Terima Kasih Tere Liye!

Jaman kuliah dulu saya pernah menghadiri temu penggemar dengan seorang penulis kondang saat itu. Bersama seorang teman, saya begitu khusyuk dan khidmat, mendengarkan penulis itu bercerita.

Penulis kenamaan itu, di hadapan ratusan penggemar yang memadati ruang pertemuan, Bercerita tentang bagaimana perjuangannya hingga bisa menjadi penulis yang menghasilkan puluhan judul buku buku. Termasuk salah satu buku yang memengaruhi generasi 90an. Buku itu sendiri, selain jadi best seller, juga diterjemahkan ke layar kaca.

Bagaimana ia menjadikan kekurangan fisiknya menjadi motivasi dalam menulis membuat saya terkagum – kagum. Hingga tiba pada sesi pertanyaan. Teman saya bertanya dan kemudian dijawab olehnya. Saya lupa pertanyaan, tepatnya kritik, teman itu dan bagaimana jawabannya. Yang membekas hingga sekarang adalah si penulis kenamaan itu anti kritik. Kekaguman saya tak berusia panjang. Saya keluar dari gedung pertemuan itu dan membawa pulang kekecewaan di dalam hati.

Bayangan bahwa semua penulis, khususnya sastrawan, itu berhati lapang dan memiliki wawasan luas hingga mau menerima kritikan setajam apa pun akhirnya menguap begitu saja. Saya ternyata begitu naïf, saat itu, hingga menafikan kalau penulis biar bagaimana pun adalah seorang manusia biasa. Karya mereka tak mencerminkan kapasitas pribadi sebagai manusia. Buku – buku best seller tak menjamin si penulis bisa menerima kritik dengan lapang dada.

Kesadaran yang muncul beberapa tahun silam itu kini muncul lagi setelah seorang penulis buku best seller menjadi bahan perbincangan di media sosial. Adalah nama  Tere Liye yang wara – wiri di timeline media sosial saya seminggu belakangan ini. Kali ini bukan buku – buku best seller nya, bukan juga karena tips – tips percintaannya yang memang sering kali melintas seperti sebelumnya.

Adalah status Tere Liye di Facebook, yang memancing kontroversi dan perbincangan luas. Status lengkapnya seperti ini:

“…Indonesia itu merdeka, karena jasa-jasa tiada tara para pahlawan–yang sebagian besar diantara mereka adalah ulama-ulama besar, juga tokoh2 agama lain. Orang-orang religius, beragama.

Apakah ada orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, pendukung liberal, yang pernah bertarung hidup mati melawan serdadu Belanda, Inggris atau Jepang? Silahkan cari.

Anak muda, bacalah sejarah bangsa ini dengan baik. Jangan terlalu terpesona dengan paham-paham luar, seolah itu keren sekali; sementara sejarah dan kearifan bangsa sendiri dilupakan…”

 Status ini sontak memancing beragam tanggapan. Kritik berupa masukan data, sindiran halus hingga makian bernada kasar pun tertuju pada penulis puluhan novel ini. Bagaimana Tere menghadapi konsekuensi dari pernyataannya ini? Ia menghapus komentar – komentar berseberangan, apa pun itu, bahkan yang berisi masukan, dan memblokir akun – akun yang tak menyodorkan pemahaman berbeda dengannya. Tere Liye mengingatkan saya kembali pada penulis kenamaan yang saya ceritakan di atas.

Untuk hal ini, rasanya perlu berterima kasih pada Tere Liye. Terima kasih karena telah mengingatkan kembali untuk memisahkan penulis dengan karya – karya mereka. Pun, Tere Liye yang selalu melintas dengan berbagai tips dan nasehat mengenai menghadapi hidup yang menye’ – menye’. Juga, terima kasih untuk mengingatkan kembali pada petuah ‘ambil cahayanya meski pun kau tak suka pada pemberi cahaya’.

Rasa – rasanya, rasa terima kasih untuk dua hal itu tak cukup. Ada banyak hal yang muncul setelah status kontroversial Tere Liye ini. Mari mengurainya satu per satu;

Banyak yang beranggapan Tere Liye tidak memahami sejarah. Orang – orang yang merasa seperti ini kemudian menyodorkan nama – nama mulai HOS Tjokroaminoto, Bung Hatta, Sutan Syahrir, Tan Malaka, hingga sang proklamator Ir. Soekarno. Nama – nama ini banyak muncul di timeline media sosial saya, baik oleh teman – teman saya atau pun status dan tulisan yang muncul karena teman – teman saya membagikannya di timeline mereka.

Banyak pula yang menanggapi status Tere Liye ini dengan  tulisan. Tak urung seorang sejarawan, Bonnie Triyana, merasa perlu turun tangan untuk meluruskan pemahaman Tere Liye. Pendiri majalah sejarah populer Historia ini menurunkan sebuah tulisan berjudul ‘Tere Liye dan Asal Usul Pengingkaran Sejarah Gerakan Kiri di Indonesia’ di laman portal Historia.

Dalam tulisan itu, Bonnie mengurai dari masa perpecahan Sarekat Islam; “SI Merah dan SI putih seringkali diasosiasikan dengan afinitas keimanan anggotanya. Mereka yang tergabung di dalam SI Merah adalah orang-orang komunis yang ateis, jauh dari nilai-nilai agama. Sementara yang putih kebalikannya.” tulis Bonnie. Lebih lanjut Bonnie menjelaskan “Padahal peristiwa yang terjadi pada awal era 1920-an itu pertama kali terjadi bukan karena urusan iman dan takwa, tapi lebih kepada taktik politik untuk “menyelamatkan” Sarekat Islam dari hukuman pemerintah kolonial.”

Bukankah kita harus berterima kasih pada Tere Liye karena ini? Hanya bermodal satu status di Facebook, Tere Liye berhasil memancing hadirnya beragam tulisan yang mencerahkan kita. Nama – nama yang ‘disingkirkan’ pada era orde baru akhirnya muncul lagi. Tulisan Bonnie sendiri ini sudah dibaca hingga 54494 kali per 4 Maret 21: 29 wita. Semoga dari jumlah sebanyak itu terselip pula para pengagum Tere Liye.

Perpecahan SI yang terjadi pada era 1920an itu sepertinya juga menjadi gambaran dari bangsa ini, setidaknya yang tampak di media sosial semacam Facebook. Saya mengamati pasca pilpres terdapat kecenderungan terbentuknya dua kelompok secara samar. Kelompok pertama adalah mereka yang ‘islami’, mudahnya kita sebut saja kelompok Kanan. Sedang kelompok kedua adalah kelompok yang kritis pada kelompok pertama atau kelompok Kiri.

Kedua kelompok ini sama – sama aktif di media sosial. Perselisihan paham kedua kelompok ini tergambar jelas pada sebuah isu yang sedang hangat. Menghadirkan keriuhan tersendiri. Sambung – menyambung tak terputus dari satu isu ke isu lainnya. Mulai dari isu Ahmadiyah, Syiah, Valentine, LGBT hingga yang terbaru, status Tere Liye.

Di media sosial saya, kelompok Kanan adalah orang – orang yang menolak Ahmadiyah dan Syiah, juga menolak Valentine dan LGBT. Begitu juga sebaliknya, kelompok Kiri adalah mereka yang kontra pada kelompok satunya. Kelompok Kanan ini memiliki panutan semacam Felix Siauw, Jonru Ginting dan juga, Tere Liye.  Sementara kelompok Kiri biasanya lebih kritis dengan landasan intelektual yang lebih baik dibanding kelompok satunya. Status kontroversial Tere Liye ini pun menegaskan kembali siapa – siapa yang berada di kedua kelompok ini.

Satu hal lagi alasan kenapa harus berterima kasih pada Tere Liye ini adalah bagaimana strategi pemasaran dengan melihat fenomena hadirnya dua kelompok ini, khususnya kelompok Kanan. Tere Liye, juga Jonru dan pedagang – pedagang hijab kekinian, tahu betul dan jeli melihat bagaimana kelompok Kanan ini butuh sentuhan keagamaan yang hadir melalui melalui status – status di media sosial.

Bagi saya, tak mungkin orang sekelas Tere Liye tak mungkin tak tahu dengan peran – peran orang – orang non religius dan beragama dalam kemerdekaan Indonesia. Tentu saja dia tahu. Hanya saja dengan cerdas dan jeli, Tere Liye mampu menjadikan orang – orang di kelompok Kanan ini sebagai pangsa pasar yang loyal. Tentu saja demi kepentingan penjualan buku – bukunya.

Berkat Tere Liye, timeline saya jadi cerah oleh banyak tulisan yang membahas statusnya. Juga, saya jadi belajar banyak hal dari sepotong statusnya. Sekali lagi, terima kasih Tere Liye!

 

Related Posts

About The Author

4 Comments

Add Comment