Sekilas Tentang Komunitas di Makassar

 

Gerakan Berbagi Nasi Makassar Merayakan #Nas1versary Dengan Berbagai Kegiatan

Apa yang kamu bayangkan ketika mendengar kata ‘Makassar’? Bagi sebagian orang, Makassar berasosiasi pada kekerasan, tawuran dan demontrasi yang vandalis. Citra ini terbentuk karena banyaknya berita tentang kekerasan, tawuran dan demontrasi yang terjadi di Makassar.

Citra ini juga melekat karena banyak yang mengganggap penamaan Makassar berasal dari kata ‘kasar’ yang ada di dalamnya, padahal Makassar sendiri berasal dari bahasa Makassar ‘akkasara’ yang berarti mewujud. Untuk penamaan kota Makassar ini, kamu bisa googling sendiri yah.

Tapi benarkah Makassar seperti yang itu? Memang benar apa yang diberitakan media seperti itu, ada kekerasan, ada tawuran dan demontrasi yang marak. Tapi, itu hanya sebagian kecil. Toh, kekerasan, tawuran dan demonstrasi terjadi di kota-kota lain di belahan negeri ini. Tak hanya di Makassar saja. Bahkan mungkin lebih sering.  Hanya saja, porsi pemberitaan tentang Makassar lebih banyak seputar hal-hal tersebut. Banyak kejadian atau hal positif yang terjadi di Makassar tapi kurang mendapat tempat di media kita.

Dua – tiga tahun terakhir, komunitas-komunitas di Makassar mulai bermunculan dan melakukan banyak hal positif untuk kota ini. Sebut saja Jalan-Jalan Seru Makassar yang sukses menggelar Makassar Traditional Games Festival dua tahun berturut-turut tanpa sokongan pemerintah dan sponsor perusahaan besar. Jalan-Jalan Seru Makassar berhasil merangkul komunitas-komunitas dan usaha-usaha kecil menengah yang ada di Makassar untuk bersama-sama menggelar even tahunan mereka ini.

Sejak tahun lalu, hadir pula Berbagi Nasi Makassar yang rutin berbagi dalam bentuk nasi bungkus kepada orang-orang yang membutuhkan seperti tuna wisma, pekerja malam (satpam dll), pemulung dll. Meski tak berbentuk komunitas, anggota gerakan Berbagi Nasi Makassar sangat konsisten dalam melaksanakan aksi mereka. Tak sekalipun mereka absen berbagi setiap minggunya.  Tak sekedar berbagi nasi, Berbagi Nasi Makassar juga rajin melakukan aksi sosial jika ada musibah yang terjadi di Makassar semisal penggalangan bantuan bagi korban kebakaran.

Ada pula Makassar Berkebun yang berhasil menyebarkan virus urban farming di Makassar sejak 2 (dua) tahun terakhir. Kini, Makassar Berkebun memiliki 2 kebun yang mereka kelola bersama penggiat dan masyarakat umum yang tertarik pada konsep berkebun di tengah kota.

Masih banyak lagi komunitas yang ada di Makassar yang melakukan kegiatan-kegiatan keren dan melibatkan banyak orang dalam skala besar. Postingan ini akan menjadi sangat panjang dan (mungkin) membosankan. Makassar tak sekadar kekerasan, tawuran dan demonstrasi yang merusak. Makassar tak selebar kotak tivi, halaman-halaman koran dan portal daring.

Sungguh sayang, kebijakan media kita sepertinya lebih mengutamakan pada pemberitaan yang lebih ‘heboh’ seperti kasus-kasus kekerasan, tawuran dan vandalism hingga kegiatan-kegiatan positif dari komunitas-komunitas yang ada di Makassar tak mendapat sorotan yang layak. Menjadi wajar jika citra Makassar seperti yang kita kenal sekarang.

Bagaimana jika komunitas-komunitas Makassar berkolaborasi dalam aksi kemanusiaan? Akan saya ulas pada tulisan berikutnya, tunggu yah 🙂

Related Posts

About The Author

Add Comment