Sepotong Rotterdam di Tanah Makassar

18 November 1667, Sultan Hasanuddin mewakili Kerajaan Gowa akhirnya menandatangi perjanjian Bungayya (Cappa Ri Bungayya) yang menandai penyerahan kedaulatan kerajaan Gowa pada VOC yang diwakili Speelman. Perjanjian ini sekaligus mengakhiri masa perang Gowa yang sudah berlangsung seabad lebih.

Salah satu butir perjanjian ini adalah kerajaan Gowa harus menghancurkan 12 benteng miliknya dan menyerahkan 1 benteng kepada VOC serta membiarkan 1 benteng untuk tetap digunakan oleh kerajaan Gowa. Benteng yang diserahkan kepada VOC adalah benteng Ujung Pandang atau Fort Rotterdam Makassar, sedang benteng Somba Opu tetap digunakan oleh kerajaan Gowa.

Sebelum penandatangan perjanjian Bungaya, kerajaan Gowa-Tallo punya 14 benteng yang berderet dari utara di wilayah kerajaan Tallo hingga ke selatan hingga ke Garassi hingga Galesong dan Sanrobone di dalam wilayah kerajaan Gowa. Benteng pertama yang dibangun adalah benteng Somba Opu pada masa pemerintahan raja Gowa IX Karaeng Tumapakrisika Kallongna yang segera diikuti benteng-benteng lainnya.

Benteng-benteng ini berdiri sepanjang pesisir pantai timur pulau Sulawesi. Dua benteng menjadi pusat kerajaan, Benteng Tallo sebagai pusat kerajaan Tallo sedang benteng Somba Opu sebagai pusat kerajaan Gowa. Sisanya adalah benteng yang berfungsi sebagai penjaga (palili) bagi dua pusat kerajaan tersebut. Kerajaan Gowa dan Tallo adalah dua kerajaan kembar yang berasal dari satu akar yang sama. Keduanya tumbuh menjadi kerajaan makmur dan terbesar di bagian timur Nusantara.

Benteng Ujung Pandang yang dipilih sebagai VOC sebagai pusat pemerintahannya pasca penundukan kerajaan Gowa terletak di tengah-tengah antara pusat kerajaan Tallo di utara dan Gowa di selatan. Benteng ini awalnya berbentuk trapesium dengan bahan batu bata, dibangun sekisar tahun 1545 oleh Raja Gowa X. Benteng ini juga dilengkapi persenjataan dengan maksud sebagai benteng pengintai keadaan laut sekaligus menjaga keamanan kerajaan Tallo dan Gowa.

Saat diserahkan kepada VOC, benteng Ujung Pandang kemudian dipugar habis-habisan. Bentuk awalnya nyaris tidak tersisa, digantikan bentuk baru. Namanyapun diubah, dari benteng Ujung Pandang menjadi Fort Rotterdam, nama kota kelahiran Speelman. Bentuk benteng yang baru ini sekilas seperti penyu bila dilihat dari udara, inilah kenapa benteng Fort Rotterdam kadang disebut sebagai Benteng Pannyyua (benteng penyu).

Sebagai penguasa baru tanah Gowa, VOC kemudian menjadikan benteng ini sebagai pusat kekuasaan mereka. Kawasan benteng dijadikan kantor, tempat tinggal pegawai VOC hingga penjara. Tercatat pahlawan perang Jawa Pangeran Diponegoro pernah juga mencicipi dinginnya penjara VOC di benteng Fort Rotterdam Makassar hingga akhirnya menutup mata untuk selama-lamanya.

wisata arkeologi – ali masduki

 

Sebelum VOC menetap di benteng Fort Rotterdam Makassar, kawasan Ujung Pandang (sekarang menjadi kota Makassar) tidak ada apa-apanya. Daerah ini masih terdiri dari hutan belantara dan rawa-rawa di beberapa bagian sebelum kemudian VOC mulai menanamkan pengaruhnya, mengubah sedikit demi sedikit kawasan di sekitar benteng Fort Rotterdam hingga lama kelamaan tumbuh menjadi kota yang ramai dan sibuk.

Sampai sekarang benteng Fort Rotterdam masih berdiri tegak sebagai sisa arkeologi peninggalan masa perang Gowa. Benteng besar ini jadi salah satu primadona kota Makassar, tempat warga menghabiskan waktu untuk bersantai menanti sunset. Letaknya yang menghadap ke lautan lepas menjadikannya sebagai tempat yang tepat untuk melihat mentari yang beranjak pulang. Di dalam kawasan bentengpun sering digelar acara-acara besar. Pertumbuhan kota yang sangat pesat menjadikan ruang-ruang publik jadi hilang satu demi satu hingga kemudian tersisa sedikit saja yang bisa dinikmati warga. Salah satunya benteng Fort Rotterdam.

Meski sebagian besar arsitektur yang tersisa adalah arsitektur milik Belanda, namun peneliti tetap berusaha menggali sisa peninggalan kerajaan Gowa yang tersisa. Sisi selatan benteng baru saja dibenahi, ada taman luas yang memungkinkan warga untuk berkumpul dan bercengkerama. Di sisinya ada sungai yang mengalir hingga ke lautan lepas. Maksudnya tentu untuk memanggil kembali romantisme masa lalu. Para arkeologpun baru-baru ini melakukan penggalian di sisi barat benteng Fort Rotterdam Makassar, mencari sisa peninggalan sejarah yang belum terpecahkan. Termasuk bentuk awal benteng ini ketika belum jatuh ke tangan VOC.

Baca Juga: Kembali ke Rumah Nenek Moyang

Meski bentuk benteng Fort Rotterdam sudah tidak asli lagi tapi sesungguhnya ini adalah Mahakarya Indonesia yang menjadi saksi sejarah perlawanan kerajaan Gowa menghadapi nafsu serakah penjajah dari benua biru. Ketika keserakahan penjajah itu berhasil ditaklukkan, benteng Fort Rotterdam atau benteng Ujung Pandang kembali dikuasai dan diserahkan kepada warga sebagai tempat mereka berinteraksi dan berkumpul. Tentu juga sebagai tempat mereka mengenang kerasnya perjuangan pendahulu mereka untuk merebut kemerdekaan.

Foto wisata arkeologi yang direkam Ali Masduki mengingatkan saya pada Benteng Fort Rotterdam Makassar di atas, satu peninggalan penting kerajaan Gowa yang tersisa. Sepotong Rotterdam di tanah Makassar itu masih tegak berdiri, jadi kenangan kalau negeri ini pernah jadi korban keserakahan penjajah. Semoga tetap berdiri di sana, sebagai penanda kalau keserakahan itu akan tetap ada, hanya mungkin berganti wajah.

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment