Rumah Kopi Sweetness: Sabar itu Berbuah Manis

“Siapa yang sabar menjalani proses akan menjadi pemenang” – Takbir

Sabar adalah sifat yang harus dimiliki oleh para pemenang. Itu yang diyakini oleh Takbir, seorang pecinta kopi yang dengan berlandaskan kecintaannya pada kopi dan kesabarannya bisa memiliki beberapa coffee shop dan membangun brand waralaba sendiri.

Bermodalkan dana 300 ribu, kompor gas mata satu pembagian pemerintah pada saat program konversi minyak tanah ke gas dan 2 (dua) meja serta 6 (enam) kursi, Takbir membuka warung kopi milknya pada tahun 2012. “Warung kopi ini dulu dikira warung remang – remang,” Takbir mengenang saat ia pertama kali membuka warung kopinya.

Lokasi yang agak terpencil dan sepi di tepi pantai membuat anggapan warung remang – remang itu muncul. Saat mengunjungi tempat itu, di pantai utara Soreang beberapa tahun lalu, saya tidak menemukan sebuah warung kopi pun, mungkin luput dari perhatian saya. Area pantai utara Parepare yang berdekatan dengan kabupaten tetangga, Pinrang, memang baru dibuka dan dibangun belakangan ini.

Bagi yang baru pertama kali ke Parepare, mungkin tak mudah menemukan warung kopi Takbir yang ia namai Rumah Kopi Sweetness ini. Untuk mencapainya, kita harus mengikuti jalan poros provinsi menuju  Pinrang, di Lapangan Kaveleri ambil jalan sebelah kiri, setelahnya belok kiri kmudian belok kiri lagi. Pantai ini tak jauh dari Tempat Pelelangan Ikan Cempae Parepare.

Takbir, Pemilik Rumah Kopi Sweetness

Takbir, Pemilik Rumah Kopi Sweetness

 

Tepian pantai dengan birai panjang membatasi laut dan jalan raya yang tak begitu ramai mengingatkan pada suasana Pantai Losari Makassar tahun 1980-an, bedanya tak ada penjaja makanan dan minuman kecuali Rumah Kopi Sweetness. Rumah Kopi ini memanfaatkan material dan bahan yang tidak terpakai dengan konsep reuse. Bahan – bahan itu diambil dari sampah – sampah laut yang terdampar di tepian pantai semisal ban bekas, kayu – kayu sampai botol bekas. Sedikit demi sedikit sampah itu berkurang dan disulap menjadi aksesoris kafe yang menarik.

“Sampah apapun kalau kita tata dengan baik akan jadi indah” ungkap Takbir, pemilik Rumah Kopi Sweetness yang memulai membuka usahanya ini dengan bermodal uang 300 ribu, kompor gas satu mata pembagian pemerintah dan 2 (dua) meja dengan 6 (enam) kursi. Perlahan demi perlahan, dari kedai kopi sangat sederhana menjadi sebuah tempat hangout pilihan anak muda Kota Parepare.

Keunikan rumah kopi ini, selain konsep reuse untuk interior, adalah pada penandaan meja yang tidak menggunakan penomoran tetapi penamaan berdasarkan nama daerah dan pulau – pulau yang terkenal sebagai penghasil kopi seperti Brazil, Papua, Bali, Sumatera, Flores, Toraja dan lain – lain. Di salah satu sudut, ada meja yang mereka beri nama Kiva Han, nama coffee shop pertama yang ada di dunia.  Kiva Han tercatat sebagai kedai kopi pertama di dunia ini dibuka tahun 1475 di di Konstantinopel oleh bangsa Turki pada jaman kekhalifahan Ottoman.

Takbir memasok kopi dari Toraja dan Enrekang, juga dari beberapa tempat lain seperti Brazil, Aceh dan lain – lain. Ke depan Takbir berencana membuka kebun kopi sendiri dengan menanam kopi Jember di Jeneponto. Selain untuk memenuhi kebutuhan kopi di Rumah Kopi Sweetness Parepare ini, Takbir juga menjadi pemasok kopi untuk 9 (Sembilan) warkop dan coffee shop di beberapa wilayah, termasuk salah satu hotel di Makassar.

kafe sweetness 1

 

Untuk di Rumah Kopi Sweetness sendiri, pesanan terlaris adalah kopi susu Robusta, selama sebulan bisa sampai 2000an gelas. Sementara untuk kopi Arabika terjual 800an gelas perbulan. Untuk harga, Takbir memang memasang harga sangat terjangkau. Menu termurah adalah kopi susu yang hanya dibanderol seharga Rp. 7000,- sementara yang termahal adalah Kopi Brazil seharga Rp. 21.000,- “Sengaja kami tidak naikkan harga untuk menjangkau semua kalangan,” ungkap Takbir.

Untuk menu lain, Rumah Kopi Sweetnees juga menyediakan minuman lain seperti mocktail dan aneka ice soda. “Menu selain kopi kami hadirkan untuk menjangkau pengunjung lain. Harapannya nanti mereka akan menjadi penikmat kopi juga” kata Takbir yang mengaku awal membuka kedai kopi ini karena kecintaannya pada kopi ini. Ada pula cemilan dan makanan berat bagi yang ingin melepas rasa lapar.

Rumah Kopi Sweetness tak mengenal jam operasional karena terbuka hampir 24 jam. Rumah kopi ini akan melayani jam pengunjung yang datang jam berapapun meski masih sangat pagi. Juga tetap buka sampai pengunjung terakhir beranjak meski adzan subuh sudah terdengar.  Waktu terbaik untuk menikmati kopi di Rumah Kopi Sweetness ini adalah pada pagi hari saat matahari terbit atau sore hari saat matahari terbenam.  Rumah Kopi Sweetness ini sendiri biasanya ramai pada pukul 19:00 – 22:00 wita dimana pengunjung bisa menikmati pendar lampu – lampu kota Parepare dari kejauhan.

kopi - kopi sweetness kafe

Berbekal kecintaan pada kopi, Takbir menuangkan filosofi SABAR itu ke dalam racikan kopinya; Sweet, Acid, Bitter Aroma. Baginya, kenikmatan kopi terletak pada 4 (empat) hal tersebut. Selain itu, “kenikmatan kopi juga melibatkan petani, tempat, suasana dan roaster,” tambah lelaki yang pernah menimba ilmu mengenai kopi pada Frangky Angkawijaya pada tahun 2013 ini.

Untuk nama Sweetness, Takbir sengaja memilihnya karena jumlah hurufnya 9 mengacu pada 99 Asmaul Husna. Ia juga sengaja memilih kata itu karena dimulai dan diakhiri dengan huruf ‘s’ dengan harapan bisa menjadi ‘success’. “Rumah Kopi juga 9 huruf, Sweetness juga 9 huruf. Begitupun dengan Starbucks. Diawali dan diakhiri dengan huruf s, seperti kata success’ demikian penjelasannya.

Kini kecintaan dan kesabarannya berbuah manis, Rumah Kopi Sweetness telah memiliki beberapa cabang dan waralaba. Di Parepare sendiri, Rumah Kopi Sweetness sudah berdiri di 3 (tiga) tempat. Selain di pantai utara Soreang, Takbir juga memiliki cabang dengan nama Rumah Kopi Sweetness  18, Rumah Kopi Sweetness 588 serta Sweetness UKM. Belum lagi 2 (dua) usaha Kopi Keliling yang menggunakan motor.  Di luar kota Parepare, Rumah Kopi Sweetness juga berdiri di Sidrap, Pinrang dan juga Nabire, Papua).

view sweetness kafe

Berawal dari warung kopi untuk diri sendiri, kini Takbir mempekerjakan paling tidak 17 orang karyawan yang sebagian besar adalah mahasiswa. Takbir sengaja mempekerjakan mahasiswa karena ingin membantu mahasiswa yang ingin mencari penghasilan sambil kuliah. Selain itu, Takbir juga menyediakan akomodasi dan menanggung biaya makan para karyawannya.

 

Kesuksesan itu, bagi Takbir, tak lepas dari bantuan banyak pihak. “Ada banyak dukungan dari teman – teman hingga Rumah Kopi Sweetness bisa seperti ini,” Untuk itu, ia tak segan membagi ilmunya kepada teman – teman dan karyawannya. “Saya tak mau terkubur bersama pengetahuan yang saya miliki” tutupnya.

Menyesap nikmat kopi di tepi pantai tentu sebuah momen yang harus dilakukan minimal sekali dalam seumur hidup. Jika sedang melintas di kota kelahiran presiden RI ke 3, Habibie, ini mampirlah untuk menikmati secangkir kopi di Rumah Kopi Sweetness.

Related Posts

About The Author

Add Comment