SMPN 1 Palangga Gowa: Mengubah Sekolah Terjorok Menjadi Sekolah Adiwiyata

Kali ini saya ingin bercerita tentang sebuah sekolah yang membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Iya, bukan hanya makhluk halus bernama perempuan yang bisa membuat seseorang jatuh cinta pada pandangan pertama. Sekolah pun bisa!

Dua pekan lebih dalam Oktober ini saya berkesempatan mengunjungi beberapa sekolah di 4 (empat) kabupaten di Sulawesi – Selatan. Adapun kabupaten itu yaitu; Jeneponto, Barru, Wajo dan Gowa. Tiga kabupaten pertama yang sebutkan adalah tiga kabupaten target program Prima Pendidikan dimana saya pernah bekerja sebagai Research Assistant. Gowa kami pilih sebagai kabupaten pembanding dari tiga kabupaten target tersebut.

Saat melihat mobil kami, seorang satpam sekolah membuka pagar gerbang sekolah. Tampak 5 (lima) murid lelaki berseragam putih abu-abu bergegas menuju pagar mencoba masuk. Sepertinya mereka telat datang ke sekolah lalu memanfaatkan celah ketika kami datang. Namun bukan itu yang membuat saya jatuh cinta :p

Adalah apa yang saya lihat ketika berada di dalam sekolah itu yang membuat saya jatuh cinta. Sepanjang jalan dari pintu gerbang hingga ke bagian belakang sekolah ini teduh karena dipayungi oleh rerimbun pepohonan. Saat menginjakkan kaki di selasar menuju ruangan kelas dan kantor kepala sekolah, saya jadi teringat pada sekolah saya dulu, SMIP Sandhy Putra, utamanya bagian toiletnya.

Toilet SMA kami dulu sangat bersih, mengkilap seperti lantai hotel, karena kami rajin mengepelnya. Tunggu dulu, jangan mengira kami rajin karena kesadaran kami akan kebersihan. Kami rajin mengepel toilet ini karena ini bentuk hukuman bagi kami jika melanggar. Biasanya sih karena terlambat atau bolos dari apel pagi yang tiap hari diadakan sekolah kami sebelum belajar. Selain itu, toilet sekolah ini adalah tempat favorit kami jika membolos, tentu saja kami suka melihatnya jika tetap bersih mengkilap.

Kembali ke selasar SMPN 1 Pallangga, sekolah ini jauh lebih bersih dan indah dibanding sekolah saya, selain bersih mengkilap juga dipenuhi oleh aneka tanaman dan bebungaan yang tumbuh di pot. Ada yang ditanam dalam pot dan diletakkan di depan selasar. Ada pula yang tergantung dengan wadah pot. Terlihat beberapa siswi duduk di selasar depan kelas. Mereka sedang belajar di luar kelas.

Tiga tahun lalu sekolah ini disebut sebagai sekolah terjorok. “Dulu Kantin Kejujuran kami letakkan di halaman tengah sekolah dan siswa membuang sampah sembarangan. Jadilah kami digelari sekolah terjorok saat itu” ungkap Mas’ud Kasim, S.Pd, M.Pd, kepala sekolah SMPN 1 Pallangga. Sebelum memimpin sekolah ini, Pak Mas’ud menjabat kepala sekolah di beberapa SMP di Gowa.

“Sekolah ini dipercantik sejak Pak Mas’ud memimpin di sini”, tutur Nursiah, salah satu guru. Apa yang dilakukan oleh sekolah ini dalam mengubah dari sekolah terjorok menjadi sekolah yang cantik? Pertama, Pak Mas’ud menanamkan kepada seluruh elemen sekolah; staf, guru dan siswa, bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama. Awalnya, Kepala Sekolah membuat aturan siapapun yang membuag satu sampah harus memungut 10 sampah. Dari aturan ini, akhirnya kesadaran akan kebersihan tumbuh. Tanpa bujang atau petugas kebersihan, sekolah ini bisa lolos di tingkat propinsi mewakili Sulawesi – Selatan dalam penghargaan Adiwiyata Mandiri tingkat nasional.

Sebuah prestasi membanggakan mengingat mereka hanya butuh 3 (tiga) tahun untuk mengubah gelar sekolah terjorok menjadi sekolah yang dipercaya mengikuti penghargaan yang diberikan kepada sekolah-sekolah yang dinilai berhasil mendidik siswa menjadi individu yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Adapun penilaian Adiwiyata Mandiri didasarkan pada 4 (empat) kriteria, yakni; pengembangan kebijakan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan, pengembangan kurikulum berbasis lingkungan, pengembangan kegiatan berbasis partisipatif, dan pengelolaan dan pengembangan sarana pendukung sekolah.

(bersambung)

Related Posts

About The Author

Add Comment