Sonya Depari, Cermin Diri Kita Sehari – Hari

Beberapa hari lalu, tepatnya di sebuah tengah malam di mana saya tak bisa tidur seperti biasa, sebuah nama melintas di timeline twitter saya. Nama itu muncul disertai olokan dari seorang following saya di twitter. Sonya Depari, nama itu.

Naluri kepo saya muncul. Sembari menunggu kantuk, saya meluncur dan berselancar pada beberapa media sosial dengan kata kunci Sonya Depari. Saya menemukan satu video yang diunggah di mana ada seorang anak perempuan SMA yang membentak seorang polisi wanita yang menahan mobil yang ia tumpangi bersama beberapa temannya.

Anak perempuan itu, Sonya Depari, bersama teman – temannya sedang berkonvoi merayakan kegembiraan setelah mengikuti Ujian Nasional. Hal itu terlihat dari pakaian seragam SMA mereka yang penuh coretan warna – warni. Pemandangan ini, rombongan anak – anak berseragam SMA penuh coretan lalu lalang di jalan raya, sebenarnya bukan hal baru bagi kita. Setiap tahun kita menyaksikannya. Mungkin pula, kita juga melakukannya sewaktu seusia mereka.

Yang membuat nama Sonya Depari tiba – tiba jadi perbincangan kita, di media sosial, grup – grup obrolan hingga kedai kopi, adalah karena ia memberikan respon yang berbeda saat petugas polisi menahan kendaraan yang ia tumpangi. Darah mudanya menggelegak, ia melawan dan protes kenapa hanya mobil mereka yang ditahan sementara ada mobil lain yang dibiarkan lewat begitu saja.

Sonya kemudian mengaku sebagai anak seorang jenderal dan membentak “kutandai kau yah!” disertai ancaman untuk menurunkan jabatan pada polwan yang menahannya. Ia mencatut nama Arman Depari, Deputi Penindakan BNN yang ia akui sebagai ayahnya. Berbekal nama itulah ia mengancam polisi yang menahannya. Polisi sendiri menahan mobil yang ia tumpangi karena kelebihan kapasitas. Mobil sedan hitam yang ia tumpangi seharusnya hanya untuk 5 – 6 orang sementara dalam mobil itu ada 7 (tujuh) orang.

Saat kejadian, Sonya tentu lupa bahwa apa yang ia lakukan bisa saja tersebar begitu cepat di kanal maya. Arman Depari, begitu tahu namanya dicatut, pun mengeluarkan pernyataan bahwa ia tak punya anak perempuan. Ketiga anak lelakinya pun berada di Jakarta, bukan di Medan. Sial bagi Sonya. Ia menjadi bulan – bulanan netizen yang menjadikan merisak (bullying) sebagai hobi baru seiring hadirnya media sosial.

Melalui media sosial pula, video itu kemudian menyebar begitu cepat dan menuai begitu banyak respon. Saya sendiri memilih untuk menutup gawai yang saya pegang begitu membaca respon – respon netizen di akun Instagram Sonya Depari. Sebagian besar, mencaci maki apa yang dilakukannya. Tak semua memang, ada juga yang mencoba melihatnya dengan lebih bijak, namun yang merisaknya jauh lebih banyak.

Saya sebenarnya enggan ikutan latah membahasnya. Namun, ketika kasus ini muncul dalam salah satu grup percakapan yang saya ikuti, saya jadi membayangkan berada pada posisi gadis manis berkulit putih itu. Tentu tak mudah menghadapi begitu banyak cercaan untuk sebuah kesalahan yang ia lakukan. Apalagi, pada usia seperti dia yang baru tamat SMA. Saya mungkin tak akan kuat menghadapinya. Untunglah, masa – masa labil saya lewati tanpa adanya media sosial yang seperti sekarang.

Media sosial menjadikan dunia semakin sempit seperti apa yang pernah ditulis Yasraf Amir Pilliang dalam bukunya ‘Sebuah Dunia Yang Dilipat’. Apa yang terjadi di belahan dunia lain tak butuh waktu lama, bisa hanya dalam hitungan detik atau menit, dan semua orang di belahan dunia lainnya jadi tahu. Kita jadi terikat satu sama lain meski secara personal mungkin kita tak punya kaitan dengan mereka.

Melalui media sosial, gadis manis bernama lengkap Sonya Ekarina Sembiring Depari ini sudah mendapat hukuman setimpal. Mungkin malah melebihi kesalahan yang ia perbuat. Ayahnya, Makmur Sembiring Depari, bahkan menjadi korban dari apa yang anaknya perbuat. Tak tahan melihat berbagai risakan pada anaknya, Makmur terserang stroke dan akhirnya meninggal dunia.

Tindakan polwan yang menahan Sonya, menurut saya perlu mendapat apresiasi, saya tak melihat aura ketakutan saat ia mendapat ancaman. Polwan itu melepaskan Sonya dan kawan – kawan bukan karena takut tapi karena lebih memahami situasi dan kondisi psikologis Sonya. Di video terlihat polwan itu tersenyum sembari meminta anak – anak SMA itu tenang dengan menempelkan telunjuk di bibir. Polresta Medan sendiri sudah menghentikan kasus ini karena berempati pada keluarga Sonya.

Kapolresta Medan Komisaris Besar Mardiaz Kusin Dwihananto, juga mengatakan memaklumi. “kasus pencatutan nama yang terjadi seperti ini sebenarnya tidak bermasalah bagi Polisi, karena publik akan menilai sendiri.” Ungkapnya di sebuah media.

Saya sendiri tidak membenarkan apa yang dilakukan Sonya, apa yang ia lakukan adalah respon berlebihan. Membentak aparat tentu bukan tindakan bijak bukan? Apalagi sampai mencatut nama petinggi dan melontarkan ancaman. Saya hanya tidak mau melakukan penghakiman tanpa tahu apa alasan dan bagaimana kejadian sebenarnya yang ia alami. Pun, tak ada alasan bagi saya untuk ikut – ikutan merisaknya seolah – olah saya jauh lebih baik dari seorang anak labil yang baru akan beranjak dewasa. Menyalahkan Sonya, dan latah mencaci makinya apalagi dengan bangga latah merisaknya, tanpa menelisik lebih jauh menurut saya tidak akan membuat kita lebih baik dan benar dibanding dia.

Sejatinya, Sonya Depari adalah cerminan kita sehari – hari. Bukankah, sebagian besar besar dari kita pernah mencatut nama seseorang, entah kita kenal atau memang kerabat, untuk memudahkan urusan kita di negara yang memiliki birokrasi sangat ribet ini? Ada berapa banyak di antara kita yang tiba – tiba merasa dekat dengan seorang petinggi di kepolisian lalu menyebut dan menelpon mereka saat kena tilang? Anda tidak termasuk? Selamat!

Sayangnya, saat bercermin dan mendapati jerawat atau bopeng di wajah kita, respon kita biasanya malah langsung menyalahkan cermin. Alih – alih memeriksa wajah, kita justru segera berusaha mengelap dan membersihkan cermin itu. Kita menolak mengakui jerawat dan bopeng di wajah kita dan berpikir ‘jangan – jangan ada kotoran atau debu yang menempel di cermin dan itu harus segera dibersihkan’. Seperti itulah perilaku, sebagian besar, dari kita di media sosial.

Pernahkah kita bertanya: apa yang membuat Sonya melakukan itu? Tidakkah ia hanya meniru apa yang kita, sebagai orang dewasa, sering lakukan? Seberapa banyak dari kita yang sudah menyadari betapa banyak tayangan televisi yang membawa dampak buruk pada anak kita tapi kita tak berusaha menemani mereka menonton?

Mari berkaca pada kasus Sonya. Semoga kita, setelahnya, mau berusaha dan mampu menghilangkan jerawat dan bopeng di wajah kita dan bukannya malah memecahkan cermin.

Related Posts

About The Author

9 Comments

Add Comment