Sepotong Surga Itu: Taka Bonerate

Welcome to Tinabo Island. Unforgettable Hidden Underwater Paradise. Sebuah spanduk di depan dermaga menyambut kami. Dari atas perahu, hamparan pasir putih memesona mata. Perahu bersandar dan kami berfoto di bawah spanduk itu sebelum menjejakkan kaki di dermaga.

Pemandangan laut begitu indah, dari dermaga memandang ke bawah tampak warna-warni karang di kedalaman satu – dua meter. Di tepi pantai, sekerumunan ikan-ikan kecil bermain di kaki dermaga. Mereka ribuan, mungkin pula lebih. Konon, sejak Asri, salah satu pengelola P. Tinabo, memberi makan sekawanan ikan-ikan ini tak lagi beranjak dari tepi pantai. “Pernah pula kawanan ikan ini membentuk formasi serupa hati,” ujar Asri.

Inilah sepotong surga itu; sebuah pulau dengan pasir putih menghampar, desir angin yang berkejaran dengan debur ombak, terumbu karang di laut jernih dan matahari yang bersinar cerah dari langit bersih. Tinabo.

Pulau inilah tujuan akhir kami dalam Trip AM Takabonerate. Kami berada pada rangkaian 21 pulau yang merupakan sebuah pucuk gunung bawah laut yang menjulang, melengkapi perjalanan sembilan jam bermandikan jutaan bintang dari Kota Benteng menuju P. Jinato dan dua jam perjalanan bermandikan cahaya pagi dari P. Jinato menuju sepotong surga di kaki Sulawesi ini.

Takabonerate adalah Taman Nasional Taman Nasional yang memiliki karang atol terbesar di Asia Tenggara dengan luas 220.000 hektar. Juga terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Moldiva dengan, dengan terumbu karang yang tersebar datar seluas 530 km².

Takabonerate memiliki 21 pulau dengan 7 (tujuh) diantaranya berpenghuni yaitu; Latondu Besar, Tarupa Besar, Rajuni Kecil, Rajuni Besar, Jinato, Pasitallu Timur dan Pasitallu Tengah. Sebagai titik pertemuan bagi warga dari timur Sulawesi Selatan seperti pendatang Bugis dari Bone dan Sinjai, warga berbahasa Makassar seperti Bantaeng dan Selayar dari Bantaeng dan Bulukumba, dari Buton, Kabaena hingga warga berdarah Flores. Tak mengherankan jika Takabonerate memiliki penduduk dengan ragam bahasa yang berbeda.

Pasir putih sehalus bedak bayi, air laut jernih hijau tosca dan biru tua, membuat kami tak sabaran menikmati pesona Tinabo. Setelah menaruh tas dan mencicipi sajian teh hangat kami langsung menceburkan diri ke laut. Tak perlu berenang ke tengah laut, kita sudah bisa menikmati keindahan  pemandangan bawah laut yang sangat cantik. Bagi yang tak tahu berenang seperti saya, bisa snorkling untuk mengintip karang-karang dan ikan-ikan beraneka warna di tepi pantai atau di sekitar dermaga.

Tentu saja, keindahan pesona bawah laut itu harus diabadikan, beruntung kami mendapatkan pinjaman alat snorkling dan kamera bawah laut sehingga bisa memotret. Kami juga mendapat tawaran untuk menikmati pesona bawah laut lebih dalam lagi dengan menyelam. Sayangnya, saya dan kawan-kawan tak membawa persiapan dana untuk itu. Hanya seorang teman yang berkesempatan menikmati tawaran untuk diving dengan tawaran harga hanya Rp. 400.000, – untuk durasi satu jam. Tak terasa tiga jam kami terpukau dengan keindahan bawah laut Pulau Tinabo hanya dengan snorkling. Saya hanya bisa membayangkan bagaimana keindahan itu jika bisa melihatnya lebih dalam lagi.

Andai tak bergegas pulang, kami tentu akan berlama-lama menikmati sepotong surga ini. Usai memuaskan mata memandangi keindahan bawah laut, kami pun makan siang. Rasa lapar segera terjawab dengan suguhan aneka makanan laut yang disajikan oleh pengelola Taman Nasional Takabonerate Wilayah I.

Sembari menunggu kedatangan kapal sewaan untuk pulang, saya dan beberapa teman berkesempatan berbincang dengan Nadzrun Jamil, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Taka Bonerate Wilayah I. Di bawah sebuah bangunan sederhana kami menggali banyak hal tentang Pulau Tinabo dan Takabonerate.

Senja di Pulau Tinabo, Taman Nasional Taka Bonerate

Senja di Pulau Tinabo, Taman Nasional Taka Bonerate

Pulau Tinabo adalah pusat wisata kawasan Takabonerate yang ditetapkan sebagai Taman Nasional pada tahun 2001. “Selain kawasan atol terbesar ketiga di dunia, Takabonerate kaya akan spot diving yang unik. Itulah salah satu alasan pemerintah menetapkan Takabonerate sebagai Taman Nasional,” ungkap Nadzrun Jamil.

Selain memiliki banyak spot diving, Takabonerate juga kaya akan Terumbu karang. Saat ini sudah teridentifikasi sebanyak 261 jenis dari 17 famili diantaranya Pocillopora eydouxi, Montipora danae, Acropora palifera, Porites cylindrica, Pavona clavus, Fungia concinna, dan lain-lain. Sebagian besar jenis-jenis karang tersebut telah membentuk terumbu karang atol (barrier reef) dan terumbu tepi (fringing reef). Semuanya merupakan terumbu karang yang indah dan relatif masih utuh.

Kawasan ini juga kaya akan ikan antara lain sekitar 295 jenis ikan karang dan berbagai jenis ikan konsumsi yang bernilai ekonomis tinggi seperti kerapu (Epinephelus spp.), cakalang (Katsuwonus spp.), napoleon wrasse (Cheilinus undulatus), dan baronang (Siganus sp.). Adapula 244 jenis moluska diantaranya lola (Trochus niloticus), kerang kepala kambing (Cassis cornuta), triton (Charonia tritonis), batulaga (Turbo spp.), kima sisik (Tridacna squamosa), kerang mutiara (Pinctada spp.), dan nautilus berongga (Nautilus pompillius).

Untuk Penyu telah teridentifikasi empat jenis penyu, yang paling dominan adalah Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), di samping jenis penyu Tempayan (Caretta caretta) dan penyu Lekang (Lepidochelys olivacea). Jenis-jenis echinodermata yang ditemui di perairan Taman Nasional Laut Taka Bonerate antara lain : Teripang (Holothuroidea sp), bintang laut (Asteroidea), Lili Laut (Criroidea) dan Bulu Babi (Echinoidea).

Kekayaan yang dimiliki oleh Kawasan Takabonerate itu pun tak lepas dari masalah illegal fishing dimana nelayan tradisional menangkap ikan dengan melakukan pengeboman atau bius. Cara-cara haram ini jelas merusak ekosistem karena membuat karang-karang yang menjadi rumah para ikan-ikan itu menjadi hancur.

Upaya-upaya penyadaran terhadap masyarakat telah dilakukan oleh Nadzrun Jamil, yang lebih akrab disapa Pak Jamil atau Aa Jamil, ini beserta staffnya. “Tak sekadar penyadaran, kami juga melibatkan masyakarat dalam mengembangkan kawasan ini,” ungkap lelaki kelahiran Padang ini. Pelibatan masyarakat ini antara lain dengan meminta mereka untuk ikut menyediakan kapal sampai menjadi tenaga penyedia makanan atau melayani wisatawan. Meski tak mudah, Pak Jamil berharap cara ini secara tidak langsung bisa menekan illegal fishing karena bisa menumbuhkan rasa memiliki masyarakat sedikit demi sedikit rasa memiliki. “Kami tak mungkin melarang mereka karena itu urusan perut. Kami tetap mengizinkan mereka menangkap ikan asalkan di luar wilayah konservasi.” Lanjut Pak Jamil.

Upaya-upaya untuk menjaga dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh kawasan Takabonerate ini tentu harus mendapat sokongan pemerintah, dalam hal ini Dinas Kelautan Dan Perikanan Sulsel bekerja dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel. Kedua dinas ini mesti bekerja sama memikirkan agar potensi kelautan dan wisata bisa jalan beriringan tanpa mengganggu sumber kehidupan para nelayan yang hidup dari laut sekitar kawasan Takabonerate.

Apa yang dilakukan oleh pengelola Kawasan Wisata Taman Nasional Takabonerate perlu mendapat dukungan penuh dari pemerintah provinsi. Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Sulsel harus meningkatkan program konservasi untuk menjaga kekayaan laut berupa berbagai jenis ikan ikan karang dan berbagai jenis ikan konsumsi yang bernilai ekonomis tinggi dengan melibatkan nelayan setempat.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisatan Prov. Sulsel perlu merancang sebuah paket wisata bahari (marine tourism) reguler yang bisa menarik wisatawan mancanegara dan domestik. Paket itu berupa tur beberapa hari dimulai dari wisata alam/nature di Pulau Gusung  lalu ke Pulau Rajuni dan berakhir di Pulau Tinabo.

Tur ini bisa dirancang selama empat hari dengan titik penjemputan pada hari pertama di Pelabuhan Tanjung Bira, Kab. Bulukumba lalu menikmati perjalanan laut dengan menumpang feri selama dua jam. Titik penjemputan juga bisa ditempatkan di Pelabuhan Pamatata, Kab. Selayar. Dengan bis, peserta tur dibawa menyusuri jalur darat menyusuri pesisir Selayar menuju Kota Benteng. Di ibukota Kab. Selayar ini, para peserta tur bisa menikmati lanskap senja di Plaza Marina. Peserta kemudian dibawa ke Kafe Tempat Biasa, tempat para pecinta laut yang bergabung dalam Sileya Scuba Divers. Sileya adalah nama Selayar dalam bahasa masyarakat setempat.

Pada hari ke dua, perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Gusung yang terletak tepat di depan kota Benteng. Di sini, para peserta dapat menikmati wisata sejarah berupa peninggalan Belanda yaitu gedung tua penyimpanan kopra. Peserta juga akan dibawa setapak desa Bonto Lebang yang terbuat dari semen yang menghubungkan sisi barat pulau penghasil kopra ini. Jalan ini juga berfungsi sebagai tanggul. Di sisi barat pulau ini, pasir putih akan menyajikan lanskap yang sangat menawan. Bayangkan saja semburat jingga berlanskap pasir putih sehalus tepung. Betapa senja nyatanya sangat indah di pulau ini. Belum lagi titik-titik diving yang melimpah.

Sore hari, sekira pukul 15:30, peserta akan menuju Pulau Rajuni. Perjalanan laut ini akan memakan waktu delapan sampai sembilan jam, namun akan terasa sangat singkat. Menjelang senja, pemandangan Pulau Selayar dan pulau-pulau kecil bertebaran akan sangat memesona jika dilihat dari laut.  Pada malam hari hamparan berjuta bintang menghiasi langit, seakan bisa dipetik, akan memanjakan mata. Google Sky Map akan sangat membantu untuk melihat rasi-rasi bintang yang membentang telanjang di sini.

Di Pulau Rajuni, peserta tur akan menginap di rumah penduduk. Selain pelibatan masyarakat, ini dimaksudkan sebagai wisata budaya agar peserta mengenal langsung bagaimana budaya masyarakat Pulau Rajuni yang terdiri dari beragam suku. Sebelum menyeberang ke Pulau Tinabo, peserta bisa diajak berjalan mengitari pulau tuk melihat langsung bagaimana kehidupan masyarakat Rajuni berjalan. Bisa pula dengan menyiapkan penampilan tari atau ritual masyarakat setempat. Dengan cara ini, wisata budaya telah berlangsung.

Sekitar pukul 10 pagi, barulah peserta menyeberang ke Pulau Tinabo, sepotong surga di kaki Sulawesi, dengan memakai perahu bermotor. Selama dua jam perjalanan, para peserta akan menikmati berbagai warna-warni karang dan jenis ikan karang yang terlihat jelas di sekitar perahu karena air laut yang sangat jernih. Ikan-ikan terbang yang saling berkejaran mengiringi perjalanan di samping perahu. Juga pulau-pulau kecil yang seakan memanggil untuk disinggahi.

Tinabo adalah  sebuah pulau kecil, panjang sekitar 1,5 kilometer dan lebar 500 meter, yang bertabur pasir putih selembut bedak bayi. Anda pasti akan berdecak kagum bahkan sebelum menjejakkan kaki di dermaga. Seluruh pulau dikelilingi oleh pantai berpasir putih, dikelilingi oleh air laut yang selalu jernih sepanjang waktu. Warna air di sekitar Tinabo semakin dalam berturut-turut kehijauan, biru muda, hingga biru tua menuju ke bagian laut yang lebih dalam. 

Bagi yang hobi fotografi bawah air, Pulau Tinabo dan kawasan kawasan Taka Bonerate memilik beragam objek foto, juga mendukung jarak pandang di bawah air yang minimal mencapai 10 meter. Sangat mudah menemukan critters seperti nudibranch, frogfish, flatworm, udang, crocodilefish, ataupun hewan besar macam penyu, hiu, dan gurita di setiap penyelaman.

Warna terumbu karang yang beragam dan luar biasa adalah objek foto tersendiri. Bagi para snorkeller, jernihnya air dan ikan-ikan kecil warna warni serta terumbu karang yang beragam menjadi surga tersendiri. Keindahan bawah air itu dapat dilihat kedalaman dari 0-5 meter.

Begitu tiba, penyelenggara menyajikan makan siang peserta tur. Tentu saja, makanan laut olahan masyarakat sekitar Takabonerate. Barulah setelah makan siang dan istirahat sejenak, peserta diajak diving menikmati keindahan laut Kawasan Wisata Takabonerate di beberapa titik hingga sore menjelang.

Taka Bonerate punya puluhan dive spot yang sangat indah. Dive spot ini tersebar mulai dari halaman depan pulau Tinabo sampai ke ujung selatan komplek karang atol ini. Variasi kontur dasar lautnya juga sangat beragam, mulai dari slope sampai wall yang tak keliatan dasarnya. Ada banyak kawasan dengan kontur dinding / jurang yang cocok untuk wall-dive, area yang miring melandai, hingga pulau-pulau bawah air. Pada sebagian area anda dapat merasakan arus yang cocok untuk drift-dive, atau area yang sama sekali tidak ada arusnya.

Peta Dive Spot Taka Bonerate - Pariwisata Selayar

Peta Titik Penyelaman – Sumber PariwisataSelayar.com

Setelah diving, para peserta bisa istirah sejenak menikmati senja sembari minum teh.  Aktivitas lain yang bisa dilakukan adalah jalan-jalan mengelilingi pulau atau sun bathing sampai kulit terlihat coklat eksotis. Pasir putih, laut lepas, lambaian nyiur dan senja kemerah-merahan adalah momen yang sangat susah terlupakan. Di malam hari, menikmati pemandangan langit bermandi jutaan bintang adalah hal yang tak boleh di lewatkan. Jika tepat di pertengahan bulan (sekitar tanggal 15) bulan bersinar sangat terang di sini.

Malam hari peserta menginap di Tinabo Resort Island yang memiliki tiga kamar, dua di antaranya menggunakan king size springbed. Pagi harinya peserta kembali melakukan penyelaman hingga makan siang dan bersiap pulang melalui Pelabuhan Pattumbukang. Jarak Pulau Tinabo dan pelabuhan ini sekira enam sampai tujuh jam. Peserta akan diajak menyusuri daratan utara Pulau Selayar dari Appatanah ke Kota Benteng selama satu jam lebih lalu menikmati suasana malam di sekitar Lapangan Pemuda di Kota Benteng.

Peserta akan beristirahat di Kota Benteng sebelum pulang keesokan-harinya melalui Pelabuhan Rahman Rauf menggunakan kapal fiber dan tiba di Pelabuhan Lappa’e Bulukumba dan selanjutnya menuju Makassar.

Dalam paket selama enam hari lima malam ini peserta disuguhkan wisata bahari dan wisata budaya. Peserta juga merasakan sensasi melintasi laut menggunakan empat jenis kapal berbeda yaitu Ferry, Katinting, Perahu Kayu, Jolloro, dan Perahu Cepat (fiber).

Lama paket ini bisa dipersingkat jika menggunakan pesawat terbang dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Express Air sudah menyediakan rute Makassar-Selayar dengan pesawat Dornier buatan Jerman dengan kapasitas 30 seat. Pesawat baru ini hanya membutuhkan jarak tempuh selama 40 menit. Untuk mencapainya melalui jalur darat bisa menumpang mobil angkutan umum menuju Pelabuhan Bira atau Pelabuhan Lappa’e. Angkutan umum ini berupa mobil Panther, Xenia, Avanza, Innova yang bagi masyarakat Sulsel disebut Panther saja.

Gambaran paket wisata di atas adalah salah satu contoh Strategi Pengembangan dan Promosi Wisata di Sulawesi Selatan. Upaya lain yang mendesak dilakukan adalah penyediaan sarana promosi lainnya berupa titik-titik gerbang wisata antara lain di Bandahara Sultan Hasanuddin, Pelabuhan Bira dan Pelabuhan Lappa’e Bulukumba. Selain petugas yang memahami promosi wisata, gerbang-gerbang wisata ini harus pula dilengkapi bahan promosi berupa billboard, flyer dan visualisasi keindahan Kawasanan Wisata Taman Nasional Takabonerate. Salah satu cara lain yang perlu ditempuh pemerintah adalah bekerja sama dengan penyedia jasa tour dan travel untuk mempromosikan kawasan wisata ini.

Pihak Pemerintah Provinsi harus pula menyediakan infrastruktur  pendukung yang tak kalah penting yaitu transportasi. Jalan dari Makassar menuju Bulukumba harus mendapat perhatian penuh. Begitu pula sarana transportasi laut untuk mengakses Takabonerate. Belum adanya pelayaran reguler menuju Taman Nasional ini menyebabkan biaya perjalanan menjadi mahal dan tak terjangkau sebagian besar wisatawan domestik yang bisa jadi kemudian memilih berwisata ke tempat lain.

Dengan berinvestasi pada hal tersebut di atas, kita bisa berharap pengembangan dan promosi wisata di Sulawesi-Selatan akan membawa dampak pada pertumbuhan jumlah wisatawan domestik dan mancanegara. Peningkatan jumlah wisatawan tentu berdampak positif pada pemasukan daerah dan ekonomi masyarakat sekitar Kawasan Wisata Taman Nasional Takabonerate. [@lelakibugis]

 

 

Related Posts

About The Author

10 Comments

Add Comment