Senandung Kehangatan Kopi Kahayya

Saat SMP, lupa tepatnya, keluarga bapak saya membeli lahan kebun di daerah Sabbang Luwu Utara. Saat itu, banyak keluarga bapak yang berasal dari Sidrap melakukan transmigrasi lokal melihat harga hasil perkebunan seperti kakao dan jeruk sedang bagus – bagusnya. Bapak dan beberapa keluarganya pun melakukan hal yang sama. Saya sekali dua kali diajak ke sana. Untuk menuju kebun bapak, kami harus melewati hutan dengan berjalan kaki hingga 2 (dua) jam lebih. Di tengah kebun kami punya rumah kecil, tepatnya gubuk.

Di dalam gubuk kebun di tengah hutan itulah, beberapa waktu lampau kakek mengajari saya bagaimana cara menggulung kertas berisi tembakau menjadi rokok gulser alias gulung sendiri. Dengan sabar dan telaten, di bawah temaram lampu palita’ kakek menjelaskan sekaligus memberi contoh bagaimana memperlakukan tembakau hingga terbungkus rapi dalam papir (kertas rokok) dan siap untuk dinikmati. Kemampuan itu akhirnya terpakai saat SMA, teman – teman menyebutnya melinting. Selain pada penyebutan, perbedaan lainnya adalah pada isi papir (kertas rokok). Untuk lintingan itu bukan lagi tembakau tapi daun yang lain. Kalian pasti tahu daun apa.

Memasuki masa kuliah, saya tak lagi mengkonsumsi daun itu dan kemampuan menggulung kertas atau melinting pun menghilang seiring waktu. Lalu saya bertemu Pak Arifin, tuan rumah kami di gelaran Senandung Kopi Kahayya. Sambil menikmati kopi, ia mengajari kami menggulung kertas tembakau. Malam ini, seorang teman membawa buah tangan berupa 4 keping tembakau dan papir. Sambil menunggu kantuk, saya mencoba melinting lagi. Dan hasilnya, 4 (empat) linting tembakau gulser.

Penampil - Penampil di Senandung Kopi Kahayya

Penampil – Penampil di Senandung Kopi Kahayya

Tembakau dan kopi adalah 2 (dua) paduan kenikmatan bagi saya. Dan itu bisa saya temukan di Desa Kahayya. Desa ini terletak pada ketinggian 1.000 – 1.600 meter dari permukaan laut, lembah perbukitan yang tak jauh dari dua pegunungan; Gunung Lompobattang dan Gunung Bawakaraeng. Kondisi ini menjadikan desa ini ini sangat cocok untuk pertanian dan perkebunan.

Nama Kahayya sendiri berasal dari bahasa Konjo, Kaha yang berarti kopi. Kata Kaha sendiri, konon, berasal dari bahasa Arab, Qahwa yang berarti Kopi. Kata ‘Kaha’ sendiri lalu mendapat imbuhan ‘Ya’ yang berarti menunjukkan tempat. Kahayya berarti tempat (yang banyak) kopi. Desa yang terletak di sebelah utara Kota Kabupaten Bulukumba memiliki lahan pertanian seluas 468 ha, sementara lahan pertanian seluas 319 ha. Kopi menjadi komoditi andalan desa ini.

Selain kopi, tembakau dan cengkeh juga menjadi tanaman komoditi perkebunan. Luas perkebunan kopi sendiri mencapai 320 ha, ¾ dari luas perkebunan, dengan kopi Arabika yang mendominasi. Ketinggiaan desa ini memang cocok untuk kopi Arabika, meski di beberapa titik ada juga yang menanam kopi jenis Robusta. Untuk pertanian, masyarakat Kahayya banyak menanam jagung dan sayur – sayuran.

Khrisna Pabichara - Senandung Kopi Kahayya [foto: Indonesian Movement Project

Khrisna Pabichara – Senandung Kopi Kahayya [foto: Indonesian Movement Project]

Sejatinya, dengan kondisi alam yang subur, kopi bisa menjadi potensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa yang berjumlah 1.258 jiwa ini. Dari 325 Jumlah Kepala Keluarga di Desa Kahayya, terdapat 281 KK yang tergolong miskin. Tingginya angka kemiskinan ini memacu tingginya jumlah warga yang memilih merantau ke luar desa. Kalimantan dan Malaysia, menjadi 2 (dua) destinasi pilihan.

Berdasarkan penuturan pak Arifin, beberapa hari setelah lebaran Idul Fitri kemarin sejumlah pemuda meninggalkan Kahayya menuju Kalimantan untuk mengadu nasib. “Ada 9 (Sembilan) orang yang baru – baru pergi. Di sana mereka jadi kuli kebun sawit” tutur Arifin yang juga pernah merantau ke Kalimantan. Arifin memutuskan untuk mengadu nasib di Kalimantan setelah angin topan menerjang dan menghancurkan kebun kopinya.

Hampir tiap tahun, utamanya saat peralihan musim, bencana angin topan ini datang karena kondisi geografis Kahayya yang membuat angin lembah dan angin gunung berada pada titik bencana. Dalam kejadian terakhir, 10 rumah dilaporkan rusak parah. Tingginya korban angin topan ini diperparah dengan pembukaan lahan yang serampangan. Aktifitas pembukaan lahan pun bisa menyebabkan longsor. Angin topan dan longsor ini tercatat sebagai ancaman yang sering melanda desa ini.

Adalah Indonesia Movement Project (IMP) yang membawa kami ke sini. IMP adalah sebuah NGO Bulukumba yang berfokus pada pengembangan keunggulan lokal (masyarakat) melalui pendidikan dan kemandirian ekonomi. Sudah setahun lebih, IMP mendampingi Desa Kahayya dengan berpusat pada aspek keunggulan lokal, pendidikan dan kemandirian lokal. IMP melihat potensi keunggulan lokal Desa Kahayya adalah kopi. Potensi ini bisa menciptakan kemandirian ekonomi jika mampu dikelola dengan baik. Salah satu upaya yang dilakukan IMP adalah dengan membantu distribusi Kopi Kahayya. Kepala Desa Kahayya, Bapak Abdul Rahman, saat menyambut rombongan kami di kediamannya mengungkapkan bahwa selama ini kopi Kahayya hanya dikenal sebagai kopi Malakaji. Orang-orang dari Malakaji, sebuah desa yang berada di kaki Gunung Lompobattang Gowa, datang membeli kopi di Kahayya lalu menjualnya dan mengakui kalau itu kopi Malakaji. Malakaji, memang juga dikenal sebagai penghasil kopi.

Sanggar Al Farabi - Senandung Kopi Kahayya [foto: Indonesian Movement Project]

Sanggar Al Farabi – Senandung Kopi Kahayya [foto: Indonesian Movement Project]

Demi membantu masyarakat Kahayya dalam mencapai kemandirian ekonomi melalui potensi mereka, IMP melakukan promosi dan distribusi kopi Kahayya. Gelaran Senandung Kopi Kahayya yang diadakan pada tanggal 22 – 23 Agustus adalah upaya untuk memperkenalkan kopi Kahayya ke khalayak umum dengan mengundang orang datang menikmati kopi Kahayya di tengah dinginnya desa Kahayya.

Dalam gelaran itu, pengunjung disuguhi kopi Kahayya bersama sepotong gula merah seukuran jempol dan dihibur beberapa penampil seperti Khrisna Pabichara dan Heri (puisi), Arif Budiman yang melantukan Sinrilik tentang sejarah Desa Kahayya, Ryza (vokalis JustBeGood) dan MJ27 (akustik), serta Sanggar Seni Al Farabi yang menampilkan tarian yang mereka kembangkan dari tradisi Peppeka ri Makkah. Ada pula siswa – siswi Madrasah Aliyah Kindang yang menampilkan tarian tradisional. Di tengah cuaca 5 – 10 Celcius, para penampil berhasil menghibur dan menghangatkan penonton meski tampil di atas mini stage sederhana yang disiapkan panitia di Bukit Tanjung, Kahayya.

Saat ini, berkat upaya IMP, Kopi Kahayya sudah bisa dinikmati di salah satu coffee shop di Makassar. Sebuah hasil yang tentu harus mendapat apresiasi. Untuk bidang pendidikan, saat ini IMP telah mendirikan 2 (dua) taman baca di 2 dusun yaitu di Dusun Gamaccaya dan Dusun Tabbuakkang. Apa yang sedang dilakukan teman – teman IMP tentu masih jauh dari perwujudan mimpi – mimpi mereka melihat Desa Kahayya mencapai kemandirian ekonomi dengan mengandalkan potensi yang mereka miliki. Masih banyak hal yang harus mereka lakukan, namun setidaknya, mereka telah melakukan sesuatu yang kini sudah sangat jarang dilakukan oleh anak – anak muda: kembali dan mengembangkan desa mereka.

Related Posts

About The Author

Add Comment