Romansa Kisah Habibie Ainun Kekal dalam Monumen Cinta Sejati

Sebab Cinta akan abadi dalam kenangan,

monument ini hadir mengekalkan ingatan.

 

Kita mengenal banyak kisah cinta romantis, pun tragis. Dari tanah para leluhur Pangeran William dan Ratu Elizabeth kita tahu akan kisah Romie and Juliet, sebuah roman cinta gubahan William Shakespeare. Lalu dari Timur – Tengah kita membaca kisah Qays dan Layla atau Laila dan Majnun. Dari nusantara kita mengenal Datu Museng dan Maepa Deapati, sebuah kisah cinta berakhir tragis.

Kisah – kisah cinta di atas adalah kisah – kisah yang tertoreh berabad lampau dan masih kita jumpai jejaknya, baik dalam bentuk buku maupun benda peninggalan yang mengekalkan kisah mereka. Di Makassar, makam Datu Museng dan Maepa Deapati masih bersanding menjadi saksi cinta mereka yang abadi.

Tak begitu jauh dari Makassar, sekira 150 kilometer arah utara, di Kota Pare – Pare sebuah monumen hadir untuk mengekalkan ingatan akan sebuah romantisme kisah cinta abadi abad ini. Di kota kelahirannya, berdiri sebuah monument untuk mengenang kisah B.J Habibie, Presiden RI ke 3 bersama istrinya, Ibu Hasri Ainun Habibie.

lelakibugis - monumen cinta sejati habibie ainun parepare

Kisah cinta pasangan Habibie – Ainun ini memang layak dikenang, lelaki kelahiran Pare – Pare ini menjadi panutan di jaman Orde Baru hingga kini karena kecerdasannya. Apalagi romansa kisah cinta Habibie – Ainun yang mengharukan memang layak dijadikan contoh. Sejak perkenalan mereka di bangku Sekolah Menengah Atas, kisah cinta mereka mengalir hingga kini meski Ibu Ainun sudah berpulang.

Habibie dan Ainun berkenalan saat mereka sama – sama berada di bangku sekolah menengah atas. Setelah terpisah selama 7 (tujuh) tahun, mereka bertemu kembali dan saling jatuh cinta. Mereka pun menikah selama 48 tahun hingga Ibu Ainun meninggal karena penyakit yang dideritanya. Ainun, bagi Habibie, adalah cinta pertama sekaligus terakhir.

Mantan Presiden ke 3 RI ini adalah sosok lelaki yang romantis. Wujud cinta Habibie hingga kini masih terus bisa kita saksikan meski secara fisik Ibu Ainun sudah tidak mendampinginya lagi. Hingga kini, makam Ainun selalu dihiasi bunga segar yang diganti setiap dua hari sekali atas permintaan Habibie. Mantan Menristek di era Soeharto ini pun selalu menyempatkan datang berdoa dan tahlilan di makam Ibu Ainun setiap hari Jumat. Pun, Habibie sudah menyiapkan lahan kosong di samping makam Ibu Ainun untuk ia tempati kelak dalam istirah panjangnya.

Salah sudut yang memajang foto di Monumen Cinta Sejati Habibie - Ainun - lelakibugis

Salah sudut yang memajang foto di Monumen Cinta Sejati Habibie – Ainun

Sebagai penghargaan dan bentuk apresiasi akan cinta Habibie – Ainun itu, Pemerintah Kota Pare – Pare membangun sebuah monument yang mereka namakan Monumen Cinta Sejati Habibie – Ainun. Monumen yang memajang patung Habibie – Ainun terbuat dari perunggu ini diresmikan langsung oleh Habibie pada Selasa, 12 Mei 2015.

Dalam sambutan saat peresmian monumen itu, walikota Parepare, Taufan Pawe berharap “Monumen Cinta Sejati Ainun Habibie ini, dibuat untuk mengenang cinta sejati Habibie bersama Ainun, dan untuk menginspirasi warga Parepare. Selain itu Monumen Cinta sejati Ainun Habibie, ini adalah kado pernikahan untuk Habibie di hari ulang tahun pernikahannya dengan Ibu Ainun,” Peresmian ini bertepatan dengan hari dan tanggal pernikhan BJ Habibie dan Istrinya (alm) Ainun Habibie.

Patung Habibie-Ainun yang terbuat dari perunggu ini dibuat di Yogyakarta dan menghabiskan anggaran APBD Kota Parepare sebesar Rp1,4 miliar. Monument ini berada di titik nol pusat kota, di Lap. Andi Makkasau. Posisi yang sangat strategis karena juga dekat dari pelabuhan. Setiap hari, utamanya di sore hari, ratusan pengunjung memadati monument ini, baik itu untuk berfoto bersama rombongan, teman atau bahkan hanya untuk selfie , dan juga untuk melihat perjalanan cinta Habibie Ainun melalui foto – foto yang terpajang di monumen ini.

Warga berfoto di depan Monumen Cinta Sejati Habibie dan Ainun di Lapangan Andi Makkasau, Kota Pare-pare, Sulawesi Selatan, Foto: Iqbal  Lubis

Warga berfoto di depan Monumen Cinta Sejati Habibie dan Ainun di Lapangan Andi Makkasau, Kota Pare-pare, Sulawesi Selatan, Foto: Iqbal Lubis

Pengunjung monumen ini tak hanya dari kota Parepare tapi juga banyak yang berasal dari luar kota. Parepare adalah kota transit, letaknya berada di tengah – tengah Provinsi Sulawesi Selatan, menjadi kota persinggahan bagi pelintas yang akan menuju beberapa kabupaten. Kota ini juga banyak disinggahi oleh pelancong atau turis yang akan menuju ke Tana Toraja. Belum lagi wisatawan – wisatawan asing yang datang dengan kapal pesiar yang banyak singgah di pelabuhan Parepare.

Salah satu pengunjung, Masnah (42 tahun), yang saya jumpai sehari setelah Idul Fitri 1436 Hmengaku datang bersama keluarga untuk melihat langsung Monumen Cinta Sejati Habibie ini. Pegawai Negeri Sipil di lingkup Departemen Agama Kab. Takalar ini mengagumi Habibie, “Kisah hidup Habibie sangat inspiratif. Beliau sangat ingin melihat Indonesia dipandang di dunia.” Tuturnya.

Masnah yang memiliki 4 (empat) orang anak ini juga sangat mengagumi kisah cinta yang terjalin antara Habibie – Ainun, “Cinta Habibie – Ainun belum ada yang menyamai. Sejak pertama kali mereka kenal, menikah, punya anak hingga dipisahkan oleh ajal. Cinta mereka abadi tak goyah oleh apapun,” kata ibu yang berharap memiliki menantu seperti Habibie ini.

Punya pasangan? Ajaklah ia berfoto di depan Monumen Cinta Sejati Habibie – Ainun ini. Jomblo? Carilah pasangan terlebih dahulu..

Related Posts

About The Author

2 Comments

Add Comment