Surat Cinta Untuk Kartini

“Ah, bosan Bu. Cerita Kartini kan selalu kita dapat di buku sejarah” timpal Vito, seorang siswa di dalam kelas ketika Dian meminta siswa – siswanya menebak cerita apa yang akan ia bawakan hari itu.

“Dari baju Ibu kita sudah tahu kok kalau Ibu mau cerita soal Kartini” tegas Vito. Sebagai guru baru, Dian pun kebingungan.

Hari itu bukan hari yang baik bagi Dian. Di hari pertama mengajar di sekolah barunya ia terlambat. Dalam ketergesaan menuju kelas, barang – barangnya terjatuh sesaat setelah ia mencapai anak tangga terakhir.

Adegan di kelas di atas menambah nelangsanya. Untunglah ada Rangga, seorang guru lelaki yang menyelamatkannya. Rangga masuk ke kelas dan bercerita tentang Sarwadi, seorang tukang pos. Cerita kemudian mengalir dengan latar sebuah daerah bernama Japara pada awal 1900-an.

Sarwadi, duda beranak satu, jatuh cinta pada seorang putri pada pandangan pertama saat ia mengantarkan surat. Putri itu adalah Kartini, putri dari Bupati Japara. Semakin sering ia mengantarkan surat semakin ia jatuh cinta. Sarwadi melihat sosok perempuan Jawa ningrat yang begitu sederhana, mau berteman dengan siapa saja tanpa memandang derajat. Pun, karena Kartini memiliki cita-cita tinggi untuk Bumi Putera.

 

***

Saya beruntung pekan ini berkesempatan menyaksikan sebuah film secara gratis (lagi). Bersama sejumlah pengikut (followers) Twitter, saya dapat tiket gratis dari Indosat Oreedoo Sumapa untuk menyaksikan pemutaran khusus film Surat Cinta Untuk Kartini, 18 April.

Dalam tiket undangan tertulis pemutaran akan berlangsung pukul 14:00 wita. Saya tiba di MP XXI pukul 13:45 namun tak menjumpai seorang pun dari panitia. Beberapa orang, saya tebak, adalah pemegang tiket undangan tampak kebingungan. Menjelang pukul 14:00 barulah panitia datang. Mereka bergegas memasang properti. Setelah menanyakan kepastian waktu pemutaran, yang ternyata pukul 14:55, saya memutuskan mencari ruang untuk merokok sembari menunggu.

Usai menghabiskan sebatang rokok, saya kembali ke studio. Undangan pemutaran khusus yang diadakan oleh Indosat Ooreedoo dan MNC Production telah memenuhi ruang tunggu. Di depan standing banner, tampak serombongan ibu – ibu mengelilingi seseorang dan meminta foto bareng. Rupanya, pemutaran film ini dihadiri oleh Lukman Sardi. Aktor yang saya film-filmnya saya sukai. Mulai dari Gie hingga Malaikat Juga Tahu.

Usai menonton film yang dibintangi Chicco Jerikho ini, saya bergegas keluar. Saya harus mendapatkan email dari sutradaranya. Film ini meninggalkan kesan yang menarik bagi saya. “Film ini pasti digarap dengan serius” batin saya. Niat untuk menuliskannya pun muncul. Untuk itu, saya butuh kontak sutradaranya.

Lukman Sardi, rupanya, masih melayani permintaan foto bareng usai pemutaran. Di sela – sela sesi foto bareng itu saya mendekati dan menyapanya. Meminta waktu untuk wawancara. Juga meminta izin pada Cindy, perwakilan MNC untuk wawancara dengan Azhar ‘Kinoi’ Lubis, sang sutradara. Tak lama, Lukman Sardi kemudian mengajak ke saya ke kafe XXI untuk wawancara sambil ngopi.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Kesempatan ini tentu tak akan saya sia-siakan. Segera saya mengeluarkan pena dan buku catatan. Wawancara berjalan santai. Cerita lebih banyak mengalir dari Kinoi, panggilan karib sang sutradara. Lukman Sardi, sesekali masih melayani permintaan foto bareng dari penggemar. Pemeran Herman Lantang sahabat Gie dalam film GIE ini juga tampak asyik ber-video call dengan, yang saya duga, anak-anaknya.

Dugaan saya bahwa film Surat Cinta Untuk Kartini digarap dengan serius akhirnya terbukti. Selama wawancara, Kinoi dan Lukman Sardi, mengungkapkan bagaimana mereka menyiapkan film ini untuk menghasilkan film biopik yang berbeda dengan film – film sejenis. Mereka juga mau menampilkan Kartini dari sudut pandang berbeda. Tidak seperti yang digambarkan dalam buku sejarah yang kaku.

“Kami ingin sejarah dipandang dari sudut pandang berbeda. Kartini, pahlawan emansipasi dilihat dari sudut pandang seorang tukang pos” ungkap Lukman Sardi.

Sang sutradara, Kinoi menambahkan selama ini film yang bercerita tentang tokoh pahlawan selalu melihat dan menggambarkan tokohnya dari sudut pandang tokoh utama itu sendiri. Mereka pun memilih untuk menghadirkan karakter Sarwadi, seorang tukang pos. Pemilihan karakter tukang pos ini mengingat kebiasaan surat – menyurat Kartini.

Kinio juga memiliki alasan lain pemilihan sudut pandang ini, ia menghadirkan karakter tukang pos karena ingin mengembalikan memori romansa surat menyurat yang kini tergantikan oleh surat elektronik atau email. “Juga untuk mengingatkan kembali betapa pentingnya surat – menyurat.” Tutur Kinoi.

atas: adegan keluarga besar Kartini berfoto, bandingkan dengan arsip foto dari Museum Kartini.

atas: adegan keluarga besar Kartini berfoto, bandingkan dengan arsip foto dari Museum Kartini.

Karakter Sarwadi si tukang pos diperankan dengan bagus oleh Chicco Jericko. Totalitas Chicco dalam bermain film kembali terlihat. Bayangan saya tentang Chicco di film Cahaya Dari Timur, Filosofofi Kopi dan A Copy of My Mind seketika sirna. Chicco berhasil larut dalam karakter Sarwadi yang ia perankan. “Ini Chicco bukan yah?” tanya saya dalam hati berkali – kali sepanjang film.

Chicco memang sangat serius ketika menerima peran ini, diungkapkan oleh Kinoi, Chicco bahkan rela tidak mandi, naik sepeda onthel keliling desa sambil nembang, ngobrol dengan penduduk desa, dan tidak memakai sandal selama seminggu. Semua itu dilakukan Chicco demi mendalami perannya. Seluruh pemain yang terlibat dalam scene berlatar kehidupan Kartini memang dikarantina dalam booth camp. Selama karantina, para pemain itu didampingi oleh pelatih dari Institut Seni Indonesia Jogjakarta dan pihak keraton untuk mendalami budaya Jawa dan tata krama Jawa zaman dahulu seperti bagaimana cara duduk dan bersimpuh.

Pasangan Chicco, pemeran Kartini dalam film ini adalah Rania Putrisari yang didapatkan dari proses audisi yang tidak singkat. Ada ratusan pendaftar yang mengirimkan contoh akting mereka melalui youtube. Dari ratusan itu kemudian terpilih 4 (empat) orang yang mengikuti karantina dan workshop selama 2 (dua) minggu.  Bagi Rania, Surat Cinta Untuk Kartini ini adalah film pertamanya.

Kinoi dan Lukman Sardi memang sengaja ingin menghadirkan aktris baru untuk memerankan Kartini agar penonton tak terbayangi oleh karakter yang diperankan dalam film sebelumnya. “Kami juga mudah untuk membentuk karakter Kartini yang kami inginkan” ungkap Kinoi mengenai alasan pemilihan Rania sebagai pemeran Kartini.

Bukti keseriusan penggarapan film ini juga terlihat dari proses riset yang dilakukan oleh sutradara dan tim produksi. Mereka bahkan melakukan riset visual melalui arsip foto dan video di berbagai tempat termasuk di Museum Kartini. Hasilnya? Detail film yang mengesankan. Nama Jepara, misalnya, di masa Kartini hidup ternyata dari berbagai arsip tertulis ‘Japara’. Nama inilah yang juga dipakai dalam film seperti yang terlihat dalam gerbang kota.

Suasana Japara pada masa itu pun dapat kita ketahui melalui film ini, seperti gambaran aktifitas pasar; ada etnik Tionghoa yang bermain dadu bersama pribumi atau noni-noni Belanda yang asyik bercengkrama. Detail lain misalnya, dan ini yang menarik perhatian saya sehingga menulis review ini, adalah adanya sepeda tiga roda; dua di depan satu di belakang di mana roda di depan lebih besar dibanding yang di belakang. Uniknya, sepeda ini adalah sepeda untuk anak – anak. Sepeda ini mereka pinjam dari kolektor benda antik di Jogja.

“Sebenarnya kami juga menemukan sepeda sejenis itu untuk orang dewasa, tapi sudah ringkih. Kolektor tak berani meminjamkan” jelas Kinoi lebih lanjut.

Contoh lain properti dalam film ini yang menunjukkan kejelian akan detail adalah perangko dan stempel yang digunakan dalam surat – menyurat pada masa itu. Selain mencari properti – properti antik sesuai jaman itu, tim kreatif film ini juga membuat beberapa properti yang agar menyerupai aslinya pada era itu. Hal itu mereka lakukan jika tak bisa menemukan properti yang mereka inginkan. Mata pena dan kertas surat yang digunakan Kartini, misalnya.

Perhatian pada detail film juga terlihat pada beberapa adegan yang dibuat semirip mungkin dengan adegan aslinya. Saat keluarga besar Kartini berfoto atau saat Kartini dan adik-adiknya; Rukmini dan Kardinah, membatik misalnya. Adegan – adegan ini dibuat mengikuti arsip foto yang mereka dapatkan dari Museum Kartini di Jepara.

Atas: adegan Kartini, Rukmini dan Kardinah membatik berusaha dibuat semirip mungkin dengan foto arsip (bawah)

Atas: adegan Kartini, Rukmini dan Kardinah membatik berusaha dibuat semirip mungkin dengan foto arsip (bawah)

Terlepas dari kontroversi ‘kenapa harus Kartini yang jadi simbol emansipasi perempuan Indonesia’, film ini menurut saya sangat layak tonton. Alur cerita mengalir tanpa patahan logika, hal yang sering terjadi pada film Indonesia. Kekuatan akting para pemerannya, baik pemeran utama atau pun pendukung layak dapat pujian. Saat menonton, coba perhatikan ekspresi dan cara Sarwadi (Chicco) dan Kartini (Rania) tersenyum. Terlihat jelas reaksi kimia di antara mereka.

Satu sosok yang tidak boleh luput dari perhatian adalah aktris senior Ayu Dyah Pasha yang memerankan ibu kandung Kartini.  Terlihat juga kematangan akting aktris kelahiran Makassar ini. Ada pula Christabelle Grace Marbun yang tampil mencuri perhatian melalui perannya sebagai Ningrum, anak Sarwadi.

Surat Cinta Kartini ini merupakan sebuah film fiksi dengan latar belakang sejarah pada Era Kartini di tahun 1900an. Film yang naskah skenarionya ditulis oleh Vera Varidia ini membalut kisah Kartini muda dengan kemasan yang lebih ringan untuk dicerna. Sutradara yang juga menggarap film Di Balik 98 dan Jokowi ini sengaja mengangkat cerita sejarah dengan kemasan fiksi, mengharapkan film ini akan membawa khazanah baru di dunia perfilman Indonesia.

Apakah Sarwadi berhasil mendapatkan cinta Kartini? Silakan saksikan sendiri film Surat Cinta Untuk Kartini yang akan tayang perdana pada 21 April, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini nanti.

*baca juga catatan saya tentang film lain di tautan ini

Related Posts

About The Author

2 Comments

Add Comment