Teteshujan, Soe Hok Gie dan Bob Dylan

Langit sepertinya tak kuat lagi menahan beban, dan kini ia tumpahkan semuanya. Sehari ternyata tak cukup untuk melepas beban itu. Entah sudah berapa hari hujan turun terus. Seperti juga malam ini, saat di mana kami (saya dan teteshujan, perempuanku) membicarakan hal yang tak sehat dalam hubungan kami. Akhir-akhir ini saya memang agak sensitif.

Sayangnya, di akhir pembicaraan kami sepertinya ia menyerah dan ingin mengakhiri perjalanan kami. Saya tak pernah menyangka, karena selama ini ia adalah perempuan tertangguh yang bisa bertahan lama menerima segala apaadanya saya. Kali ini ia menyerah. Semoga ia tak benar-benar menyerah. Semoga rasa lelahnya hanyalah sesaat. Saya pun lelah, tapi bukan lelah mencintainya.
Saya coba untuk membenamkan lelah dalam lelap tidur, tapi teman-teman terlalu ribut nonton tivi. Saya menuju komputer, sebuah tampilan sebuah blog yang membahas Soe Hok Gie tak sempat tertutup. Mungkin seorang teman lupa menutupnya. Selepas membaca artikel di blog itu, perlahan rasa lelah yang menyergap perlahan meruap. Hujan pun mulai menipis. Lalu saya teringat sebuah lirik lagu: You can stop the rain falling, but you can’t stop me loving you’
Lalu ketika saya membuka program Winamp untuk mendengar lagu, folder Bob Dylan pun terbuka. Dulu, di tahun pertama menjadi mahasiswa saya selalu membawa kutipan lagu ‘Blowin In The Wind’ di kertas organizer. Sekadar menjadi sarana pengingat bahwa masih banyak hal yang tak beres di dunia. Soe Hok Gie dan Bob Dylan adalah dua sosok pejuang yang menempuh cara berbeda. Gie dengan penanya dan Dylan dengan gitarnya.
Mungkin perlu kukutipkan lirik utuh sebuah lagu Dylan dan puisi Gie di sini. Paling tidak untuk menjadi triangulasi rasa untuk teteshujan

pro iFFa:

If not for you
If not for you
Babe, I couldn’t find the door,
Couldn’t even see the floor,
I’d be sad and blue,
If not for you.
If not for you,
Babe, I’d lay awake all night,
Wait for the mornin’ light
To shine in through,
But it would not be new,
If not for you.

If not for you
My sky would fall,
Rain would gather too.
Without your love I’d be nowhere at all,
I’d be lost if not for you,
And you know it’s true.

If not for you
My sky would fall,
Rain would gather too.
Without your love I’d be nowhere at all,
Oh! what would I do
If not for you.

If not for you,
Winter would have no spring,
Couldn’t hear the robin sing,
I just wouldn’t have a clue,
Anyway it wouldn’t ring true,
If not for you.

(If Not For You, Bob Dylan)

MANDALAWANGI – PANGRANGO Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah

dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

(Jakarta 19-7-1966, Soe Hok Gie)

Related Posts

About The Author

Add Comment