Refleksi Nasi Untuk Kartini Berbagi Nasi Makassar

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Cece mau berbagi cerita sedikit agak panjang nah, Semoga tidak menganggu timelinenya kalian dan berkenaan menyempatkan sedikit waktunya buat baca, Semoga bisa menjadi pelajaran buat kita semua smile emoticon

Jadi tepat Selasa malam yg lalu, 21 April 2015. Sy mengikuti sebuah kegiatan sosial dari gerakan Berbaginasi Makassar yaitu “Nasi Untuk Kartini” yg ditujukan kepada ibu-ibu yg berjuang dipinggir jalan untuk mencari nafkah, mereka akan diberikan bingkisan sembako, nasi bungkus dan seikat bunga dan ucapan “Selamat Hari Kartini” sy datang lengkap dengan menggunakan dresscode sesuai yg telah disepakati oleh teman-teman pejuang nasi yaitu “berkebaya atau menggunakan baju bodo (untuk perempuan) dan sarung plus songkok to bone (untuk laki-laki)” *kira-kira begitulah*

Nasi Untuk Kartini - Berbagi Nasi Makassar

Nasi Untuk Kartini – Berbagi Nasi Makassar

Setelah berkumpul di KEPO (Kedai Pojok Adhyaksa) bersama teman-teman pejuang nasi yg lain yg juga ikut berpartisipasi. Lalu diaturlah tujuan berbagi ke dua arah. Timur dan barat. Kebetulan sy ikut berbagi ke arah timur.

Saat mulai berbagi, kami telah bertemu beberapa Ibu yg menjadi target berbagi kami. Sy hanya akan menceritakan dua kisah dari beberapa orang Ibu yg sy temui malam itu. Menurut sy, cerita kedua ibu ini bisa saling melengkapi.

Yang pertama, sy bertemu seorang ibu pemulung dengan tiga orang anak, Ibu Ramlah, 30 tahun. Iya, ternyata dia mempunyai tiga orang anak. Karena awalnya yg terlihat oleh sy hanya dua anak sj yg ikut berjalan bersama ibunya memulung. Ternyata seorang anak lagi berusia 5 bulan tertidur diatas becak ibu itu saat melihat anak bayi itu tertidur pulas diatas papan didalam becak yg berisi barang-barang bekas yg dikumpulkan ibu itu rasanya hati sy menangis kaget melihatnya dan tidak tega akhirnya sy ikut bertanya pada ibu itu saat seorang teman tengah mewawancarainya dengan melontarkan beberapa pertanyaan.

Ibu Ramlah - Nasi Untuk Kartini - Berbagi Nasi Makassar

Ibu Ramlah – Nasi Untuk Kartini – Berbagi Nasi Makassar

Sy: iihh ibu ada anak bayinya disini tidur, nda apa2ji itu ibu?
Ibu: iye, nda apa2ji nak, sudah biasa
Sy: usianya berapa bulan bu?
Ibu: 5 bulan nak
Sy: ibu, suaminya kerja apa?
Ibu: memulungji juga nak
Sy: skrg suaminya dimana bu?
Ibu: waktu sy hamil anak yg ketiga ini *memegang bayinya* dia pamit pergi ke polman, ingin memulung disana nak tp sampai anak sy ini lahir dan skrg sudah berusia 5 bulan dia sudah tidak pernah pulang lagi. Tidak pernah juga ada kabarnya nak.

Seketika sy speechless tdk bisa berkata apa-apa lagi. Lalu sy membayangkan perjuangan ibu ini harus hidup setiap hari membawa ketiga anaknya memulung kesana kemari, kasian sama yg masih bayi tapi rasanya ibu itu tidak punya pilihan lain untuk bisa tetap bertahan hidup membiayai ketiga anaknya setelah ditinggal pergi suaminya

Yang kedua, sy bertemu seorang ibu penjual kue “Putu”. Namanya Ibu St. Hasnah, 56 tahun. Saat melihat kami datang ramai-ramai didepan tempatnya menjual. Dia kelihatan sedikit bingung. Lalu ketika seorang teman pejuang nasi memberikan bingkisan sembako padanya, dia terlihat sangat bahagia, sembari menerima pemberiannya ia terhenti sejenak dan terlihat mengangkat kedua tangannya seperti sedang berdoa. Kami menunggu hingga ia selesai sambil dalam hati masing-masing mengucap “Aamiin” setelah selesai kami memberikan nasi bungkus dan bunga serta ramai-ramai mengucapkan “Selamat Hari Kartini, Ibu” lalu berjabat tangan dan mencium tangannya. Saat itu sangat jelas sy melihat matanya berbinar-binar terharu. Diantara semua Ibu yg sy temui malam itu, rasanya hanya ibu ini yg matanya terlihat seterharu itu.

Saat seorang teman mulai mewawancarai, sy juga ikut bertanya. Ternyata rumah tempat tinggalnya sangat jauh dari lokasi ia menjual kue “putu” setiap hari. Dan bersyukurlah ibu ini karena, Seorang laki-laki bertitlekan “Suami” Alhamdulillah masih menetap disisinya. Dengan pekerjaan suaminya sebagai tukang bentor (becak motor) , setiap harinya sang suami yg mengantarkan si Ibu dengan semua perkakas jualan kuenya ke tempat tersebut dan menjemputnya saat waktu pulang sekitar jam 10 malam. Tapi, saat bertanya ibu punya anak berapa. Ia pun menjawab “Ibu tidak punya anak nak” saat menjawab pertanyaan itu, sy melihat raut muka si Ibu sama sekali tidak terlihat sedih mengakui kekurangannya.

Dari dua kisah diatas membuat sy merasa belajar banyak hal. Salah satunya “Bersyukur”. Ibu ramlah dikaruniakan tiga orang anak tapi kemudian ditinggal pergi suaminya. Dan dia harus tetap memulung bersama ketiga anaknya termasuk yg masih bayi. Ibu St. Hasnah, usianya 26 tahun lebih tua dari Ibu Ramlah. Dan Alhamdulillah suaminya tetap setia disisinya sekalipun sang Ibu belum bisa memberikan keturunan kepadanya. Dan keduanya, sama-sama terlihat sabar, tegar dan kuat menghadapi kerasnya hidup dengan kekurangan yg masing-masing mereka miliki.

Jika ingin melihat apa yg orang lain miliki kamu takkan pernah bahagia. Karena rasa ingin memiliki hal yg sama, sama sekali menjauhkanmu dari bahagia.
Bersyukurlah, atas apa yang kamu miliki dan yg tidak kamu miliki.
Bersyukurlah, atas semua nikmat dan rezeki yg diberikan Tuhan kepadamu.
Dan, berbagilah agar kamu merasa bersyukur dan bahagia.

Sekian dan Terimanasi banyak telah membaca

——————-

Tulisan di atas adalah refleksi dari seorang pejuang nasi setelah mengikuti salah satu kegiatan Berbagi Nasi Makassar.. Saya tak mengubah apapun isi tulisan, termasuk tanda baca. Judul dari saya.

Semoga kita selalu bisa dilimpahi keberkahan dan rasa syukur atas apa yang kita miliki..

Related Posts

About The Author

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.