Somba Opu Tonjolkan Wisata Pendidikan

“Orientasi proyek harus pada arkeologi.”
MAKASSAR — Pemerintah berharap konsep pembangunan Somba Opu berbasis wisata pendidikan budaya. Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Aurora Tambunan mengatakan pemerintah daerah dan investor harus bisa memanfaatkan kondisi Benteng Somba Opu tanpa memunculkan arsitektur yang lebih mendominasi dari situs budaya.
“Nilai arsitekturnya harus bisa menambah nilai kawasan (Somba Opu),” kata Aurora saat dihubungi di Jakarta kemarin. “Kami tidak mau membuat sesuatu yang merusak dan mendominasi secara arsitektur.”
Aurora ia tak menolak pembuatan wahana burung dan wahana tree top atau outbound. Namun, mengenai wahana water boom dan taman gajah, ia mengaku belum melihat desainnya. “Tapi konsepnya seperti enggak nyambung banget dengan konsep awal,” kata dia.
Menurut dia, Somba Opu harus didesain dengan menonjolkan kejayaan Kerajaan Gowa. Investor yang kreatif, pasti mampu membuat kawasan itu sebagai kawasan hiburan dan pendidikan. “Orientasinya tetap harus arkeologi karena Somba Opu adalah cagar budaya”ujarnya.
Karena itu, ia meminta Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan meneliti situs dan mengangkat ke permukaan. Balai Pelestarian Purbakala Makassar juga diminta menggali dan membukanya pada 2011.
Permintaan itu disampaikannya saat Kepala Balai Pelestarian Muhammad Said dan Kepala Dinas Syuaib Malombassi bertemu dengan Aurora di Jakarta kemarin. Pertemuan itu juga membahas soal penolakan terhadap proyek Gowa Discovery Park menyusul dugaan kerusakan situs sebagai dampak proyek tersebut.
Menurut Said, proyek yang sudah berjalan tak boleh terbengkalai karena benteng akan semakin kotor. Pemerintah juga memberikan kesempatan kepada tim gubernur mengevaluasi proyek tersebut.
Said juga menunjukkan hasil temuan perusakan situs itu. Kondisi benteng setelah dibangun proyek disimpulkan masuk kategori rusak. “Tindakan perusakan harus diperiksa polisi,”kata Said.
Aurora meminta dinas tata ruang bersinergi dengan Balai Pelestarian guna menentukan zonasi wilayah. Dinas juga tak perlu memunculkan istilah mengambil alih dengan memberi tenggat sepekan. Kesannya tak ada sinergi, kata Aurora. PURWANTO | ARISTOFANI FAHMI
sumber http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2010/12/22/Makassar/krn.20101222.221735.id.html

Related Posts

About The Author

Add Comment