Spermonde: Ada Eda di Barrang Lompo

Pulau Barrang Lompo ini bisa menjadi pilihan rekreasi bagi warga Makassar. Sarana transportasi reguler sudah tersedia, fasilitas umum juga cukup memadai.

Tangan Tuhan ada di mana-mana, hadir dalam wujud teman. Saya meyakini hal itu sejak jaman kuliah.  Terkadang, saya menginap di kampus selama seminggu tanpa uang sesen pun tapi masih bisa makan dan merokok. Semua berkat pengejawantahan tangan Tuhan berupa teman. Mereka hadir menawarkan pertolongan, entah melalui traktiran tulus atau bermotif curhat, juga tawaran kerjaan lepas yang menghasilkan uang.

Begitu pun dengan surga, Tuhan menaburkannya di mana-mana. Tinggal bagaimana kita menjelajahi bumi ciptaannya. Tak perlu menjadi kaya untuk bisa mencari surga-surga itu. Cukup dengan memperbanyak teman, lalu keberuntungan pun akan selalu menyertai.  Saya sangat beruntung bisa menginjakkan kaki pada beberapa surga yang ada di Pulau Sulawesi. November 2011 saya berkesempatan menikmati Takabonerate, tanpa mengeluarkan biaya alias gratis.

Awalnya, saya tak terpilih mewakili Anging Mammiri sebagai peserta melalui mekanisme yang sudah ditentukan komunitas. Saat itu, harapan untuk menikmati keindahan laut Spermonde melalui kegiatan Press Tour and Marine Excursion itu pun sirna. Padahal keinginan tuk mengikuti kegiatan yang digagas oleh Dinas Budaya dan Pariwisata Sulsel dan Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia Sulsel ini sangat besar. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan keindahan deretan gugusan kepulauan Spermonde dengan mengundang jurnalis media cetak dan televisi serta blogger dalam hal ini Komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri.

Keberuntungan  kembali menaungi. Seorang teman mengirimi saya sms menanyakan kesediaan ikut menjadi peserta Press Tour and Marine Excursion di gugusan Kepulauan Spermonde yang digelar 18 – 20 Mei. Saya diminta menggantikan teman untuk mewakili Koshmedia tama, perusahaan yang menjadi rekanan DisBudPar Sulsel.

Sore, sekira pukul 15:30 bersama Ipul Dg Gassing, Mamie Lily, dan Iqko Beruang yang mewakili Anging Mammiri, saya dan Mustamar dari Koshmediatama tiba di Pelabuhan Kayangan yang berada tepat di depan Benteng Rotterdam. Kapal Muat Penumpang (KMP) Novita Sari sudah menunggu kami. Pukul 16:21 Novita Sari membawa 31 peserta dan belasan instruktur diving beserta kru. Kapal berkapasitas 100 orang ini sehari-harinya adalah kapal penumpang reguler rute Makassar – Pulau Barrang Lompo dan pulau sekitarnya.

Pulau Samalona adalah tujuan pertama kami. Pulau yang berpenghuni tujuh KK ini adalah salah satu pulau dari 130an pulau yang termasuk dalam gugusan Kepulauan Spermonde yang membentang dari Kab. Takalar hingga Pare-Pare ini. Samalona adalah pulau yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Perjalanan hanya membutuhkan waktu sekira 30 menit dengan speed boat.

Baca Juga: 5 Taman Nasional Laut di Pulau Sulawesi Yang Harus Kamu Kunjungi

Novita Sari tak bersandar di dermaga, kami hanya melakukan sight seeing di pulau yg juga sering dikunjungi oleh para penyelam untuk snorkling dan diving ini. Pantai pasir putih dan biota laut menjadi daya tarik yang memikat untuk berkunjung ke pulau ini. Selain keindahan laut dan karang-karangnya, pulau ini juga menyimpan bukti sejarah. Di perairan Pulau Samalona, kita dapat menemukan jejak jejak kapal perang sisa peninggalan pada Perang Dunia II.

Setelah puas memandangi Samalona dari atas kapal, perjalanan kami berlanjut menuju Pulau Barrang Lompo yang berjarak 13 km dari Makassar dan dapat ditempuh dengan transportasi reguler dengan kapal motor, biayanya Rp. 10.000,- per orang sekali jalan.  Menjelang magrib kami tiba di dermaga Barrang Lompo. Pulau yang termasuk wilayah Kecamatan Ujung Tanah, Makassar ini menjadi pilihan bersandar untuk makan malam rombongan, juga untuk menunggu ombak dan angin reda.

Saya, Iqko dan Mus kemudian memilih mengitari pulau yang berpenghuni  4000an jiwa ini. Kami menyusuri jalan setapak yang terbuat dari paving block. Belum berapa jauh perjalanan, kami sudah menjumpai setidaknya lima motor baru tanpa plat. Indikasi tingkat kesejahteraan masyarakat pulau Barrang Lompo dapat terlihat jelas. Belum lagi bentuk rumah-rumah penduduk yang kami lalui memberi gambaran bahwa sebagian besar penduduk pulau seluas 19 ha ini tergolong sejahtera.

Kami juga menjumpai  setidaknya tiga arena bilyard. Tempat berkumpul anak muda ini biasanya berbentuk tanah kosong yang diberi dinding dari tenda warung atau bekas spanduk dan baliho dengan satu atau dua meja bilyar. Tak hanya usia remaja yang terlihat bermain, tapi juga usia sekolah dasar.

Salah satu sarana tempat berkumpul anak muda terbaru di pulau ini adalah hadirnya kafe. Setidaknya ada dua kafe; Kafe Ona dan Kafe Eda. Kafe Ona ini hanyalah sebuah tempat makan biasa yang dibuka di teras salah satu rumah penduduk. Malam itu kafe ini tutup, hanya spanduk yang berisi daftar menu yang menjadi penanda tempat ini adalah kafe.

Kafe lainnya adalah Kafe Eda. Tempat kumpul anak muda ini tergolong baru, buka pada februari 2012. Adalah Sahabuddin, seorang penduduk asli pulau Barrang Lompo yang mencoba peruntungan dengan memanfaatkan lahan seluas 10×15 meter kepunyaannya. Kini, lelaki yang masih melanjutkan pekerjaannya sebagai pedagang minyak dan garam ini bisa mendapatkan keuntungan berkisar Rp. 75.000,- hingga Rp. 200.000,- setiap malam.

“Kalau malam biasa, pemasukannya seratus lima puluh ribu, paling ramai kalo malam minggu. Sampai empat ratus ribu. Nah untungnya, setengah dari pemasukan.” Ungkap lelaki yang berusia 42 tahun ini. Bisa dibayangkan bagamaimana ramainya pengunjung kafe yang biasa dilayani oleh Eda, putri Sahabuddin. Secara berkelakar,  kami menduga salah satu daya tarik kafe ini adalah gadis manis bernama Eda itu.

Beralas pasir putih dan berdinding baliho dan spanduk bekas, kafe ini mengarah tepat ke laut arah barat. Saya membayangkan lanskap yang menyajikan pemandangan senja yang menarik. Tentu menyenangkan jika duduk bermalas-malasan di kafe ini sembari membaca buku dan ditemani segelas teh hangat, menunggu terbenamnya matahari. Sayang, kami tiba di sini pada malam hari.

Pulau Barrang Lompo ini bisa menjadi salah satu pilihan rekreasi bagi warga Makassar atau luar daerah. Selain sarana transportasi reguler sudah tersedia, fasilitas umum juga sudah cukup memadai. Untuk akomodasi, pengunjung bisa memanfaatkan penginapan milik “Marine Field Stasiun Universitas Hasanuddin”. Bisa juga menyewa kamar yang disediakan H. Daring, pemilik Novita Sari. Untuk semalam, ia menawarkan Rp. 50.000 per kamar yang bisa ditempati hingga empat orang.

Beberapa spot di perairan pulau Barrang Lompo ini menarik bagi pecinta bawah laut. Sekitar dermaga adalah salah satu titik snorkling dengan kehidupan ikan dan karang yang masih terjaga meski pada beberapa titik karang-karang sudah hancur akibat penjarahan yang tidak ramah lingkungan. Selain pemandangan bawah laut, pulau ini juga menawarkan wisata sejarah dan budaya berupa makam-makam tua dari abad ke XIX.

Selepas menyantap makan malam di Kafe Eda, kami memutuskan untuk kembali ke dermaga dan naik ke Novita Sari. Menjelang pukul 00:00, angin dan ombak sudah mulai reda. Dan, kami siap untuk petualangan yang lebih seru…

Related Posts

About The Author

16 Comments

Add Comment