Surat Cinta Yang Telat [3]: Tentang Kemenangan dan Orang-Orang Baik di Sekitar Kita

Dearkamu..

Ijinkan kali ini saya menulis untuk anak kita kelak, Cora Bittara Amarah, tentang arti sebuah kata kemenangan.

Terlebih dahulu, saya ingin menceritakan makna di balik nama Cora agar kelak ketika ia membacanya ia bisa memahami makna namanya. Lagi pula ini surat pertama bagi dia, maka biarkan ia tak lagi bertanya-tanya kenapa ia diberi nama seperti itu.

Cora Bittara Amarah adalah paduan kosakata bahasa Bugis. Cora berarti terang, bisa pula berarti gemilang. Sedangkan Bittara adalah bahasa Bugis untuk langit atau angkasa, kata ini sudah jarang terpakai di kalangan pengguna bahasa Bugis. Saya berharap, Cora Bittara kelak memiliki masa depan yang gemilang tanpa melupakan akar darimana ia berasal seperti yang melekat pada namanya. Amarah? Ini akronim dari Anaknya Mansyur Rahim.

Baiklah, kita mulai surat pertama untuk Cora ini..

 

Dear Cora..

Ini surat pertamaku sebagai ayah untukmu, anak lelakiku, maka bacalah dengan seksama. Mungkin lebih bagus lagi jika kau menyeduh teh hangat sebelumnya. Jika kau merasa tubuhmu agak lelah, teh jahe akan menjadi pilihan tepat untukmu. Saya sudah membuktikan khasiat teh jahe bertahun-tahun. Oh iya, saya akan tetap memakai kata ‘saya’ sebagai pengganti untuk ‘ayah’, ‘bapak’, ‘abi’ atau ‘ambo’ sebab belum tahu kelak kau akan memanggilku apa.

Cora..  Saya ingin sedikit berbagi padamu tentang makna kemenangan. Bulan lalu, Desember 2013, saya terpilih menjadi sebagai salah satu peserta #FlashpackerSeru yang diadakan oleh Telkomsel dan Jalan-Jalan Seru Makassar. Inti kegiatan ini adalah bagaimana menempuh Makassar – Toraja sejauh 328 km tanpa uang sepeserpun. Modal kami, 32 peserta, hanya pulsa 200rb dan paket data yang dibekali oleh panitia.

Cora.. Kamu mungkin berpikir bahwa saya pasti bisa menyelundupkan selembar-dua lembar uang atau kartu atm, sebab engkau tahu saya ahli menyelundupkan rokok ke dalam area konser, bahkan konser seketat konser Metallica di GBK pun saya berhasil.  Tapi kamu salah, saya tak berniat untuk berlaku seperti itu. Saya ingin membuktikan bahwa tanpa uang sepersen pun saya pasti bisa sampai ke Toraja. Lagi pula, sebelum berangkat, panitia memeriksa kami untuk memastikan tak ada peserta yang membawa uang, juga makanan. Dompet dan isinya, kecuali kartu identitas, disimpan panitia.

Sebelum berangkat, saya menghubungi salah satu sahabat terdekat yaitu Iqbal yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Dinas Pariwisata dan Olahraga Parepare untuk memastikan tempat menginap di sana. Dan Cora, tahukah kau? Iqbal ini, kau boleh memanggilnya dengan Om Iqbal atau Paman Iqbal bila bertemu dengannya, malah memberikan saya dua pilihan hotel terbaik di Parepare.

Cora.. Selain Om Iqbal, kau pun harus berkenalan dengan Om Emmank nanti. Berbeda dengan Iqbal yang merupakan sahabat saya, saya tak begitu dekat dengan Om Emmank atau Hermansyah sebelum kegiatan ini. Mungkin ada sedikit persentuhan dalam kegiatan komunitas, entahlah saya tak begitu ingat. Yang jelas, saya satu tim dengannya. Bersama Om Emmank inilah saya menempuh perjalanan Makassar – Toraja ini. Tanpa dia, saya mungkin tak berhasil.

Pos pertama yang harus kami singgahi adalah Kota Pangkep. Saya dan Emmank menumpang 6 (enam) kendaraan berbeda: truk 6 roda, pick – up, hingga truk 16 roda. Ke enam supir kendaraan yang kami tumpangi itu tak satu pun yang meminta bayaran. Meski mereka menolong kami tanpa mengharapkan imbalan, saya dan Emmank memutuskan untuk membalas kebaikan mereka dengan mentransfer pulsa.

Menuju pos 2 (dua) di Barru, kami mendapat tumpangan mobil pribadi. Perjalanan dengan mobil ber-air conditioner lumayan menyenangkan. Mobil pribadi ini mengantar kami hingga Tanete Barru, dari sini kami menumpang pete-pete yang kami bayar dengan rokok. Sebenarnya, sang supir tak meminta bayaran. Kamilah yang menawarkannya ketika mengetahui ia merokok.

Sayangnya, pete-pete ini harus masuk ke terminal dan tidak bisa melalui pos 3 (tiga). Kami harus berjalan kaki sejauh 200an meter hingga mobil operasional polisi memberi kami tumpangan hingga pos. Di pos ini dua follower dari akun saya, @lelakibugis, membawakan bekal berupa makanan dan minuman yang jika diuangkan bernilai tak sedikit..

…. …. …. bersambung … … …

Kemenangan bukanlah tentang menjadi yang pertama dalam sebuah kompetisi, kemenangan adalah ketika semua mampu mencapai tujuan. Cora, kemenangan terbesar saya kali ini adalah menjumpai begitu banyak orang-orang baik hati di sekitar kita. Supir biasa, polisi biasa, kapolres hingga pejabat, mereka menolong tanpa mengharap imbalan. Semoga kelak, kau pun masih menjumpai hal yang sama.

Related Posts

About The Author

Add Comment