Tentang 24 Juni, Sekali Lagi..

Puan

di sudut kamar berguguran angkaangka

dari almanak yang tanggal baru saja

di luar bulan merapuh

dan kesunyian melahap waktu

 

 

“gara2 banyak dudu tanggal ultah ta’ ini om”

Begitu komentar seorang teman menanggapi foto yang saya unggah pada akun path. Sebuah foto yang biasa, di mana saya dan beberapa teman Kelas Menulis Kepo sedang ngopi dan ‘buka meja’ di sebuah kedai kopi. Buka meja adalah istilah bagi kami untuk main kartu joker. Acara ngopi itu sendiri tak berbeda dengan pertemuan lainnya. Yang membedakannya hanyalah bahwa malam itu bertepatan dengan tanggal 24 Juni.

Tak ada yang begitu istimewa pada tanggal 24 Juni itu. Kecuali, bahwa pada 24 Juni, pada tahun 1987 lahir seorang Lionel Messi. Saya tak perlu menjelaskan siapa dia bukan? Juga, pada tanggal itu pada tahun 1941 terlahir Sutardji Calzoum Bachri, Presiden Penyair Indonesia. Jika tak tahu siapa dia, silakan buka mesin pencari. Yang jelas, Lionel Messi dan Sutardji CB yang lahir pada tanggal itu adalah dua orang yang saya kagumi.

Tak ada yang begitu istimewa pada tanggal 24 Juni itu. Kecuali, bahwa pada tanggal 24 Juni 40 tahun silam kedua orang tua saya melangsungkan pernikahan. Seperti anak pada orang-tuanya pada umumnya, saya pun mengagumi kedua orang itu.

Kalau ada yang membuat tanggal 24 Juni istimewa, mungkin karena dua alasan di atas. Dan secara kebetulan, saya memang terlahir pada tanggal itu, pada sebuah Ahad sore yang malas. Namun, hal itu tak membuat 24 Juni menjadi istimewa.  Biasa saja.

Dalam keluarga kami, perayaan hari lahir bukanlah sesuatu yang wajib. Tak ada tradisi membakar ujung sumbu lilin lalu meniupnya tak lama setelahnya hanya demi sebuah ‘make a wish’. Kalau pun kemudian kue ulang tahun hadir pada saat salah seorang anggota keluarga kami berulang tahun itu biasanya karena inisiatif dari luar. Dari teman-teman atau pacar mereka.

Kalau pun ada ‘perayaan’ biasanya tak lebih dari rasa syukur yang mengejawantah. Kadang dengan cara mentraktir teman-teman dekat. Kadang sebaliknya. Ada kue ulang tahun atau tidak, bukan lagi sesuatu yang penting. Bagi saya, perayaan ulang tahun sejatinya tak lebih dari monumen kelahiran. Monumen yang mengingatkan kita untuk selalu bersyukur pada setiap detik nafas berhembus.

Kadang pula hari kelahiran itu menjadi semacam candaan. Pernah pada sebuah masa, di mana Mark Zuckerberg dan konco-konconya belum seketat sekarang mengatur facebook, saya mengganti kolom hari ulang tahun hingga empat kali dalam setahun. Empat kali pula saya menerima ucapan selamat dari teman-teman facebook.

Dinding facebook saya atur sedemikian rupa agar tak seorang pun dapat menulis di situ. Saya tak ingin dinding facebook saya kotor oleh iklan atau postingan yang tak membawa manfaat bagi saya dan teman-teman yang membacanya. Untuk sekadar men-tag saya pun, tak akan muncul di timeline saya jika saya tak mengijinkannya. Sebut saya sombong, tak apa. Ini demi menjaga saya tetap waras.

Untuk mewadahi ucapan selamat itu saya akan membuat sebuah status dan mempersilakan teman-teman menuliskannya di kolom komentar. Begitu selalu. Empat kali dalam setahun. Dan selalu banyak. Tak pernah kurang dari 150 orang. Dengan cara itu, saya bisa menghitung dan tahu siapa saja yang memberi selamat pada hari ulang tahun yang palsu itu. Tapi dari situ saya jadi tahu siapa teman yang tak tertipu dan betul tahu hari lahir saya. Tak ada niat apa-apa. Iseng saja.

Keisengan itu, mengubah hari lahir seenaknya, ternyata bukan milik saya sendiri. Saya dikelilingi oleh beberapa teman dengan kekurangkerjaan yang sama. Di media sosial lain, twitter, sering kali tab mention saya penuh dengan ucapan selamat ulang tahun. Usut punya usut, ternyata seorang teman yang memiliki akun dengan ratusan ribu follower dan pengaruh yang besar memberi ucapan selamat. Followernya, yang mungkin mengenal saya, pun turut mengucapkan selamat tanpa tahu bahwa tweet itu iseng belaka.

Nah pertanyaan di awal tulisan ini diajukan oleh teman yang saya ceritakan itu. Karena keisengannya mengucapkan selamat ulang tahun lebih dari sekali pada saya (via twitter) dia juga pada akhirnya lupa ulang tahun saya yang sebenarnya. Juga, mungkin, karena awal bulan saya sempat mengubah hari lahir saya di akun path saya. Itu setelah saya melihat seorang teman melakukannya, mengubah hari lahirnya seenaknya di akun path dia.

Jadilah, tak hanya teman itu, banyak teman yang sudah tidak percaya kalau saya benar-benar berulang tahun. Hanya beberapa teman yang tahu bahwa tanggal 24 Juni lah hari lahir saya yang sebenarnya. Sesuatu yang tak penting-penting amat sebenarnya.  Hari lahir tetaplah hari biasa. Berjalan sebagaimana mestinya.

Oh iya, dari keisengan ini juga saya bisa menyimpulkan bahwa di antara kita yang tak menyaring informasi. Hanya sedikit yang menyadari bahwa saya sudah lebih dari sekali berulang tahun pada tahun yang sama. Sedikit sekali yang melakukan konfirmasi dengan bertanya pada saya. Padahal, berita baik pun harus selalu kita cek kebenarannya.  Apalagi di era informasi mengalir deras mengepung kita dari segala penjuru. Sangat banyak yang memanfaatkan prasangka baik kita demi tujuan mereka sendiri.

24 Juni Coffeeable

Sore tadi menjelang berbuka puasa saya mengajak teman-teman di grup percakapan LINE Kelas Kepo untuk ngopi. Sudah seminggu saya mengurung diri di rumah. Untuk menyegarkan kepala saya mengajak mereka untuk ketemuan. Sekalian mentraktir mereka, pikir saya. Yah, anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena mereka telah hadir dalam hidup saya. Juga membuat saya selalu jatuh cinta pada kehidupan.

Sebagai penutup, saya ingin menitipkan puisi ini pada teman-teman Kelas Menulis Kepo, dan juga mereka yang pernah, sedang dan akan menemani saya menjalani sisa umur.

 

Yth ….
Terima kasih, Engkau telah menyempatkan berkunjung keruang
batinku. sesaat sebelum berangkat[1]. istirahatlah didalam, diluar
Peradaban hanya akan merebut seluruh jiwamu dan ragamu, membuat
Mu lelah menempuhnya. Di cakrawala seorang rembulanpun tampak
Sudah sangat tua, letih menampung malam seorang dirimu sudah sejak
Hari yang pertama. Apaapa yang tertera dilangit dan apaapa yang
terjadi dibumi akan kugubah menjadi sajak cinta. semoga berkenan
Membacanya.

sebab Engkau menjadi tamuku yang terakhir, siapaun engkau. Izinkan
Aku mengajak dan memilihmu sebagai sahabat sejalan. negeri impian
dan cita-citaku teramat jauh, kakiku tak akan sanggup merengkuhnya
Aku buuh teman yang sanggup membebaskan diriku dari rasa asing
sepi, letih dan seterusnya. apakah engkau tidak pernah tahu bahwa rasa
sepi itu sangat jahat.

tapi sepi memang abadi tamu manusia yang tak pernah diundang
sekali lagi terima kasih, siapapun engkau, aku cinta padamu

 catatan: Judul asli puisi ini adalah 8 November 1998 karya Marhalim Zaini. Lahir di Teluk Pambang Bengkalis Riau, 15 Januari 1976. Alumnus Jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dia mengijinkan siapapun untuk mengubah judulnya asalkan namanya dicantumkan. Kami bertemu di sebuah pertemuan mahasiswa Fakultas Sastra se Indonesia pada tahun 2000 dan ia memberikan puisi ini.

 [1] Dikutip dari judul sajak Sapardi Djoko Damono

 

Related Posts

About The Author

2 Comments

Add Comment