Simposium Pengorganisasian Rakyat

Simposium Pengorganisasian Rakyat. Di Sulawesi Selatan, masih terdapat beragam masalah sosial; lemahnya aksi kolektif, kemandirian politik warga, dan kedaulatan pangan; merebaknya praktik ekonomi politik kapitalis yang merusak tatanan ekonomi kerakyatan (ekonomi skala rumah tangga); konflik pengelolaan sumber daya alam.

Di sisi lain, masih ada peluang untuk menguatkan desa dalam konteks otonomi desa, harapan memperkuat gerakan pengorganisasian [organisasi] rakyat dan pemuda, dan usaha-usaha membangun sumber daya milik bersama (commons).

Sejumlah organisasi bergerak memperjuangkan perubahan, tapi masih kurang sering bertemu untuk saling belajar dari pekerjaan dan pengalaman masing-masing. Karena itu, mereka butuh bertemu, saling kenal, belajar, dan melihat kemungkinan-kemungkinan kerja bersama. Oleh karenanya, empat belas organisasi atau -lembaga non pemerintah yang melakukan kerja-kerja pengorganisasian yang berdomisili di Sulawesi Selatan bersepakat menggelar Simposium Pengorganisasian Rakyat.

Secara umum kegiatan ini dimaksudkan untuk berbagi pengalaman pengorganisasian di masyarakat, menarik pembelajaran bersama atas proses dan isu-isu dalam pengorganisasian, membuka peluang adopsi pengalaman pengorganisasian di tempat berbeda, dan memulai kebiasaan bertemu dan berbagi secara berkelanjutan. Setiap lembaga akan melakukan presentasi tentang bagaimana mendorong pengorganisasian masyarakat dalam kerja-kerja pendampingan mereka sesuai durasi yang telah ditentukan.

Waktu dan Tempat

Hari/Tanggal: Rabu-Kamis, 11-12 April 2018

Tempat         : Training Centre Ininnawa, Jl. Poros Maros-Bantimurung, Dusun Bantimurung, Desa  Jenetaesa,      Kabupaten Maros.

Berikut profil lembaga yang akan berbagi pengalaman pada saat simposium pengorganisasian rakyat nanti. (Susunan berdasarkan urutan presentasi)

Presenter Hari Pertama Simposium Pengorganisasian Rakyat:

1. Sekolah Rakyat Petani Payo-payo 

 Sebelum dicetuskan berdiri sebagai Sekolah Rakyat Petani Payo-Payo pada pertengahan Juli 2007, beberapa anak muda yang aktif di Komunitas Ininnawa sudah belajar dan bekerja di desa.

Sejak 2005, Desa Tompobulu di kaki Gunung [bulu]Saraung menjadi pilihan untuk memulai pengorganisasian petani. Sampai saat ini, pengorganisasian masih berlangsung. Selama lebih satu dekade, ada banyak pengalaman bekerja bersama petani dilakukan di sana, khususnya petani-petani berusia muda.

Kerja pengorganisasian sesungguhnya adalah kerja-kerja perlawanan yang di satu sisi berarti menantang kemapanan pengetahuan dan praktik bertani yang berasal dari luar dan menggeser pengetahuan tempatan. Tak bisa dipungkiri, kekuatan-kekuatan dari luar desa baik yang berasal dari negara maupun korporasi atau perpaduan keduanya telah banyak memaksakan pengetahuan mereka kepada petani. Di zaman Orde Baru misalnya, ketika negara berbasis militerisme dan korporasi berbasis ‘kuasa pasar’ menggeser paksa pengetahuan petani dan sistem sosial yang mendukung praktik-praktik bertani berbasis tradisi.

Pengetahuan-pengetahuan impor ini sudah berhasil mengubah wajah desa. Pengetahuan bertani berbasis organik dan ditopang oleh kekuatan alam dan modal sosial warga kini banyak bergeser kepada teknologi mesin, kerja-kerja individual dan bergantung pada mekanisme pasar kapitalis. Petani menjadi objek kuasa pengetahuan lain dan bergantung pada input pertanian yang tak bisa mereka buat atau produksi sendiri. Petani perlahan-lahan menjadi kelas pinggiran, tertindas dan bahkan menjadi kelas proletar. Petani yang berdaulat sebagaimana di masa lalu, telah berubah menjadi petani yang lemah atau powerless. Mengembalikan kedaulatannya sebagai petani adalah kerja panjang dan pilihannya adalah melakukan kerja-kerja pengorganisasian petani.

Itulah yang menjadi mandat organisasi SRP Payo-Payo, pengorganisasian petani. Pada SIMPOSIUM PENGORGANISASIAN RAKYAT, 11-12 April 2018 ini, SRP Payo-Payo akan berbagi pengalaman proses membangun kedaulatan petani di sejumlah desa, plus bagaimana lembaga ini memproduksi orang-orang muda untuk bekerja di desa-desa, hingga saat ini.

 

Rumah Belajar Ininnawa, tempat pelaksanaan Simposium Pengorganisasian Rakyat, 11-12 April 2018.

 2. Sekolah Rakyat Bowonglangit

Secara cerdas, Sekolah Rakyat Bowonglangit mengorganisir kembali petani-petani di dataran tinggi Gowa untuk menyelesaikan persoalan dalam pengelolaan sumber daya alam dengan menggali pemecahaannya berdasarkan sumber pengetahuan dan pengalaman masyarakat lokal yang kaya, melalui pasang; pesan-pesan leluhur, serta menumbuhkan kembali musyawarah kampung (ABBORONG).

Saat ini Sekolah Rakyat Bowonglangit mengelola tiga pusat sekolah komunitas sebagai tempat belajar dan pertemuan petani, lengkap dengan lahan-lahan praktek yang digarap bersama petani.

Sekolah yang dibangun dan dihidupkan dengan tangan sendiri, tangan-tangan rakyat yang terorganisir!

Tentu, saja hal tersebut tidak mudah dilakukan. Sekolah Rakyat Bowonglangit akan membagi pengalaman dan pembelajarannya kepada kita semua!

3. An – Nadzir

 Jemaah An-Nadzir selama ini diberitakan media karena misalnya, jadwal puasa dan Iedul fitri yang lebih dulu atau lebih belakangan dibandingkan dengan jadwal kebanyakan orang.

Tetapi tidak hanya itu!

Sekitar 100 Kepala Keluarga An-Nadzir saat ini membentuk komunitas yang bermukim di pinggiran danau Mawang Gowa. Di tempat itulah mereka mengorganisir diri dan mengembangkan sistem sosial berdasar pada syariat Islam, Rahmatanlilalamin, di komunitasnya. Komunitas yang solid!

Misalnya, mereka mengembangkan sistem pertanian dengan membangun mekanisme dan sistem pemenuhan kebutuhan pangan (padi, sayur, perikanan dan peternakan) komunitas secara mandiri. Ada tujuh pilar sistem kehidupan yang saat ini mereka kembang-terapkan.

Bagaimana soliditas itu dibangun oleh komunitas ini? Apa kendala-kendala yang mereka hadapi dalam mengembangkan 7 pilar sistem kehidupan yang rahmatanlilalamin?

Yayasan An-Nadzir akan membagi pengalaman dan pembelajaran pengorganisasian komunitasnya pada simposium ini nanti.

 

4. Sulawesi Community Foundation

Sulawesi Community Foundation (SCF) adalah salah satu presenter dari 14 lembaga yang akan hadir pada Simposium Pengorganisasian Rakyat, 11-12 April 2018.

SCF, cukup lama melakukan program pendampingan masyarakat di sekitar kawasan hutan di banyak tempat di pulau Sulawesi, jauh sebelum skema perhutanan sosial menjadi topik hangat yang gegap gempita di kalangan penggiat pergerakan sosial.

SCF memiliki pengalaman yang panjang, dengan berbagai macam strategi dan ragam aktivitas, sehingga bukanlah satu kebetulan kemudian mereka menyebut: Model SCF untuk Perhutanan Sosial.

Apa bedanya?

SCF memandang, adalah satu kemungkinan yang sangat rasional untuk mengembangkan program pemberdayaan yang beriringan dengan pembangunan usaha rakyat dalam skala industri.  Tentu saja industri yang tetap fokus pada perubahan sosial dan tetap melestarikan alam. Industri Rakyat!

SCF akan membagi pengalaman pembelajarannya!

 

5. Solidaritas Perempuan Anging Mammiri

 Konflik soal kepemilikan tanah antara Petani dan PTPN XIV telah berlarut-larut sejak tahun 1982 setidaknya terjadi di 11 desa di Kecamatan Polongbanngkeng Utara. Takalar. Akibat hal tersebut, hal yang terpenting dan paling dirasakan oleh perempuan adalah berkurang, bahkan terutupnya akses terhadap sumber air bersih dan produksi pangan!

Banyak perempuan di desa-desa kemudian terpaksa meninggalkan kampung dan keluarganya untuk menjadi buruh migran. Sejak tahun 2017, Solidaritas Perempuan Anging Mammiri bersama dengan perempuan-perempuan petani melakukan pengorganisasian untuk merebut kembali hak terpenting atas tanah!; sumber produksi pangan!

Mereka menanam tanaman pangan di sela-sela tanaman tebu; komoditas utama perusahaan. Menanam adalah melawan! Perlawanan yang segera dibayar tunai oleh perusahaan dengan intimidasi, aksi kekerasan dan kriminalisasi petani.

Sampai sekarang, Solidaritas Perempuan Anging Mammiri masih terus berkutat memperkuat proses-proses pengorganisasian yang dilakukan oleh warga. Kerja-kerja Pengorganisasian belum selesai!

Ketangguhan masih harus diuji, pendidikan petani masih terus dilakukan. Pun, dengan perjuangan untuk merebut kembali kedaulatan atas tanah!

Bersama 13 lembaga lainnya, SP Anging Mammiri akan membagi pengalaman dan pembelajaran mereka melakukan pengorganisasian perempuan dan keluarga petani.

 

6. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi)

Punya pengalaman dan sejarah yang panjang sebagai pembela terdepan hak-hak warga dan lingkungan. Advokasi warga, advokasi lingkungan, hampir tidak bisa dipisahkan dengan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI). WALHI Sulsel sendiri memiliki jaringan kerja organisasi yang mengakar jauh ke desa-desa.

Tidak diragukan lagi, bagi WALHI berhadap-hadapan dengan perusahaan, pemerintah dan aparat sekalipun adalah makanan sehari-hari. Militansi mereka benar-benar teruji. Begitu juga dengan warga yang menjadi basis-basis perjuangan mereka.

Walhi SulSel telah menysaratkan lahirnya tempat-tempat belajar “saung belajar” di jaringan organisasi anggota WALHI untuk pendidikan advokasi rakyat dan pengorganisasian. Bagi Walhi: Pendidikan dan Pengorganisasian tidak bisa dipisahkan!

Selain membagi pengalaman panjang mereka dalam proses advokasi dan penggorganisasian di masyarakat, WALHI SulSel secara khusus juga akan membahas beberapa contoh kasus dimana proses-proses pengorganisasian rakyat bisa terhambat, bisa mandek, bisa tidak sesuai dengan tujuan dan harapan! Sekaligus bagaimana mengelola hal-hal tersebut menjadi keteguhan sekaligus ketangguhan!

Tentu saja, sebuah pembelajaran dan pengetahuan yang sangat penting dan berharga bagi organiasi dan generasi penggerak sosial! Belajar tentang bagaimana nafas panjang pengorganisasian dipertahankan dan dikukuhkan!

 

7. Komite Perjuangan Rakyat Miskin (KPRM)

Bagaimana cara mengajak orang-orang miskin di kota meluangkan waktu bergorganisasi, untuk belajar bersama sekaligus melakukan aksi-aksi perlawanan,disamping padatnya aktivitas mereka nafkah ?

Tidak bisa tidak! Sudah pasti! Ada proses pengorganisasian yang sangat panjang yang dilakukan! Tentu saja melelahkan!

Mungkin sangat gampang untuk merebut sesuatu yang diperjuangkan! Tetapi bagaimana mempertahankan api dan semangat dari semangat rakyat itu terus menyala?

Bagaimana rakyat mengorganisir receh demi receh hasil keringat untuk membiayai sendiri apa yang mereka perjuangan? Tidak bisa tidak! Sudah pasti! Ada proses pendidikan rakyat yang terorganisir.

KPRM sering dirujuk sebagai contoh bagi organisasi lain bagaimana proses-proses pengorganisasian kaum miskin kota dilakukan. KPRM membutktikan bahwa pengorganisasian rakyat bisa menjadi alat ampuh, sekaligus pondasi penting perjuangan.

Bagaimana soliditas, daya teguh sekaligus daya gedor itu mereka bangun?

bersambung ke Presenter Hari Kedua Simposium Rakyat

Related Posts

About The Author

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.