus tepung. Betapa senja akan sangat indah di pulau ini. Sayang, waktu tak mengijinkan mengingat kami harus kembali sebelum salat jumat untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Jinato.

Perjalanan pulang ke perahu kami tempuh melalui sisi timur. Pohon-pohon kelapa yang ada di pulau ini menarik perhatian saya. Setiap pohon ditandai dengan huruf-huruf besar dari cat. Ternyata, huruf-huruf itu adalah inisial para pemilik kelapa.  Kami juga menemui penduduk sedang mengolah kelapa untuk dijadikan kopra.

Sesaat sebelum waktu salat Jumat kami tiba kembali di dermaga Pelabuhan Rahman Rauf. Di rumah Zulkifli Mude, salah satu penggerak Sileya Scuba Drivers, kami beristirahat. Juga mengisi baterai ponsel dan gadget sebelum melayari lautan menuju Pulau Jinato selama sembilan jam lebih. Selepas salat jumat, kami mengisi perut di RM Padang tempat kami makan sebelumnya.

Di pelabuhan Rahman Rauf, KML Cahaya Ilahi telah menunggu kami. Kapal kayu berkapasitas 200 orang memiliki dua lantai dan dek sebagai tempat penyimpanan barang. Lantai dua telah diisi oleh rombongan Ibu Bupati dan PKK Kab. Selayar. Para penumpang lain yang merupakan peserta “Taka Bonerate Islands Expedition (TIE) 2011″ terdiri dari berbagai Satuan Kerja Pemerintah Daerah atau Dinas-Dinas Kab. Selayar dan staff Taman Nasional Takabonerate. Juga rombongan lain yang berasal dari luar Selayar termasuk rombongan kami, Komunitas Blogger Anging Mammiri.

Sebanyak 162 peserta terdaftar di manifes syahbandar tapi jumlah penumpang di atas kapal tersebut tampak lebih. Syahbandar pun memutuskan menghitung ulang penumpang sesuai daftar di manifes, “Saya ndak mau ambil resiko, yang saya bawa nyawa orang bukan barang.” Jelasnya. Para penumpang pun diminta turun dari kapal dan dipanggil kembali berdasarkan manifes yang dipegang oleh syahbandar. Tampak pula Kapolres Selayar, ABKP Setiadi, beserta beberapa anggotanya turut membantu.

Awak kapal pun akhirnya mengangkat jangkar pada pukul 15 lewat. Kami memilih haluan kapal bagian kiri umtuk menikmati perjalanan membelah lautan. Mengingat perjalanan laut yang akan kami tempuh cukup lama, kami memutuskan untuk meminum pil anti mabuk.

Saya menjadi bahan tertawaan karena berambut panjang. “Gondrong kok minum antimo?” olok mereka. Saya yang tak pernah meminum pil anti mabuk sebelumnya ikut meminumnya karena tak mau mabuk laut. “Biasanya saya minum pil anti mabuk kalau mau dugem,” elak saya. Gondrong minum anti mabuk terdengar lebih terhormat dibanding gondrong muntah, bukan?

Mungkin karena pengaruh pil, saya kemudian tertidur di palka bersama Vby dan Dg. Ipul. Sekira satu jam lebih saya terbangun karena sinar matahari. Cuaca sangat cerah. Langit bersih. Senja pun datang, saya memasang headset dan bersandar pada galon-galon besar berisi air tawar persediaan awak kapal. Vby menjadi model dadakan para fotografer. Sesi pemotretan pun dimulai dengan latar senja dari lautan lepas.

Selepas magrib saya tertidur sejam lebih. Saat terbangun, hamparan berjuta bintang menghiasi langit tanpa bulan. Toar tertidur di sebelah kiri saya, sementara Vby duduk memeluk lutut di sebelah kanan saya. Sementara di sebelahnya, Dg. Ke’nang tertidur pulas di samping suami tercinta Denun yang tampak asyik mengetik di hapenya.

Saya kemudian mengajak Vby menikmati keindahan langit malam itu. Tiba-tiba Vby menunjuk sebuah bintang yang sangat terang, “itu bintangku,” seru gadis manis berjilbab ini. Melalui aplikasi Google Sky Map, kami akhirnya tahu nama bintang itu Shaula. Dalam bahasa Persia, Shaula berarti ‘terbit’. Shaula berjarak 700 tahun cahaya ini merupakan bintang ke 25 yang paling terang.

Tak terasa Cahaya Ilahi mendekati Pulau Jinato. Toar Sapada yang terlelap akhirnya terbangun oleh riuh awak kapal yang bermain di domino di dekatnya. Kemudian ia meminjamkan headlamp tuk menerangi awak kapal itu. Dengan ditopang tripod kamera, jadilah awak kapal itu bermain domino sembari menghubungi petugas dermaga Pulau Jinato.

Pukul 10 malam lewat beberapa Jolloro datang menyambut dan memandu Cahaya Ilahi, awak kapal mulai lego jangkar di lautan karena tak bisa merapat akibat air surut. Rombongan kami pun disambut oleh beberapa Jolloro yang akan membawa kami ke Pulau Jinato, pusat pelaksanaan Takabonerate Islands Expedition 2011.

Camat Takabonerate ternyata ikut menyambut kami dari atas Jolloro pertama yang kemudian mengangkut Ibu Bupati beserta beberapa ibu-ibu PKK. Saya dan Dg, Ipul yang berdiri di dekat seorang petugas keprotokelaran tertawa geli ketika mendengar petugas itu melapor pada petugas dermaga. “Ibu telah dievakuasi,” katanya. Kata “evakuasi” mengesankan kami berada dalam situasi darurat.

Giliran kami akhirnya tiba. Dalam keadaan gelap gulita, jolloro yang kami tumpangi menembus lautan mengantar kami ke dermaga. Di Pulau Jinato kami mendapat sambutan selamat datang dari barisan anak sekolah berseragam pramuka yang mengarahkan kami ke rumah kepala desa. Di rumah kepala desa, kami kembali menjumpai barisan anak sekolah yang memegang karton putih bertuliskan nama-nama instansi/grup peserta TIE 2011. Mereka bertugas mengantarkan rombongan ke rumah penduduk berdasarkan nama rombongan yang mereka pegang. Setelah makan malam kami kemudian diantar oleh salah seorang anak SD ke rumah penduduk untuk menginap.

Rombongan kami menginap di rumah Pak Asfar. Meski lelah, saya tak langsung tidur. Cuaca malam di pulau yang penduduknya 90% orang Bugis keturunan Sinjai ini cukup gerah. Saya memilih duduk melantai di teras, kemudian beberapa teman yang habis mandi menyusul. Tak lama kemudian, istri Pak Asfar datang dan menyajikan kopi dan kue bolu kukus. Betapa hangat sambutan mereka.

Saat duduk menikmati malam itu, dua orang SD berseragam pramuka anak melintas. “Belumpi datang tamuku saya dari Dinas Kesehatan,” kata seorang anak. Itu berarti ia masih harus bersiap keesokan harinya tuk menyambut tamunya. Diiringi suara kelelawar dari pohon depan rumah, saya menyesap regukan kopi terakhir sebelum beranjak tidur.

Pagi masih sangat belia ketika saya terbangun keesokan harinya dan mendapati keriuhan rumah. Beberapa teman mandi bergantian. Saya memilih tak mandi dan hanya mencuci muka. Toh, nantinya akan memuaskan diri di laut. Pukul 06:30 matahari sudah sangat terik. Setelah sarapan mie rebus dan segelas kopi plus kue, kami kemudian menuju perahu yang akan mengantarkan kami menuju Pulau Tinabo.

Perjalanan ke Tinabo memakan waktu kurang lebih dua jam. Di atas perahu, saya melanjutkan tidur selama satu jam. Ketika bangun saya mendapati teman-teman yang lain sedang diramal oleh Vby melalui garis tangan. Saya memilih untuk memandangi karang-karang dari atas perahu. Penuh warna-warni dari balik air yang sangat jernih.

Tak terasa perahu kami melewati beberapa pulau dan gusung, -pulau yang hanya berisi pasir putih,-. Dari kejauhan, sebuah pulau dengan pasir putih memanjang dengan beberapa bangunan dan nyiur melambai menyambut kami.

Tinabo, surga yang kami tuju sudah di depan mata…

Perjalanan ini berlanjut ke Sepotong Surga Itu: Takabonerate

Related Posts

About The Author

5 Comments

Add Comment