Surat Cinta Yang Telat #6: Tentang Perjuangan dan Kesetiaan

#dearkamu…

 

Kali ini saya ingin bercerita tentang perjuangan dan kesetiaan. Sesuatu yang telah kita pahami dan jalani dalam diam selama ini. Sesuatu yang tak perlu kau tanyakan tapi ingin saya ceritakan..

#dearkamu…

Sesungguhnya, lelaki mencari sosok ibu dalam (calon) istrinya.

Saya, semasa kecil, sering tertidur di pangkuan ibu yang mengelus kening atau di antara 2 kening. Sampai dewasa pun, saya masih seperti itu apalagi jika sedang sakit. Tidur beralaskan paha ibu yang mengelus kening sambil menceritakan betapa manja saya semasa kecil sampai saya tertidur. Iya, manja, bukan nakal. Sejak dilahirkan saya adalah anak yang pasif, tak banyak kenakalan yang bisa diceritakan.

Saat – saat berbaring di pangkuan Ibu itu saya juga sering mendengar ia bercerita bagaimana butuh berapa lama untuk bisa mencintai bapak setelah pernikahan mereka. Bapak menikahinya saat ibu masih berusia 13 tahun, saat itu ibu belum mendapatkan haid pertamanya. Bapak sudah berusia 20 tahun dan ini adalah pernikahan ke – 2 bagi Bapak, setelah pernikahan pertamanya gagal dan berujung pada perceraian.

Ibu juga sering bercerita bagaimana ia bisa melalui pernikahan dengan Bapak hingga Bapak berpulang lebih awal belasan tahun lalu. “Tak aakan ada yang bisa menggantikan bapakmu” ujarnya. Padahal, Bapak bukanlah lelaki atau suami yang baik di awal pernikahan mereka.

Pernah suatu kali Ibu tak lagi bisa memaafkan Bapak dan memberi pilihan cerai. “Saya tak apa2 cerai, asalkan anakku harus ikut saya” begitu kira – kira ultimatum Ibu pada Bapak. Ibu sangat yakin ia bisa menghidupi saya meski bercerai. Pada akhirnya Bapak sadar dan berjanji tak lagi mengulanginya. Sebuah janji yang ia pegang hingga ia berpulang.

Satu yang saya pelajari dari pernikahan mereka adalah tak pernah sekalipun mereka bertengkar di depan anak – anaknya. Mereka memilih menyelesaikan masalah di dalam kamar. Sebagai anak tertua, saya seringkali menjadi perantara jika mereka sedang ‘gencatan senjata’, pun jadi tempat curhat keduanya jika Bapak dan Ibu sedang ada masalah. Mungkin itu salah satu resep pernikahan mereka bisa bertahan hingga maut memisahkan.

Saya juga menyaksikan bagaimana Ibu bisa bangkit setelah kematian Bapak. Sebelum meninggal, Bapak sakit selama 8 (delapan) bulan lebih. Biaya pengobatan menguras modal toko kami. Belum lagi Ibu harus membagi perhatian antara merawat ayah dan mengurus toko. Tentu bukan sebuah hal mudah. Saya tak bisa membayangkan bagaimana ia melaluinya andai Ibu bukan seorang perempuan yang tangguh.

Sepeninggal Bapak, Ibu memulai kembali usaha dengan toko yang hampir kosong. Sedikit demi sedikit, toko kami berisi kembali. Bermodal kepercayaan dari orang – orang yang bersedia memberinya utang Ibu berhasil menghidupkan toko itu. Dari toko itulah, Ibu mampu menyekolahkan 4 (empat) anaknya sendirian.

Ibu belum genap berusia 40 tahun ketika ia menjanda. Ia pun dikarunia wajah yang menarik. Bentuk tubuhnya pun masih bagus. Soal ini, ia mengaku berkat kepandaian Bapak. “Suami perempuan itu lelaki bodoh” begitu sering ia bilang ketika melihat perempuan yang berbadan terlalu kurus atau gemuk. Ibu selalu menyayangkan saya tak sempat belajar hal itu dari Bapak hingga Bapak meninggal.

Pernah suatu ketika ada rumor yang mengatakan ada seorang lelaki yang ingin melamarnya. “Tak akan ada yang bisa menggantikan bapakmu”, entah berapa kali kalimat ini saya dengar begitu percakapan membahas Bapak.

#dearkamu.. yang kelak menjadi Ibu bagi anak – anakku..

Dari Ibu, saya belajar tentang perjuangan dan kesetiaan..

Sesungguhnya saya mencari sosok Ibu dalam dirimu. Saya tak akan memintamu untuk menyamainya karena kalian adalah 2 (dua) sosok yang berbeda. Cukup sediakan telinga untuk mendengarkan segala keluh kesah akan hidup. Cukup elus – elus kening ketika saya lelah hingga saya tertidur di pangkuanmu.

#dearkamu, satu lagi..

maukah kau terus berjuang bersama menuju ikatan suci? Kita tahu, berjuang merawat kesetiaan bukanlah hal yang mudah, tapi maukah kamu?

Related Posts

About The Author

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.