Terima Kasih Ahok!

Saya bukan pendukung Ahok. Tapi, ucapannya yang bisa membuat ratusan ribu umat Islam di Indonesia bisa berkumpul di satu tempat rasanya harus mendapat apresiasi dengan ucapan Terima Kasih Ahok!

Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama, bukanlah seorang muslim. Ia seorang keturunan Tionghoa yang lahir di Manggar Bangka Belitung, 50 tahun silam pada tanggal 29 Juni. Ia merupakan pemeluk agama Kristen Protestan pertama yang menjadi Gubernur DKI Jakarta. Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta pernah dijabat oleh pemeluk agama Kristen Katolik, Henk Ngantung (Gubernur DKI Jakarta periode 1964-1965).

Ucapannya saat melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu berhasil menyatukan ratusan ribu umat Islam untuk berkumpul dan meneriakkan nama Allah: Allahu Akbar!

Saat memberikan sambutan di hadapan warga Kepulauan Seribu, Ahok sempat menyinggung soal memilih pimpinan dan mengaitkannya dengan Surah Al Maidah. Rupanya, ada kalimat Ahok yang dianggap telah melakukan penistaan agama. Alhasil, ini memantik kemarahan ratusan ribu (mungkin juga jutaan) umat muslim dari seluruh Indonesia yang hari ini Jumat, 4 November 2016, berkumpul di Jakarta dan melakukan aksi demonstrasi.

Tak hanya Jakarta, ribuan umat Islam yang tergabung dalam ormas-ormas keagamaan juga melakukan aksi serupa di beberapa kota besar di Indonesia, termasuk Makassar. Berkat Ahok, banyak orang yang selama ini mungkin bukan pemeluk taat akhirnya tersentil rasa keagamaannya. Mereka lalu tersadar dan memutuskan untuk menjadi pembela agama mereka. Terima Kasih Ahok!

Aksi Bakar Ban Depan Kampus UMI Makassar. Terima Kasih Ahok! sudah menyatukan muslim di Indonesia.

Aksi Bakar Ban Depan Kampus UMI Makassar. Terima Kasih Ahok! sudah menyatukan muslim di Indonesia.

Konon, menurut beberapa sumber berita, KH. Bachtiar Nasir, selaku ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) menyebutkan total dana untuk demonstrasi kasus penistaan agama Ahok, Jumat (4/11/2016), mencapai Rp 100 miliar. Entah itu berasal dari saweran umat muslim atau berasal dari donatur misterius, yang jelas bahwa umat Islam di Indonesia mampu menghadirkan uang sejumlah 100 miliar.

Coba bayangkan jika uang sebanyak itu, sekali lagi 100 miliar, digunakan untuk membangun pesantren atau sekolah di daerah-daerah terpencil atau untuk menyantuni kaum dhuafa di negeri ini. Uang sebanyak itu juga bisa digunakan untuk membantu korban-korban penggusuran Ahok loh. Bukankah itu juga bentuk pengamalan dan pembelaan terhadap Islam?

Berkat Ahok pula, umat Islam yang selama ini mungkin jarang menyentuh Al-Quran akhirnya menjadi ahli tafsir yang hadir meramaikan media sosial. Bukankah ini sesuatu yang menggembirakan? Semoga setelah ini, para ahli tafsir di media sosial itu kembali tetap rajin menyentuh dan membaca Al-Quran dan kemudian mengamalkannya. Tidak hanya pada satu surah Al Maidah saja.

Selain memunculkan banyak ahli tafsir Al Quran, kasus penistaan agama ini juga menghadirkan banyak ahli-ahli bahasa baru. Tengoklah di media sosial, utamanya facebook, betapa banyak ahli bahasa baru yang menafsirkan ucapan Ahok. Baik yang tiba pada kesimpulan bahwa Ahok memang melakukan penistaan agama, atau pun yang menyatakan sebaliknya dan membela Ahok.

Ucapan Ahok pun menyadarkan banyak umat Islam bahwa selama ini mereka telah melakukan penistaan pada Al Quran karena telah membiarkan kitab suci mereka berdebu karena tak pernah mereka sentuh, apalagi baca. Sekali lagi, Terima Kasih Ahok!

Pun, mata kita juga semakin terbuka bahwa selama ini terjadi penistaan terhadap Al Quran yang terjadi selama ini tapi kita abaikan. Ada seorang ustadz yang mencabuli santrinya dan kemudian meminta korbannya untuk bersumpah di bawah Al Quran untuk tutup mulut. Ada pula Kanjeng Dimas menipu banyak orang dengan menggunakan dalil agama. Juga Guntur Bumi. Juga Aa Gatot.

Oh iya, selain menyatukan umat Islam, Ahok berhasil pula menjadikan dirinya sasaran demonstrasi dari aktifis-aktifis yang selama ini dianggap kiri. Kali ini ada satu pihak yang merupakan musuh bersama golongan kiri dan kanan. Dan itu adalah Ahok.

Karena Ahok, semoga, banyak di antara kita yang kembali mempertanyakan kadar keislaman saudara, teman dan kerabat. Semoga tidak hanya berhenti di situ. Semoga kita lalu mempertebalnya dengan mengamalkan nilai-nilai keislaman yang terkandung dalam seluruh surah Al Quran. Bukan hanya sibuk pada penafsiran satu surah saja, Al Maidah 51.

Sekali lagi, Terima Kasih Ahok.

Related Posts

About The Author

4 Comments

Add Comment