SEBELAS SIMPUL “TAU MANUSIA” BUGIS MAKASSAR

SEBELAS SIMPUL “TAU MANUSIA”

Simpul 1:
“Sadda, mappabati Ada (Bunyi mewujudkan kata)
Ada, mappabati Gau (Kata mewujudkan Perbuatan)
Gau, mappabati Tau (Perbuatan Mewujudkan Manusia)
Tau … sipakatau (Manusia Memanusiakan Manusia)
Mappaddupa (Membuktikannya dalam Dunia Realitas)
Nasaba (Karena)
Engkai Siri’ta nennia Pesseta (Kita Memiliki Siri dan Pesse)
Nassibawai (Disertai dengan):
Wawang ati mapaccing, lempu, getteng, warani, reso, amaccangeng, tenricau, maradeka nennia assimellereng (Kesucian hati, kejujuran, keteguhan, keberanian, kerja keras dan ketekunan, kecendekiaan, daya saing yang tinggi, kemerdekaan, kesolideran)”.

Simpul 2:
“Makkatenni Masse ri (Berpegang teguh pada)
Panngaderengnge na Mappasanre ri elo ullena (Panngadereng serta bertawakal kepada) Alla Taala (Kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa)”.
Toddo Puli Temmalara ri Wawang Ati Mapaccinnge Nassibawai Alempureng (Teguh tak Tergoyahkan pada Hati yang Suci-bersih disertai dengan Kejujuran)”.

Simpul 3:
“Jangan sampai engkau terlalu manis dan pahit, sebab jikalau engkau terlalu manis, kau akan ditelan, jikalau engkau terlalu pahit, kau akan dimuntahkan”

Simpul 4:
“Karaeng Matoaya, Sultan Abdullah, berpesan kepada Karaeng Tumenanga ri Bontobireng. Apa kiranya yang akan kuwariskan kepadamu, mungkin memadai dengan lima perkataan ini saja: (1) Jika ada yang hendak dikerjakan perhatikan akibat perbuatan itu; (2) Jangan marah jika kau diingatkan; (3) Takutilah orang jujur; (4) Berita angin jangan didengarkan; (5) Barulah engkau berpuasa bila engkau merasa sempit.”

Simpul 5:
“Ditekankan oleh Karaeng ri Ujungtana mengenai kejujuran dan kecurangan, bahwa janganlah seorang raja menyukai orang yang tidak bermanfaat, meskipun dia termasuk keluargamu, pembantu di dalam rumahmu. Jika engkau menyukai orang yang demikian, maka orang akan terpancing prasangkanya, apa gerangan yang menyebabkan raja menyukai orang itu, padahal tidak ada juga manfaat yang dibuatnya. Akibat mereka saling cemburu, selanjutnya makin berkuranglah orang – orang yang kau harapkan untuk berperan dalam pembangunan kerajaan. Engkau wahai raja telah menderita perasaan risau.”

Simpul 6:
“Dasar persaudaraan kita: Mali siparappe, malilu sipakainge. Sirebba tannga tessirebba pasorong. Padaidi pada elo, sipatuo sipatakkong. Siwata menre, tessirui no. (Kita saling mengulurkan tangan ketika hanyut. Kita saling menghidupkan karena kita seia sekata. Saling mengangkat dan tak saling menjatuhkan. Berbeda pendapat, tetapi tidak menyebabkan adu kekuatan)”.

Simpul 7:
“Empat hal yang membawa kepada kebaikan: (1) Pikiran yang benar; (3) Jualan yang halal; (3) Melaksanakan perbuatan benar; (4) Berhati-hati menghadapi perbuatan buruk.”

Simpul 8:
“Empat macam yang memburukkan niat dan pikiran, yaitu: (1) Kemauan; (2) Ketakutan; (3) Keengganan; dan (4) Kemarahan.”

Simpul 9:
“Manusia yang jujur memiliki empat ciri, yaitu: (1) Ia dapat melihat kesalahannya sendiri; (2) Mampu memaafkan kesalahan orang lain; (3) Kalau ia diberi kepercayaan untuk menangani suatu urusan, ia tidak berhianat; dan (4) Ia menepati janji yang diucapkan.”

Simpul 10:
“Adapun syarat eratnya persaudaraan itu meliputi 5 hal, yaitu: (1) Mau sependeritaan; (2) Sama-sama merasakan kegembiraan; (3) Rela memberikan harta benda sewajarnya; (4) Ingat mengingatkan pada hal-hal yang benar; dan (4) Selalu saling memaafkan.”

Simpul 11:
“Engkau angin sedang kami ini daun kayu. Kemana engkau berhembus ke situ kami terbawa. Kehendakmulah yang berlaku atas kami. Kata-katamulah yang jadi. Jika engkau mengundang, kami datang. Memintalah dan kami memberi. Memanggillah dan kami menyahut. Walaupun anak dan isteri kami, (kalau) engkau tidak senangi, kami pun ikut tidak menyenanginya.”

[dikutip dari Asia Ram Prapanca di wall fb Menolak Perusakan Benteng Sombaopu

Related Posts

About The Author

Add Comment