Semalam Di Kajang Dalam

“Naparanakkang juku // Napaloliko raung kaju // Nahambangiko allo // Nabatuiko ere’ bosi // Napalolo’rang ere tua // Nakajariangko tinanang”.

Kalimat di atas adalah salah salah satu Pappasang ri Kajang yang memiliki arti: Ikan bersibak; pohon-pohon bersemi; matahari bersinar; hujan turun; air tuak menetes; segala tanaman menjadi. Pappasang adalah pesan yang turun-temurun dijadikan acuan Suku Kajang dalam menjalani hidup. Pesan  di atas adalah petunjuk atau gambaran bagaimana masyarakat Kajang menghormati lingkungannya dengan cara menjaga hutan mereka agar tetap lestari.

Suku Kajang mendiami sebagian wilayah Desa Tana Toa seluas sekitar 331,17 ha. Area yang mereka diami disebut dengan Kawasan Kajang Dalam dengan kondisi hutan yang sangat lebat. Hampir seluruh dusun yang berada di dalamnya dikelilingi hutan. Secara administrasi, Desa Tana Toa adalah bagian dari Kecamatan Kajang, Kab. Bulukumba. Terletak sekira 210km sebelah selatan Makassar. Untuk mencapainya, bisa ditempuh dengan transportasi darat selama 5 – 6 jam perjalanan.

Bagi Suku Kajang, alam adalah ibu dan hutan adalah jantung kehidupan, sesuatu yang sangat sakral. Merusaknya berarti mengundang bencana. Mereka meyakini arwah leluhur mereka menjaga hutan. Siapapun akan mendapat kutukan jika berani menebang pohon atau membunuh hewan di dalamnya tanpa seijin Amma Toa. Namun, hutan juga bisa mendatangkan kesejahteraan jika mereka memeliharanya.

Leluhur mengajarkan agar masyarakat Suku Kajang selalu menjaga keseimbangan hidup dengan alam dan para leluhur. Karenanya, masyarakat Suku Kajang di Tana Toa selalu hidup dalam kesederhanaan. Itu terlihat dari bentuk rumah Suku Kajang Dalam yang seragam dalam bentuk dan ukuran. Bahan yang mereka pakai untuk membangun rumah pun sama. Mereka percaya, jika ada keseragaman tidak akan ada rasa iri diantara masyarakat Suku Kajang. Masyarakat Kajang juga memiliki dan mematuhi beberapa aturan adat yang berlaku dalam membangun rumah. Salah satunya adalah rumah tidak boleh dari batu bata ataupun tanah. Bagi mereka, hanya orang matilah yang diapit tanah.

Di dalam setiap rumah warga Kajang, tidak ada satupun perabotan rumah tangga. Tidak ada kursi ataupun kasur. Mereka juga tidak menggunakan satupun peralatan elektronik, seperti radio dan televisi. Mereka menganggap, modernitas dapat menjauhkan suku Kajang dengan alam dan para leluhur.

Kami sempat terkecoh ketika mencari rumah Amma Toa. Dalam bayangan kami, rumah beliau tentulah lebih besar dari rumah warga lainnya. Setidaknya, ada penanda kalau itu rumah kepala adat. Ternyata, tidak. Rumah Amma Toa tak ada beda dengan rumah warga lainnya. Hanya ada tulisan kecil ‘Rumah Amma Toa’ di atas pintu. Tulisan itu baru terlihat ketika menaiki tangga rumah panggung Amma Toa.

Serupa rumah Kajang Dalam lainnya, dapur Ammo Toa juga berada di depan, tepat sebelah kiri ketika kita berada di pintu rumah. Api tungku masih menyala ketika kami memasuki rumah Amma Toa.  Tungku itu tak pernah berhenti menjerang air. Pertanda rumah itu tak pernah sepi dari tamu. Berganti silih orang berdatangan menghadap Amma Toa.

Dua lelaki yang mengenakan baju dan sarung hitam baru saja berpamitan pada Amma Toa ketika kami memasuki rumah.  Di dekat pintu, satu lelaki tua duduk. Seorang perempuan tua mendampingi seorang lelaki gagah. Mereka duduk agak berjauhan. Mata saya tertuju pada lelaki dengan badan setengah telanjang. Lelaki itu hanya menggunakan sarung hitam khas Kajang menutupi tubuh bagian pinggang ke bawah. Kepalanya ditutupi dengan passapu, sebuah penutup kepala khas Kajang yang terbentuk karena lilitan kain hitam. Perempuan tua yang duduk agak jauh dari Amma Toa ternyata istri beliau. Kecantikan masa muda masih tersirat di wajahnya.

Amma Toa menyambut kami dengan senyuman seorang ayah pada anaknya yang tak lama bertemu. Pembicaraan mengalir lancar setelah saya menjelaskan maksud kedatangan kami. Juga niat kami untuk bermalam di rumah beliau. Amma Toa lalu menawarkan kami untuk mencoba daun sirih   (piper betle) yang ada di dalam wadah emas di hadapan beliau. Kami mengiyakan. Amma Toa lalu lalu memilih daun sirih yang lebih hijau. “karena kalian masih lajang, saya pilihkan yang muda”, begitu kata beliau sambil menyodorkan potongan-potongan daun sirih pada kami bertiga.

Bersahaja, seorang bapak dan lelaki penuh kasih sayang. Kesan itu yang terasa begitu bertemu Amma Toa. Beliau menyambut kami dengan suguhan sirih, gambir, pinang, kapur dan tembakau di rumah panggung berlantai bilah bambu yang tersusun rapi.  Bayangan saya tentang wujud kepala suku seketika buyar.  Tak ada aksesoris yang memenuhi tubuh untuk  menunjukan dirinya adalah seorang kepala suku adat. Hanya tope’ (sarung hitam) dan passapu’ hitam yang ia kenakan. Bagi suku Kajang, warna hitam adalah penanda kesahajaan dan kesederhanaan mereka.

Amma Toa sebelumnya, yang juga ayah Amma Toa saat ini mangkat pada tahun 2001. “Usia ayah saya 100 tahun ketika mangkat (2001) dan saya lahir ketika beliau berusia 30 tahun. Jadi umur saya 70 tahun lebih” tutur Amma Toa. Jika berdasarkan penuturan itu, usia Amma Toa saat ini adalah sekira 82 tahun. Pada usia hampir mencapai seabad itu, Amma Toa masih terlihat gagah dengan tubuh berisi dengan tinggi badan sekira 170 cm lebih. Beliau terlihat 20 tahun lebih muda. Kulitnya putih, begitupun giginya yang tersusun rapi bersih. Seusia itu gigi Amma Toa masih utuh dan belum memakai gigi palsu. Mungkin karena kebiasaan mengunyah sirih, pinang, gambir dan kapur, juga tembakau.

Amma Toa memiliki 4 (empat) orang anak; 1 (satu) laki-laki dan 3 (tiga) perempuan. Anak pertamanya laki-laki, kini bermukim di Desa Maleleng yang juga termasuk wilayah Kecamatan Kajang. Dua anak perempuannya, anak kedua dan keempat, mengikuti suami mereka dan tinggal di dusun Balawana, Desa Tana Toa yang sering disebut Kawasan Kajang Luar.

Di depan gerbang Kawasan Kajang Dalam, Desa Tana Toa, Bulukumba (foto: Premous)

Di depan gerbang Kawasan Kajang Dalam, Desa Tana Toa, Bulukumba (foto: Premous)

Ramlah, yang menemani kami malam itu adalah anak ketiga Amma Toa. Ia baru saja menamatkan kuliahnya di salah satu perguruan tinggi swasta di Makassar. Usianya 27 tahun dan belum menikah. Dari Ibu Desa Bonto Baji kami mendengar kabar tentangnya, “Pernah ada yang melamarnya dengan uang panaik 50 juta ditambah 3 ekor kerbau. Belum lagi seserahan lainnya” kata Ibu Desa sesaat sebelum kami memasuki Kawasan Kajang Dalam.

Perkawinan suku Kajang mengikuti ritual Islam yaitu ijab kabul di rumah mempelai perempuan. Setelah menikah, pengantin lelaki harus berguru dulu pada mertua lelakinya selama 40 hari sebelum bisa tidur bersama istrinya. “Belajar itu kak” jawab Ramlah sambil tersenyum ketika kami menanyakan lebih lanjut. Kami jadi tertawa begitu mengerti maksudnya. Apalagi kalau bukan tentang hubungan suami istri.

Malam datang dengan cepat di Kawasan Kajang Dalam ini. Selepas makan malam, kira-kira pukul 19:00, saya turun untuk buang air kecil. Hanya ada hitam pekat menyelimuti kawasan hutan ini. Bahkan cahaya bulan pun tertutupi oleh lebatnya pepohonan.  Ramlah lalu menebar kasur tipis untuk kami dan menyodorkan bantal. Semuanya berwarna hitam. Kami coba berbaring dan sempat kena tegur oleh Ramlah karena tidur menghadap ke arah selatan. Kata Ramlah, di bagian selatan kawasan, terdapat hutan terlarang yang sama sekali tidak bisa dijamah. Tentu sangat keramat sampai-sampai tidur pun harus dijaga. Posisi tidur harus menghadap utara atau menghadap arah lain selain selatan, intinya kaki tidak boleh menghadap selatan.

Tak ada kamar tidur, saya memilih tidur di bagian paling luar, sebelah kanan dari pintu rumah, tepat di depan dapur. Amma Toa, istri dan Ramlah pun tidur di ruangan yang sama dengan kami. Ruangan di mana semua aktifitas berlangsung, sedari pagi hingga malam hari. Tak ada lampu sama sekali. Kami tidur hanya diterangi oleh redup palita, semacam obor yang terbuat dari bambu yang diisi dengan getah karet.

Tidur kami sangat lelap malam itu. Saya tak mengingat kapan terakhir kali saya menikmati lelap semacam itu.  Pagi kami terbangun oleh kokok ayam jantan sebagai alarm. Janji untuk ke pasar bersama istri Amma Toa gagal. Kami sempat terbangun tapi mengira masih malam karena gelap menyelimuti kami. Nyala palita’ sudah padam dan istri Amma Toa tak tega membangunkan kami.

Akhirnya, kami memutuskan ke pasar dengan berjalan kaki. Di jembatan kami bertemu istri Amma Toa yang baru saja pulang dari pasar. Di atas jembatan kecil ini mengalir sungai yang berair sangat jernih. Di sinilah semua warga Kajang Dalam mandi, buang hajat dan mencuci. Di depan gerbang kawasan kami menyempatkan berfoto dengan anak-anak SD. Sekolah mereka terletak tepat di depan gerbang kawasan. Bocah-bocah suku Kajang ini mengenakan seragam kemeja putih namun rok/celananya berwarna hitam, bukan merah. Kami juga beberapa kali menjumpai gadis-gadis muda sedang memintal benang dalam perjalanan kami yang tanpa memakai alas kaki.

Kajang - lelakibugis

Premous dan IbuPenyu di depan gerbang SD Kajang, Desa Tana Toa.

Sepulang dari pasar, Amma Toa ditemani istri dan beberapa pemangku adat Kajang Dalam telah menunggu kami dengan suguhan makanan. Sungguh lezat. Setelah makan, Amma Toa menyodori saya arak dari pohon enau. Ia menuangkan langsung dari gelas miliknya. Beliau langsung mengiyakan ketika saya meminta ijin untuk berkeliling Kawasan Kajang Dalam, bahkan langsung memerintahkan seorang warganya untuk menemani kami menuju kawasan pekuburan.

Bersama seorang warga yang menjadi pemandu, kami menuju ke pekuburan adat. Sebelum sampai kami melewati beberapa kuburan warga biasa. Kuburan tetua dan Amma-Amma Toa terdahulu tampak berbeda dengan nisan lainnya. Terbuat dari batu besar setinggi satu meter lebih dan kebanyakan berbentuk segitiga. Di  tengah makam terdapat  batu sebagai penanda jenis kelamin dari mayat yang dikubur. Jika hanya satu batu berarti dia laki-laki, kalau batunya dua berarti perempuan.

Pemandu kami menawarkan untuk melihat makam yang dipercayai sebagai makam pertama di Kajang Dalam. Rumput-rumput tinggi dan semak belukar menghalangi jalur dan membuat kami memutuskan untuk tak memaksakan diri untuk melihatnya. Untuk ke sana harus memangkas pepohonan yang menghalangi jalan. Kami memilih untuk keluar dari pekuburan dan berkeliling kawasan.  Segalanya hijau dan udara segar  begitu segar mengisi paru-paru kami meski waktu sudah menunjukkan siang hari.  Sayangnya, kami harus bergegas pulang karena mobil yang kami pesan untuk membawa kami kembali ke Makassar tak lama lagi akan menjemput.

Rasanya tak mau meninggalkan desa ini. Alam, kebudayaan dan adat-istiadatnya masih terjaga. Menciptakan harmoni dan keselarasan antara alam dan manusia. Semoga Kawasan Kajang Dalam yang merupakan potret Mahakarya Indonesia ini bisa bertahan dari gempuran jaman dan modernitas.

Related Posts

About The Author

5 Comments

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.