Switchable Me: Hobi, Profesi dan Laptop Ayah

Duduklah dengan tenang, akan saya kisahkan pada kalian tentang apa yang ayah lakukan selama ini untuk bertahan hidup. Ini tentang Switchable Me: Hobi, Profesi dan Laptop ayah.

#dearkamu, Cora dan Alena

Rasa-rasanya sudah sangat lama saya tak menjumpai kalian. Entah kapan terakhir saya bercerita pada kalian melalui diari maya ini. Bukan karena saya melupakan kalian. Tersebab karena kesibukan saja. Tepatnya kebiasaan menunda pekerjaan hingga mencapai tenggat lalu sok sibuk setelahnya.

Oh iya, tentang pekerjaan. Pernahkah saya bercerita pada kalian, Cora dan Alena, tentang pekerjaan saya? Sepertinya belum yah..

Baiklah, sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberitahu kalian apa pekerjaan saya sebenarnya. Pekerjaan seorang ayah yang tak pernah kalian temui. Jujur saja, sebenarnya saya tak tahu kapan waktu yang tepat untuk memberitahu kalian tapi saya rasa inilah saatnya.

Saya seorang blogger. Ah kalian pasti tak begitu kaget mendengar jawaban ini. Blogger, ada juga yang memadankannya dengan ‘narablog’, sebuah status yang belum mendapat pengakuan sebagai sebuah profesi. Setidaknya di Indonesia saat ini. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi V pun belum memasukkan dua lema ini; blogger dan narablog sebagai entri. Itu sudah cukup menjelaskan bahwa blogger belum diakui sebagai profesi.

Karena itu pula saya tak menyebut ngeblog sebagai pekerjaan, ia hanyalah sebatas hobi.

Ini aktifitas ayah dalam Kelas Menulis Kepo, berbagi pengalaman dan kemampuan menulis secara gratis.

Ini aktifitas ayah dalam Kelas Menulis Kepo, berbagi pengalaman dan kemampuan menulis secara gratis.

 

#dearkamu, Cora dan Alena

Ngeblog dan status blogger, bagi ayah, adalah hobi. Bermula dari kebiasaan mencatat apa saja lalu menulis diari di masa remaja. Ah, akan terlalu panjang jika saya tuliskan ulang. Baiknya kalian baca saja nanti di blog ini. Atau kalian sudah pernah membacanya?

Menulis di blog adalah hobi yang sudah saya lakukan sejak tahun 2002 hingga 2007 lalu ada jeda karena kesibukan mengabdi pada salah satu lembaga donor asing. Tahun 2012, ayah memutuskan untuk mundur dari pekerjaan itu, meski gajinya lumayan, karena sebuah sebab. Tak memiliki pekerjaan, saya kemudian punya waktu untuk menekuni hobi menulis di blog dan aktif sembari mempelajari ranah media sosial.

Tak ada yang sia-sia jika kita menekuni sesuatu dengan hati riang gembira, Nak. Hobi menulis dan ngeblog itu ternyata mendatangkan pekerjaan bagi ayah. Saya pernah menjadi jurnalis lepas sebuah portal berita global pada awal kehadiran mereka. Beberapa bulan berjalan, saya memutuskan berhenti karena sebuah kalimat “Nanti aja ditulis Mas, kalau rusuh” dari ‘bos’ di seberang telepon saat ingin mengirimkan tentang aksi demonstrasi. Kalau dipikir-pikir lucu yah, Nak.

Cukup lama saya bertahan sebagai pekerja lepas dengan gaji tak menentu. Jika suatu saat kamu berhadapan dengan kondisi ini, pandai-pandailah menahan keinginan karena “keinginan adalah sumber penderitaan” pesan Iwan Fals yang saya amini. Namun, tangan Tuhan hadir di mana-mana membawa rejeki. Perbanyaklah teman, bisa jadi mereka adalah pembawa rejeki yang dikirim Tuhan kepadamu.

Hobi menulis dan kebiasaan ngeblog mempertemukan saya dengan banyak hal. Mulai dari diundang ke berbagai kegiatan hingga diajak jalan-jalan gratis. Semuanya mempertemukan saya dengan teman-teman baru. Bukankah semakin banyak teman berarti pintu rejeki semakin terbuka lebar?

Berkat menjadi blogger, orang-orang jadi tahu kemampuan saya dalam menulis. Undangan berbagi pengalaman dan kemampuan menulis pun datang, berbayar mau pun tidak. Pekerjaan pun datang. Saat ini saya bekerja sebagai content writer di dua tempat.

 

#dearkamu, Cora dan Alena

Jika petani membutuhkan cangkul sebagai alat utama dalam bertahan hidup, sebagai blogger dan content writer, senjata utama saya adalah laptop. Tanpanya, saya tak punya daya. Sebagai content writer di dua perusahaan berbeda dengan segmentasi berbeda pula menuntut saya untuk siap bekerja kapan saja dan di mana saja.

Alasan Memilih Acer Switch 12

Alasan Memilih Acer Switch 12

Kapan saja ini bisa berarti saya harus begadang demi mengejar tenggat. Masalahnya, ide kadang tak datang saat begitu dibutuhkan. Jadilah, biasanya, saya melakukan hal lain demi menyegarkan isi kepala. Mulai dari berselancar mencari referensi untuk isi blog, membaca artikel-artikel tentang isu terbaru, menonton konser atau klip musik di Youtube hingga streaming film.

Semua itu membutuhkan laptop yang tangguh performa bertenaga kuat dan tahan panas dipakai berlama-lama seperti notebook Acer Switch Alpha 12 Switchable Me di depan ayah ini, Nak.

Acer sudah membenamkan prosesor Intel Core i Series generasi ke-6 yang memiliki kinerja kencang dan hemat energi makanya ia tangguh. Belum lagi teknologi Acer LiquidLoop™ yang mengandalkan pipa berisikan cairan  pendingin untuk menstabilkan suhu prosesor Intel Core i Series di dalamnya membuat notebook ini bekerja secara optimal dalam senyap.

Fanless, tanpa suara berisik kipas pendingin yang mengganggu jika saya gunakan pada malam hari. Oh iya, notebook hybrid ini tidak memiliki ventilasi udara yang terkadang mengganggu kenyamanan saat dipangku maupun diletakkan di atas kasur. Sistem fanless ini sangat membantu menghemat daya baterai sehingga Switch Alpha 12 bisa ayah gunakan dalam waktu lama tanpa khawatir tak ada colokan.

Petani hanya membawa cangkulnya ke sawah atau ladang, ayah hampir tak terpisahkan dengan laptop ini Nak.

Bodinya ramping dan langsing, persis ibu-mu saat kami pacaran dulu. Mudah bagi saya untuk membawanya ke mana-mana. Di kamar atau di kafe, – saat nongkrong pun kadang saya luangkan waktu untuk ngeblog atau mengerjakan tugas -, saat memberikan materi menulis ketika diundang atau pun di Kelas Menulis Kepo, hingga ke luar kota jika ada kerjaan lepas. Laptop ini setia mengikuti ke mana saya pergi dan siap siaga tanpa keluhan ketika saya membutuhkannya. Pun, ia tak pernah menyusahkan punggung ayah karena bobotnya ringan.

Seperti ayah yang suka berganti rupa dari blogger menjadi content writer, Switch Alpha 12 dapat berubah sesuai kebutuhan, dari mode tablet menjadi notebook atau sebaliknya. Sangat mudah, cepat dan aman saat melepas dan memasang kembali keyboard docking karena sudah dilengkapi engsel magnet. Switchable Me, banget yah.

Nak, pahami kegunaan keyboard docking ini bukan sekadar aksesoris semata, tapi juga berfungsi sebagai screen protection. Desainnya super tipis dan ada lampu backlit memudahkan saya bisa tetap mengetik meski sedang berada di ruangan dengan pencahayaan redup. Ada pula kickstand yang bisa diatur sudutnya hingga 165 derajat untuk memberikan sudut pandang sesuai keinginan. Dengan begini, saya bisa mengetik, mencatat hingga menggambar lebih nyaman. Kenyamanan, bukankah itu yang kita butuhkan?

Sebenarnya kelebihan laptop ayah ini masih banyak tapi saya takut kalian bosan membaca surat ini. Jika penasaran, dan saya yakin kalian penasaran karena kalian anak-anak yang kepo, bacalah tentang Acer Switchable Me di Switch Alpha 12: Notebook Hybrid Intel Core Pertama Tanpa Kipas

Tulisan ini diikutkan dalam lomba Acer Switchable Me

Tulisan ini diikutkan dalam lomba Acer Switchable Me

#dearkamu, Cora dan Alena

Kini kalian tahu kan apa profesi ayah. Jika nanti ada yang iseng menanyakannya, jawablah bahwa kalian memiliki seorang Switchable Dad. Kadang mengaku blogger kadang menjawab sebagai content writer. Tapi, kalau ada yang masih bingung dan kalian malas menjelaskannya, jawab saja begini: Ayah kami seorang blogger dan dia bahagia.

Related Posts

About The Author

2 Comments

Add Comment