Saya Blogger, Writer Wanna Be..

Dalam tulisan saya sebelumnya di Bukan Penulis … , saya menyatakan bahwa saya bukan penulis. Saya blogger yang writer wanna be.. Lalu kenapa saya memilih jadi blogger, bukannya penulis?

Ada beberapa alasan, seperti di bawah ini:

      1. Saya belajar menulis dengan coretan-coretan di diary. Hingga kini di lemari saya masih ada tersimpan 7 (tujuh) diary. Nah saat mahasiswa saya berambut panjang. Makanya saya beralih dari diary ke blog. Saya malas mendengar celetukan “gondrong kok menulis diary?”, jadilah saya blogger hingga sekarang.
      2. Saya pernah mencoba jadi penyair, gagal. Beralih ke menulis cerpen, gagal. Ingin terkenal melalui novel, saya pun gagal. Jadilah saya blogger kambuhan.
      3. Salah satu syarat untuk disebut penulis, konon, adalah punya tulisan yang termuat di koran. Saya belum punya tulisan yang termuat di koran, kecuali satu catatan perjalanan ke Taman Nasional Takabonerate yang mengalami pemotongan yang lumayan panjang demi menyesuaikan halaman koran yang terbatas. Di dalam blog, saya bebas menulis sependek atau sepanjang apapun yang saya mau.
      4. Syarat lain untuk dikategorikan sebagai penulis, konon, adalah memiliki satu buku yang memuat tulisan kita. Beberapa tulisan saya; baik cerpen, hasil penelitian, terjemahan, maupun amatan tentang kota termuat di beberapa buku. Tapi sekali lagi, tak ada satu buku yang memuat tulisan-tulisan saya sendiri.
      5. Dengan menjadi blogger, saya bisa menyalurkan hasrat narsis. Saya membagi catatan-catatan perjalanan. Tujuannya tentu saja agar pembaca blog saya tahu bahwa saya tergolong ke generasi kekinian yang rajin meng-update status ketika berada di tempat-tempat atau event yang hits bingits. Saya juga berharap, para pembaca blog saya jadi iri saat tahu saya sedang liburan di kapal live onboard atau sedang berada dalam kerumunan penonton konser Metallica, misalnya.
      6. Saat menjadi blogger, saya bisa nyinyir dan menjadi benar sendiri. Suka-suka saya ketika ingin mengkritisi apapun. Suka-suka saya jika tak mau menanggapi orang-orang yang nyinyir dan mengkritisi saya.
      7. Menjadi blogger, saya bisa menemukan rumah yang nyaman. Di dalam rumah yang bernama komunitas Anging Mammiri ini, saya bisa bertemu dengan banyak orang-orang hebat dengan berbagai karakter. Ada yang hebat tapi sombong, tapi lebih banyak yang hebat tapi lebih membumi. Blogger yang humble, kata Michael Bubble. Dengan status sebagai blogger saya juga memiliki banyak teman yang tersebar di berbagai kota. Tentu menyenangkan jika punya teman di setiap kota yang kita datangi.
      8. Dengan menjadi blogger saya bisa mendapat tambahan uang saku dari menulis review produk atau brand. Juga dari lomba-lomba yang saya ikuti, meski kenyataannya, jujur saja, saya jarang menang lomba. Syukur-syukur, kalau gara-gara postingan ini saya bisa dapat hadiah voucher buku dari Paccarita.

Sebenarnya, saya bisa menulis hingga 101 alasan kenapa saya jadi blogger tapi cukup 8 (delapan) ini saja biar sesuai dengan jumlah usia Komunitas Blogger Anging Mammiri Makassar yang sangat saya cintai ini.

Sekali lagi, selamat merayakan ulang tahun ke 8 yah teman-teman Paccarita. Semoga tetap menjadi rumah yang teduh bagi blogger-blogger kambuhan semacam saya. Peluk Cium selalu..

Related Posts

About The Author

3 Comments

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.