Simposium Pengorganisasian Rakyat

Presenter Hari Kedua Simposium Rakyat

 

8. Komunitas Sehati Makassar (KSM)

 Mulai menjadi organisasi resmi pada tahun 2007. Organisasi ini menjadi salah satu dari 14 lembaga yang menjadi pembicara pada SIMPOSIUM PENGORGANISASIAN RAKYAT, 11-12 April 2018

Tidak mudah untuk memperjuangkan issu HAM bagi komunitas LGBT.

Organisasi ini sadar betul, keberadaan komunitas LGBT sendiri tidak bisa diterima banyak orang. Intimidasi, cercaan bahkan diskriminasi adalah hal yang biasa mereka terima. Meski telah bertahun-tahun menjadi organisasi, jangan harap dapat menemukan plang nama organisasi ini. Berkali-kali mereka pindah kantor. Tetap saja tanpa ada plang nama.

Karena itu, untuk soal berorganisasi secara senyap dengan kontrol tinggi adalah keunggulan organisasi ini. Terbiasa terintimidasi dan bekerja dalam kelompok kecil yang efektif dan mandiri adalah point penting bagaimana organisasi ini bekerja melakukan pengorganisasian.

Itu hanya salah satu cara.

Ada banyak pembelajaran dan pengalaman menarik yang dapat dipetik dari pengalaman pengorganisasian yang dilakukan KSM. Bagaimana penghapusan stigma, diskriminasi diperjuangkan disatu sisi, dan HAM di sisi lain, dengan pengorganisasian yang sungguh-sungguh tanpa gegap gempita!

 

9. Komunitas Sahabat Alam

Penat dan tidak menemukannya di ruang-ruang kuliah, mereka mencoba mencari bentuk dari teori-teori itu langsung di lapangan; Belajar dan Bekerja langsung di tengah rakyat!

Demikianlah sekitar 3 tahun yang lalu, Komunitas Sahabat Alam (Kosalam) akhirnya dibentuk, dengan satu pilihan pada aras perjuangan yang tegas: Pendidikan dan Pengoorganisasian Anak muda Desa dan Keluarga Petani.

Maka lihatlah energi anak-anak muda itu. Ratusan hektar lahan perumahan milik developer perumahan yang sementara menganggur, mereka pinjam, mereka kelola sebagian. Di lahan itu, mereka belajar banyak tentang membangun usaha mandiri! Menanam jagung, menanam sayuran, menanam pakan ternak, serta pengelolaan sumber keuangan dalam bentuk Koperasi Pemuda yang saat ini sudah mampu memberikan kredit kepada petani-petani yang membutuhkan!

Kosalam terus berproses! belajar, bertindak dan berbuat!

 

10. PerDIK

PerDIK berbagi pengalaman pengorganisasian difabel dalam SIMPOSIUM PENGORGANISASIAN RAKYAT. Tak banyak pengorganisir rakyat mengurusi kehidupan difabel. Siapa itu difabel?

Jika anda tak mengenal istilah itu, mungkin anda mengenal istilah lain yang lebih mainstream, orang-orang cacat. Siapa di antara pengorganisir rakyat saat ini yang mau mendalami isu mereka dan memikirkan jalan keluarnya. Dalam banyak kasus, isu ini tak menjadi perhatian para pengorganisir rakyat. Untuk itu, difabel akhirnya memilih bergerak dengan kekuatan dirinya sendiri.

Difabel memiliki sejarah panjang stigmatisasi yang berimplikasi pada diskriminasi di seluruh sektor penghidupan masyarakat. Mulai dari penyematan beragam label yang menandakan mereka sebagai orang sakit dan tidak normal, cap miring yang mengiringi label tersebut, sampai pada pemisahan ruang aktivitas mereka yang berbasis cara padang kenormalan. Orang-orang ini, selain dianggap sakit dan tidak mampu, juga dikategorisasi sebagai abnormal.

Difabel berupaya melawannya dengan melakukan destigmatisasi dan demedikalisasi baik dalam ranah pemikiran maupun kontestasi dalam kehidupan sehari-hari.

PerDIK, salah satu organisasi yang dijalankan oleh aktivis difabel di Sulawesi Selatan yang berdiri awal 2016 lalu. Organisasi gerakan ini sudah menunjukkan sejumlah tindakan yang berupaya meruntuhkan kemapanan cara pandang ‘medik’ dalam memandang difabel. Difabel bukan orang sakit, bukan pula orang tidak mampu yang hidup tanpa harapan cerah. Mereka pun bergerak mengorganisir satu demi satu difabel yang mereka temui. Tak jarang, aktivis difabel menemui orang-orang yang [baru] menjadi difabel dan menjelaskan bahwa menjadi difabel bukan akhir kehidupannya.

Mereka membekali ‘kawan setara’ ini dengan beragam keterampilan teknis yang memungkinkannya bisa mandiri sebagai difabel dan melepaskan diri dari cengkaraman cara berpikir yang ‘mencacatkan’ mereka. Tetapi sikap orang tua yang protektif terhadap anggota keluarga difabel karena khawatir maupun penolakan mereka pada upaya aktivis difabel karena menganggap disabilitas sebagai aib keluarga, juga terjadi.

Saat ini, capaian mereka bersama PerDIK belum seberapa dan lagi pula, mereka tak selamanya berhasil dalam upaya kerja pengorganisasian. Masih banyak hal yang mesti dibenahi secara keorganisasian maupun kapasitas individual anggotanya.

Dalam simposium Pengorganisasian rakyat oleh Komunitas ININNAWA ini, mereka akan turut berbagi pengalaman soal apa yang sudah dan masih akan dilakukan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat difabel.

Mari simak diskusi pengorganisasian rakyat yang spesial ini!

 

11. KOMUNITAS PEJUANG KOPI ARABIKA KALOSI ENREKANG

Memperjuangkan Tegaknya Kedaulatan Rakyat atas Kopi!

“Jika anda bosan dengan rasa kopi berkarat dari ‘kemasan kopi sobek’ yang selama ini anda konsumsi, mari hadiri simposium pengorganisasian rakyat. Di sini, selain mendiskusikan soal ‘kerja pengorganisasian’ nanti kami akan sajikan bercangkir-cangkir kopi terbaik dari Enrekang.”

Salah satu peserta ‘Simposium Pengorganisasian Rakyat’ yang diselenggarakan bersama di Pusat Belajar Komunitas ININNAWA adalah KPK – AKE. Komunitas Pejuang Kopi Arabika Kalosi Enrekang merupakan organisasi yang berusaha menegakkan kedaulatan rakyat atas kopi. Selama ini, korporasi internasional telah menguasai pasar kopi di Enrekang – Toraja dan wilayah-wilayah lain di seluruh Indonesia yang memiliki kualitas kopi terbaik. Monopoli perdagangan kopi telah menempatkan petani kopi dan pekerja perkopian di skala lokal menerima keuntungan paling sedikit dari keseluruhan mata rantai pemasaran kopi global. Untuk itu, berhimpun dan mengorganisir diri untuk melawan dominasi ini menjadi pilihan yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Cikal bakal terbentuknya komunitas ini telah lama diperbincangkan oleh para pelaku kopi di Kab. Enrekang. Sebuah momen, yakni Festival Kopi Massenrempulu 2017, kemudian memacu semangat pelaku kopi membentuk wadah perkopian di Enrekang. Wadah ini nantinya akan dipakai untuk menggerakkan kerja-kerja pengorganisasian rakyat, khususnya petani kopi. Kerja pengorganisasian ini merupakan kerja bersama yang melibatkan selain Petani adalah juga termasuk Penyuluh, Pungusaha, Pemilik Kedai Kopi/Cafe, Roastery, hingga Barista. Komunitas ini disepakati berdiri secara resmi di awal 2018.

Sejauh ini, kami sudah membahas soal gagasan penyeragaman harga ‘kopi beras’ yang diproduksi dari lima kecamatan dalam wilayah Indikasi Geografis Kopi Arabika Kalosi Enrekang meliputi Baraka, Baroko, Bungin, Buntu Batu, dan Masalle. Sementara itu gagasan yang diusung dalam peningkatan mutu kopi adalah mengadakan praktik lapang proses pascapanen yang akan diadakan menjelang panen raya, Mei nanti. Selain itu, melihat perkembangan pasar perkopian di Indonesia [telah] memotivasi para petani dalam mengolah kopi lebih baik lagi. Dengan meningkatakan jumlah produksi dan mutu kopi Arabika Kalosi Enrekang, diharapkan dapat membentuk sistem pemasaran satu pintu melalui perantara Komunitas ini.

Pendekatan KPK-AKE dalam membangun kedaulatan kopi di Enrekang adalah membangun kedekatan dan melibatkan pihak-pihak yang konsern pada isu dan kerja perkopian di wilayah-wilayah di atas. Hal ini didukung pula dengan bergabungnya penyuluh perkebunan kopi dalam komunitas sehingga permasalahan yang ditemukan di tahapan budidaya maupun pasca panen dapat didiskusikan langsung dalam forum komunitas.

Sementara di tahapan selanjutnya yakni proses sangrai, uji cita rasa dan proses penyeduhan didiskusikan langsung dari para Roastery dan Barista yang tergabung sehingga dalam proses pemasarannya dapat dikomunikasikan kepada peminat terkait karakter cita rasa kopi yang diinginkan.

Melalui kerja pengorganisasian ini, kami berharap kedaulatan kita atas kopi bisa tegak berdiri dan membangun kesejahteraan bersama sebagai bangsa yang di atas tanahnya tumbuh tanaman-tanaman kopi yang diseduh milyaran orang di seluruh dunia[].

 

12. Komunitas Swabina Petani Salassae (KSPS)

Diawali dengan mengajak “bramacorah” di salah satu kampung di Bulukumba: Desa Salassae. Penggiat awal komunitas tersebut mengorganisir dan mendidik diri, serta menemukan pintu masuk pengorganisasian rakyat melalui issu pertanian alami.

Demikianlah, sampai kemudian terbentuk satu komunitas dengan pengorganisian dengan pengaruh yang telah melintasi sekat-sekat kampung,lintas desa, lintas Kabupaten, dengan ragam latar belakang.

Komunitas tersebut akhirnya bertransformasi menjadi organisasi dengan tradisi pengorganisasian petani-yang salah satu terkuat- saat ini, di Sulawesi Selatan. Komunitas Swabina Petani Salassae (KSPS)!

Para penggiat KSPS sepenuhnya adalah petani.

Untuk mendukung gerakan petani khususnya pertanian alami, KSPS memiliki dana khusus yang bersumber dari urunan petani dalam bentuk Tabungan Petani. Kerja-kerja kolektif dan pengorganiasian KSPS sebagian besarnya didanai melalui tabungan petani. Seluruh sumber daya anggota dan jaringan kerja petani alami, kemudian diorganisir secara khusus melalui Stasiun Agrobisnis! Mengembangkan bisnis komunitas.

Keuntungan dari bisnis komunitas tersebut digunakan untuk membiayai kerja-kerja organisasi. Misalnya, saat ini, KSPS telah mengelola dan memasarkan produk beras alami, serta berbagai hasil alam yang di hasilkan petani, KSPS juga membuat subsidi harga beras alami yang murah untuk masyarakat miskin.

Tentu ada banyak tantangan dan kendala yang dihadapi para penggiat KSPS, sehingga membentuk KSPS menjadi seperti saat ini.

KSPS akan membagi pengalaman Dan pembelajarannya pada SIMPOSIUM PENGORGANISASIAN RAKYAT, 11-12 April 2018.

 

13. Blue Forest

Blue Forest. Satu dari 14 organisasi yang akan menjadi presenter SIMPOSIUM PENGORGANISASIAN RAKYAT, 11-12 April 2018.

Tidak banyak organisasi yang saat ini fokus pada issu sektor pesisir dan kelautan di Sulawesi Selatan. Blue Forest adalah satunya. Sekolah Lapang (SL) menjadi metode Blue Forest dalam melakukan pengorganisasian rakyat. SL bukan hanya sekedar metode, tetapi juga alat yang efektif untuk menghimpun pengetahuan dan pembelajaran bersama.

Inti dari SL adalah pengorganisasian individu sekaligus pengetahuan-pengetahuannya.

SL sendiri bukan hal baru-khususnya di sektor pertanian, tetapi menerapkan metode SL di sektor kelautan adalah hal yang baru. Unik! Apa tantangan, kendala dan peluang penerapan Sekolah Lapang (SL)?

Blue Forest akan membagi pengalaman dan pembelajarannya.

 

14. Balang Institute

Balang Institute, tidak serta merta melibatkan diri mengorganisir petani-petani kopi dataran tinggi Bantaeng.

Ada liku panjang, mulai dari soal mempersiapkan riset berbasis lahan dan tanah, perencanaan dan penata-gunaan lahan, tentu saja bersama-sama dengan petani yang telah mereka organisir bertahun sebelumnya.

Tidak mudah tentunya, ada banyak kendala dan tantangan yang di hadapi. Misalnya, di salah satu desa dimana mereka bekerja, jauh sebelumnya tanaman kopi pernah mati suri,-tergantikan dengan tanaman komoditas tunai lainnya- semisal jagung dan bawang.

Padahal kopi-berdasarkan riset bersama warga-adalah tanaman yang paling sesuai dengan lahan. Tetapi kopi ditinggalkan oleh warga, karena harganya yang tidak menjanjikan.

Balang berani menceburkan diri areal yang dulunya tidak populis itu, akhirnya, saat ini, harga kopi di Pattaneteang berangsur-angsur naik,dari dulunya hanya pada kisaran Rp 14.000/kg.

Tidak mudah!

Related Posts

About The Author

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.