Status Terumbu Karang Makassar dan Poros Maritim

ISLA - Status Terumbu Karang

Makassar, dikenal sebagai ruang budaya maritim, sejak kuasa kerajaan Gowa pada abad ke-17 hingga menjadi simpul pengembangan Ilmu Kelautan sejak berdirinya Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin pada tahun 1988. Sayangnya, ancaman dan degradari lingkungan di pesisir dan laut semakin tak terbendung seiring jumlah penduduk yang semakin bertambah dari tahun ke tahun.

 

Dalam konferensi pers membahas Status Terumbu Karang dan Harapan Kota Makassar dan Harapan Menuju Poros Maritim Dunia yang menghadirkan 3 (tiga) narawicara; Dr. Syafyudin Yusuf, ST, M.Si peneliti karang dan dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas, Cahyadi Rasyid, staf Departemen Kelautan dan Perikanan Pangkep/alumni Ilmu Kelautan Unhas, dan Rizal, Ketua Marine Science Diving Club (MSDC) Unhas terungkap banyak hal dalam masalah kelautan dan pesisir kita.

Terbatasnya kapasitas dalam pemanfaatan hasil laut dan semakin tingginya tingkat kebutuhan ekonomi warga menjadi pemicu eksploitasi yang semakin hebat di pesisir dan pulau-pulau. Sebagian nelayan menggunakan alat tangkap dilarang seperti bom dan sianida (bius ikan). Ini bisa dilihat dari masih ditemukannya terumbu karang yang terbongkar karena hantaman bom ikan. Demikian pula karang-karang yang memutih lalu mati karena penggunaan bius ikan dan lobster.

Mengapa terumbu karang menjadi penting bagi kehidupan kita? Sebab terumbu karang adalah ekosistem laut vital, rumah ikan, tempat pembesaran sekaligus indikator kesehatan lingkungan. Dia juga wahana sosial dan ekonomi masyarakat. Darinya, komunitas nelayan terbentuk, bertahan dan mengembangkan kehidupannya. Kerusakan terumbu karang berarti suramnya masa depan warga pesisir dan pulau-pulau di Makassar dan Indonesia secara umum.

ISLA - Ekosistem Terumbu Karang

Kerusakan terumbu karang menyebabkan nelayan semakin  sulit mendapatkan ikan. —Daerah penangkapan pun makin jauh dan mengakibatkan biaya melaut makin tinggi. Biaya melaut yang tinggi membuat nelayan terbelit hutang  untuk melaut. Nasib nelayan pun semakin sulit karena harga ikan  yang tidak menentu dan harus bersaing dengan pasokan ikan dari nelayan besar. Belum lagi masalah cuaca buruk selama perubahan iklim.

Pada tahun 1996, peneliti Unhas, J. Jompa mencatat adanya pengurangan tingkat penutupan karang hidup dan keragaman jenis (diversity) sebanyak 20% dalam kurun waktu 12 tahun dibandingkan dengan yang pernah dicatat oleh Moll (1983). COREMAP (2010) melansir kondisi terumbu karang di Kota Makassar masuk kategori sedang degan rata-rata persentase tutupan karang hidup 43,17% dan pada kedalaman 10 meter sebesar 25,83%.

Data satelit Landsat_TM menunjukkan tingkat kerusakan terumbu karang di Kepulauan Spermonde, termasuk pulau-pulau di Makassar, dalam kurun waktu 5 tahun terakhir mencapai 1.499,86 Ha atau sekitar 299,97 ha/tahun. Ikatan Sarjana Kelautan (ISLA) pada 2013, mencatat penurunan jumlah tutupan karang hidup yang signifikan di masing-masing pulau di Makassar dimana tutupan karang hidup di 11 pulau Makassar antara 21% hingga 37% atau kalau dirata-rata hanya 29%. Ini berarti medium hidup bagi ikan-ikan ekonomis sangat terbatas dan kian berkurang.

Konfrensi pers yang diadakan oleh Ikatan Sarjana Kelautan Unhas dan MSCD Unhas ini dipaparkan penyeba-penyebab kerusakan terumbu karang terbagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu; (1) faktor alam dan (2) Faktor manusia serta (3) Gabungan dari keduanya. Beberapa penyebab kerusakan itu antara lain; pemboman ikan,  pembiusan, buang jangkar sembarangan, sedimentasi,  eksploitasi pasir,  jaring, predator laut,  bleaching, dll.  

5 Langkah Antisipasi:

1.Perlu dukungan kebijakan  dan perlindungan kawasan pesisir dan laut  dari Pemerintah Kota Makassar (misalnya penetapan wilayah konservasi, misalnya untuk Samalona dan Kodingareng Keke).

2.Perlu peningkatan kapasitas nelayan di Kota Makassar sehingga tak lagi  harus melakukan migrasi ke wilayah lain seperti ke Maluku dan Papua serta Kalimantan.

3.Penyadaran dan penegakan hukum di wilayah pesisir dan laut, melalui pendidikan  lingkungan, patroli, sanksi tegas bagi pelanggar atau pembahwa bahan peledak atau bius karena selama ini efek jera belum ada.

4.Memutus mata rantai bahan illegal seperti bahan/pupuk bom ikan dan sianida di pelabuhan-pelabuhan dan wilayah-wilayah strategis dengan mendorong otoritas terkait seperti Kepolisian. Angkatan Laut dan kepabeanan untuk mengontrol dan mengawasi peredaran bahan ilegal tersebut.

5.Pelibatan masyarakat sipil, komunitas-komunitas, dan universitas untuk mendukung pengelolaan sumber daya pesisir dan laut secara seimbang di Kota Makassar.

ISLA - Kompleksitas Permasalah Di Wilayah Pesisir dan Laut

Mencermati ide Poros Maritim Dunia a la Presiden Jokowi maka mahasiswa Kelautan Unhas yang tergabung dalam Marine Science Diving Club (MSDC), Ikatan Sarjana Kelautan (ISLA) Unhas serta Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia mengajukan tesis bahwa jika kondisi ini terus belangsung dan dibiarkan maka ide poros maritim tersebut hanyalah bualan dan jualan politik belaka. Sebab sumber daya laut telah kian menipis dan terancam.

Yang diperlukan adalah perlindungan, pengelolaan dan perlindungan hukum pada kekayaan biodiversitas sumber daya pesisir dan laut di Kota Makassar dan sekitarnya, bukan semata eksploitasi dan pembangunan infrastruktur maritim, reklamasi, ide perhubungan atau tol laut seperti yang digembar-gemborkan rejim Jokowi.

Untuk apa bicara poros Maritim Dunia jika terumbu karang, sebagai rumah ikan dan masa depan warga pesisir dan pulau-pulau Kota Makassar dan sekitarnya telah rusak? JIka Pemerintah dan pihak terkait tak mengambil langkah-langkah taktis dan strategis saat ini maka 10-20 tahun ke depan, luasan terumbu karang hidup Kota Makassar hanya akan tersisa 5-10% saja. Ini berarti akan semakin banyak warga di pesisir dan pulau-pulau Makassar kehilangan mata pencaharian karena kompetisi yang semakin hebat.

Related Posts

About The Author

Add Comment