Tiga Senja dan Sepotong Surga [Bag. 1]

Bahagia itu sederhana: punya banyak teman dan melalukan perjalanan bersama, lalu menemukan teman-teman baru dalam perjalanan. Dan, saya beruntung memiliki teman-teman yang bergabung di Komunitas Blogger Anging Mammiri. Bersama mereka, saya berkesempatan mengunjungi Taman Nasional Takabonerate Kab. Selayar.

Awalnya, saya tak ada dalam daftar peserta Trip Anging Mammiri ini. Pun, tak pernah mengira akan ikut ke Takabonerate. Lalu pada kamis siang, 17 November 2011, saya iseng mencoba daring menggunakan modem. Ajaib, koneksi data yang macet selama dua hari tiba-tiba melaju kencang. Dan timeline twitter mengabarkan rombongan Trip Anging Mammiri sudah berada di Jeneponto, 90 km arah selatan Makassar.

Singkatnya, saya sudah berada di Bus Aneka ketika jam menunjukkan pukul 14.30 wita. Bus yang kami tumpangi berkapasitas 51 kursi penumpang namun diisi sekira 60 orang lebih. Saya pun akhirnya mallorong alias duduk di atas barang-barang yang diletakkan di sela-sela deretan kursi penumpang.

Jarak antara Kota Bulukumba, tempat saya bergabung dengan rombongan, ke Bira adalah 39 km. Bira terkenal sebagai ikon wisata Butta Panrita Lopi, sebutan bagi Bulukumba penghasil perahu pinisi dan pelaut ulung ini. Objek wisata andalan Bira adalah sebuah pantai cantik berpasir putih yang bisa ditempuh selama satu jam menggunakan bus atau pete-pete (angkutan umum) dari ibukota kabupaten yang berada sekira 120 km arah selatan Makassar.

 

Kami memasuki Pelabuhan Bira pada pukul 15.30, namun Ferry yang akan kami tumpangi belom merapat. Sembari menunggu, beberapa teman memanfaatkan waktu dengan mengisi baterai gadget masing-masing di warung yang ada. Tentu saja, kami harus membeli sesuatu entah itu diperlukan atau tidak. Yang jelas, harus ada alasan tuk masuk ke warung dan meminjam colokan listrik. Kami pun memesan kopi.

“Blogger bertemu colokan adalah serupa orang yang kebelet pipis bertemu toilet.” kata Daeng Mappe, salah satu peserta trip. Rebutan colokan adalah hal lumrah yang kami temui dalam beberapa hari perjalanan kami nantinya. Perjalanan di daerah dimana sinyal telepon susah ditemui, semisal lautan, memang menguras baterai handphone. Begitu pula baterai gadget lainnya. Kamera pun demikian, mengingat begitu banyak momen yang sangat sayang jika dilewatkan.

Tiga Senja                                             

            Memandang matahari terbenam, dimanapun, selalu indah. Namun, menyesap semburat jingga langit senja dari lautan menciptakan nuansa sendiri. Itu yang kami rasa sesaat setelah kapal berangkat dari Pelabuhan Bira menuju Pelabuhan Pamatata, yang terletak di ujung utara P. Selayar.

Menikmati langit bersih, ombak tenang, semilir angin lautan dan lukisan senja berlatar Bira adalah sedikit dari banyak keping kebahagiaan kecil yang kami reguk dalam perjalanan ini. Matahari terbenam nan cantik tentu sangat disayangkan jika dilewatkan begitu saja. Teman-teman menyiapkan kamera masing-masing dan merekam potret alam itu. Saya, merekamnya dalam ingatan. Juga menjadi model dari sesi pemotretan singkat itu.

KMP Belida yang kami tumpangi ini salah satu dari tiga kapal feri yang disiapkan oleh PT. PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) di Pelabuhan Bira. Selain KM Belida, ada KMP Bontoharu dan KMP Sangke Palangga yang melayani pelayaran Bira Bulukumba menuju Pamatata Kepulauan Selayar. Begitu juga sebaliknya. Belida juga melayari rute Bira-Sikeli-Tondasi dengan jadwal tertentu, sedangkan Sangke Palangga melayani rute Bira-Pattumbukang-Jampea-Labuang Bajo.

Bira – Pamatata kami layari selama dua jam. Pukul 19:25 kapal mulai bersandar di Pamatata. Antrian turun tak lagi sepanjang antrian naik. Kami bersama penumpang lainnya dengan tertib turun dari kapal disusul kendaraan yang ada di atas kapal. Saya mencatat ada empat bus selain Bus Aneka yang kami tumpangi. Dua bus besar dan dua bus kecil. Beberapa mobil dan sepeda motor juga ikut dalam pelayaran ini.

Perjalanan lalu kami lanjutkan melalui darat menuju Benteng, ibukota Kabupaten Selayar. Hanya butuh satu jam tuk menempuh jarak 50 km. Peserta rombongan dan penumpang bus lainnya mulai terlelap. Sesekali saya berdiri ketika bus berhenti menurunkan penumpang. Saya mereka-reka waktu yang saya butuhkan dalam bersepeda menyusuri rute ini. Sudah lama saya merencanakan bersepeda dari Bulukumba ke Selayar.

Dua mobil telah menunggu ketika kami tiba di terminal darat Selayar. Kami lalu disambut oleh Pak Sarben dari Sileya Scuba Diver dan staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Selayar. Mereka langsung membawa kami ke rumah makan Padang untuk melepas rasa lapar. Kami lalu mengunjungi Tinabo Dive Center (TDC) yang hanya dipisahkan dua ruko dari tempat makan.

 

Tinabo Dive Center – Selayar [foto oleh Dg. MappeDi TDC, Mbak Evy dan Ina memperkenalkan secara singkat mengenai detail peralatan snorkeling dan diving, juga jadwal untuk melakukan intro diving di pulau Tinabo. Selain melayani snorkeling dan diving, TDC juga menyewakan penginapan yang terletak di lantai dua kantor mereka. Hanya dengan Rp. 250.000 per malam, tamu dapat menikmati kamar tidur plus ruang tamu. Juga pemandangan laut dan Lapangan Pemuda Benteng.

Bapak Andi Mappagau, Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Selayar juga menyambut kami dengan jamuan kopi dan pisang goreng. Sayang, saya sudah kekenyangan, namun melewatkan kopi senikmat kopi itu adalah hal terlarang. Malam itu juga kami mengadakan diskusi singkat setelah diperkenalkan oleh Kamaruddin Azis, kepala rombongan.  Dalam diskusi ini pak Mappagau memaparkan kendala dan harapan dalam penyelenggaraan Takabonerate Islands Expedition ini. Bapak yang pernah menjabat sebagai Kepala Bappeda Kab. Selayar ini juga menjelaskan bagaimana ide dia untuk mengembangkan Takabonerate. Tak lupa ia meminta dukungan blogger dalam mempromosikan Takabonerate.

Tepat tengah malam, tepat pukul 00.00 kami tiba di Kafe Tempat Biasa, sebuah tempat yang tidak biasa. Sebuah kafe yang dibangun Sileya Scuba Driver (SSD) sebagai tempat untuk berbagi ide dan gagasan tentang dunia selam menyelam dan kemaritiman. Berbagai pernik, pajangan foto, pigura, t-shirt, meja, kursi, bahkan menu menawarkan suasana itu! Kafe ini, bersama Kios Lantigiang, menjadi sumber dana untuk segala kegiatan Sileya Scuba Driver, mulai dari konservasi lingkungan, bakti sosial dan promosi perlindungan sumberdaya alam pesisir dan laut.

Nama Sileya sendiri, menurut pak Sarben dalam diskusi malam itu, diambil dari bahasa Sansakerta yang merujuk pada kepulauan Selayar. Dalam bahasa lokal, Selayar disebut Silajara’. Kafe ini berjarak dua kilometer dari tepi pantai Kota Benteng juga merupakan pick-up point DiveMag. Diskusi malam itu berjalan hangat dan bersahabat, sayang kami harus pulang ke penginapan yang telah disediakan panitia tuk beristirahat.

 

Baca Tiga Senja dan Sepotong Surga Bag. 2

Related Posts

About The Author

27 Comments

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.