Siapa Sebenarnya Teman Dekat Kita?

Media sosial menyediakan banyak hal untuk kita gunakan sesuai keinginan kita. Mulai dari fitur pertemanan hingga penggunaan untuk mengepakkan sayap bisnis. Kali ini saya ingin membahas dari sisi pertemanan di media sosial. Melalui media sosial, kita pun bisa tahu siapa sebenarnya teman dekat kita.

Baru-baru ini terjadi kehebohan yang berasal dari sebuah status di salah satu media pertemanan. Melalui status di Path, seorang gadis anak baru gede (ABG) mengeluhkan seorang ibu hamil yang meminta tempat duduknya di kereta api. Gadis tersebut keberatan karena menurutnya, ia lebih berhak mendapatkan tempat duduk itu karena ia datang lebih pagi.

 

Status lengkap gadis ABG itu seperti di bawah ini:

“Benci sama ibu-ibu hamil yang tiba-tiba minta duduk. Ya gue tahu lw hamil tapi plis dong berangkat pagi. Ke stasiun yang jauh sekalian biar dapat duduk, gue aja enggak hamil bela-belain berangkat pagi demi dapat tempat duduk. Dasar emang enggak mau susah.. ckckck.. nyusahin orang. kalau enggak mau susah enggak usah kerja bu di rumah saja. mentang-mentang hamil maunya dingertiin terus. Tapi sendirinya enggak mau usaha.. cape dehh.. #notetomyselfjgnnyusahinorg!! 

Status itu kemudian menyebar dengan cepat di forum-forum dan media pertemanan lainnya hingga ke media-media sosial dan menciptakan kehebohan di dunia maya. Lalu kenapa status itu bisa menyebar padahal gadis tersebut membuat status itu di Path, media sosial pertemanan yang membatasi jumlah teman hanya 150 orang. Dengan jumlah terbatas, pengguna Path tentunya dapat memilah dan memilih teman-teman terdekat untuk menjadi teman berbagi kabar bahagia atau pun keluh kesah.

Tidak Mau Akunmu Kena Hack? Baca Cara Membuat Password Yang Aman Di Sini

Status itu kemungkinan besar di-capture oleh teman gadis itu sendiri yang lalu menyebarkannya hingga kehebohan ini muncul. Pertanyaan berikutnya adalah: benarkah teman yang menyebarkannya adalah benar-benar teman gadis ini? Bukankah teman yang baik seharusnya menegur langsung tindakan tidak ber-empati dan individualistik ini dan bukannya malah menyebarkannya melalui media sosial?

Kasus ini bisa menjadi contoh betapa berbahayanya jika kita tidak bijak dalam menggunakan media sosial. Si gadis ini tidak saja menerima umpatan dari teman-teman Path-nya, meskipun ada juga yang membela, tapi juga menerima cacian dari orang-orang yang tidak mengenal karena status yang ia buat menyebar kemana-mana melalui lintas media sosial.

Pun, kasus ini juga bisa menjadi media pembelajaran bagi kita dalam menentukan mau berteman dengan siapa dalam media sosial. Belum tentu seseorang yang kita anggap teman dekat kita adalah teman kita. Tak ada salahnya mulai sekarang kamu mengecek ulang siapa-siapa teman di Path yang benar-benar teman kamu.

Related Posts

About The Author

Add Comment