Quo Vadis Komunitas Makassar?

Akan kemana arah komunitas – komunitas di Makassar pasca Pesta Komunitas Makassar yang sudah berlangsung selama tiga tahun?

Quo vadis (Classical Latin: [kʷoː waːdis], Ecclesiastical Latin: [kʷoː vadiːs]) adalah sebuah kalimat dalam bahasa Latin yang terjemahannya secara harafiah berarti: “Ke mana engkau pergi?”

Frasa Quo Vadis ini sering kali saya jumpai pada artikel-artikel di kolom opini surat kabar harian, lokal maupun nasional, saat masih kuliah. Itu di era awal 2000an. Entah kenapa para penulis di koran-koran pada jaman itu suka sekali menggunakan frasa quo vadis. Biasanya, artikel yang memakai frasa Quo Vadis sebagai judul membahas tentang sesuatu, biasanya sebuah lembaga, kemudian mempertanyakan atau menggugat posisi, kondisi dan peran lembaga tersebut. Misalnya: Quo Vadis MUI?

Quo Vadis ini, konon, diucapkan oleh Santo Petrus pada Yesus yang saat itu akan pergi. Petrus bertanya “Quo Vadis Domine? Kemana Anda pergi Tuhan?” Cerita ini dipercaya adalah saat pertama kali frasa quo vadis digunakan. Sebuah lukisan karya Annibale Carracci yang menggambarkan pertemuan ini juga menggunakan judul Quo Vadis. Kini lukisan yang dibuat pada tahun 1602 berada di National Gallery, London.

Judul tulisan ini, Quo Vadis Komunitas Makassar, terlintas begitu saja saat saya menerima pesan melalui aplikasi percakapan LINE dari seorang pegiat Akademi Berbagi. Pesan itu berupa permintaan menjadi pembicara dalam diskusi dengan tema: Komunitas di Makassar Hari Ini.

Saya salin dan tempelkan pembuka dari percakapan kami itu, isinya seperti ini:

“Saat ini banyak sekali komunitas yang ada di kota Makassar dan “Komunitas Makassar” berhasil mengumpulkan mereka dalam “Pesta Komunitas Makassar” yang berlangsung cukup meriah. Tapi setelah acara berlangsung, sudah. Tidak ada tindak lanjutnya. Komunitas-komunitas kembali berjalan sendiri-sendiri, sibuk dengan kegiatannya masing masing. Padahal Komunitas Makassar awalnya dibentuk untuk menyatukan visi misi, sebagai wadah bagi komunitas untuk bersinergi dengan komunitas lain untuk membuat sesuatu yang lebih baik lagi.

Melihat hal ini @akbermks berencana membuat diskusi bareng teman teman komunitas Makassar untuk membahas bagaimana komunitas Makassar ke depannya. Bentuknya berupa diskusi terbuka dengan beberapa pembicara. Untuk itu kami berharap om bisa diajak jadi pembicara di diskusi tersebut.”

Melihat alasan penyelenggaraan diskusi di atas, saya mengiyakan. Tema ‘Komunitas Makassar Hari Ini’ tentu saja menarik. Membincang komunitas Makassar hari ini tentu membincang kondisi kekinian dan tentunya akan menyinggung masa nanti. Namun, sebelum membahas kondisi kekinian dan masa nanti, saya ingin kembali sejenak ke masa yang terlalu lampau. Ini ada kaitannya dengan kalimat ini: Padahal Komunitas Makassar awalnya dibentuk untuk menyatukan visi misi, sebagai wadah bagi komunitas untuk bersinergi dengan komunitas lain untuk membuat sesuatu yang lebih baik lagi.

 

komunitas-di-makassar-hari-ini-akber

Bincang Komunitas Bersama Akademi Berbagi Makassar “Komunitas Makassar Hari Ini”, 28 Oktober 2016

Diksi ‘dibentuk’ mungkin kurang tepat, Komunitas Makassar bukan sebuah organisasi. Niatan awal dari Pesta Komunitas Makassar tidak akan mengarah menjadi sebuah organisasi. Pada pembukaan gelaran PKM 2014, Daeng Ical, Wakil Walikota Makassar, pernah meminta teman-teman pegiat komunitas yang ada di Makassar untuk membentuk sebuah lembaga yang mewadahi berbagai komunitas di Makassar. Permintaan itu teman-teman tolak dengan berbagai pertimbangan.

Ide awal untuk menyatukan berbagai komunitas dalam sebuah wadah untuk berkolaborasi dan mengadakan kegiatan bersama muncul saat penyelenggaraan Blogger Nusantara 2012. Saat itu, komunitas blogger Makassar Anging Mammiri (AM), yang menjadi tuan rumah kegiatan yang menghadirkan komunitas-komunitas blogger se nusantara, juga mengundang komunitas dan menyediakan lapak bagi mereka untuk berpartisipasi. Jika tak salah, ada 20an komunitas yang meramaikan kegiatan itu.

Beranjak dari kegiatan itu, teman-teman di AM pun terpikir untuk mengadakan sebuah kegiatan di mana panitia penyelenggaranya berasal dari berbagai komunitas. Bukan lagi AM sebagai panitia dan komunitas lain hadir sebatas undangan. Komunitas-komunitas di Makassar lah yang akan menjadi panitia, merancang, melaksanakan dan mengisi kegiatan itu.

Barulah pada tahun 2013, ide itu kembali kami (saya, Ryan, Daeng Ipul dan Ahmad MA) bicarakan dengan lebih serius. Adalah Ahmad Maulana Agung, ketua AM saat itu yang kami ‘tugaskan’ untuk menghubungi dan mengumpulkan nama-nama komunitas di Makassar. Butuh waktu yang tak sebentar untuk bisa sekadar membuat puluhan komunitas untuk duduk bersama. Akhirnya, setelah proses panjang, Pesta Komunitas Makassar bisa terwujud pada tahun 2014. Juga berturut-turut pada tahun 2015 dan 2016.

Untuk cerita lebih dalam tentang PKM 2014 dan 2015 bisa dibaca di Pesta Komunitas Makassar 2015: Sinergi, Harmoni dan Aksi Ratusan Komunitas Makassar  

Pada gelaran PKM 2016 saya memilih untuk tidak terlibat langsung. Sudah setahun memilih fokus pada Kepo Iniative, dimana penggagasnya adalah sebagian besar pegiat komunitas yang aktif di Pesta Komunitas Makassar tahun 2014 dan 2015. Juga, karena memberi kesempatan pada yang lebih muda untuk lebih aktif dalam PKM adalah sebuah keharusan.

Tentang Kepo Initiative, yang berawal dari Kelas Menulis Kepo, bisa dibaca di  Kelas Menulis Kepo, Merekam dan Mengabarkan Komunitas Makassar.

Bagi saya, gelaran PKM 2015 adalah klimaks sekaligus awal yang baru bagi komunitas-komunitas di Makassar. Klimaks, karena PKM 2015 sudah berhasil menyatukan dan melebur ego ratusan komunitas untuk kemudian melakukan sinergi, harmoni dan aksi bersama. Menjadi awal, untuk menyatukan anak – anak muda Makassar, yang tergabung dalam ratusan komunitas dengan beragam latar, untuk kemudian bersinergi dalam harmoni untuk melakukan, tidak hanya sebuah, aksi – aksi nyata demi sebuah perubahan, setidaknya membuat kota Makassar menjadi kota yang layak dan nyaman huni.

Pasca PKM 2015, bagi saya, adalah saat untuk komunitas untuk lebih sering berkolaborasi tanpa harus merayakan pesta yang besar. Saatnya untuk memperbanyak ‘pesta-pesta’ kecil. Melakukan kegiatan kolaboratif berdasarkan kategori komunitas, misalnya per dua atau tiga bulan. Harapan ini saya sampaikan pada pertemuan evaluasi PKM 2015 di Sushibizkid, yang saat itu masih di Jl. Pettarani.

Senada dengan apa yang dilontarkan oleh Kanda Asril Sani, salah seorang Steering Committee PKM 2015, yang menegaskan bahwa tantangan komunitas-komunitas ke depan adalah mewujudkan proyek-proyek kolaborasi yang telah disepakati bersama pada PKM 2015. “Project kolaborasi merupakan modifikasi dari item kegiatan kelas kolaborasi tahun lalu. Jika kelas kolaborasi lebih menekankan pada konsep coaching clinic maka pada project kolaborasi, masing masing komunitas setiap kategori, diberi waktu untuk memaparkan ide terbaik sekaligus next  project mereka.” Ungkap Asril.

Salah satu proyek bersama yang terwujud adalah, setahu saya adalah, Pesta Anak Makassar 2016 yang terselenggara berkat kerjasama lintas komunitas. Ada juga Ngumbar atau Ngumpul Bareng Komunitas (pecinta) Hewan. Kedua kegiatan ini adalah rangkaian dari pra even PKM 2016. Setelah itu, ada beberapa kegiatan kolaborasi lintas komunitas sosial di Makassar.

Terlepas dari ada tidaknya kegiatan kolaboratif selepas PKM 2016, namun setahu saya gairah bekerja bersama dalam sebuah kegiatan tetaplah besar. Setidaknya, anggota-anggota komunitas lain turut meramaikan kegiatan komunitas lain. Memang nyaris tak ada lagi kegiatan yang digagas dan dilaksanakan bersama, khususnya yang memberi dampak positif ke masyarakat, seperti; Kampung Hijau, Kemah Bakti, Gerakan Cabut Paku Pohon, dll. Juga, aksi-aksi spontan yang melibatkan banyak komunitas yang bergerak bersama ketika bencana seperti gerakan Donasi Masker dan Oksigen buat korban asap, bantuan buat korban kebakaran dan banjir, misalnya.

Kemeriahan Pesta Komunitas Makassar 2015 di Benteng Jumpandang Makassar. PKM 2015 ini melibatkan sekira 150an komunitas yang ada di Makassar

Kemeriahan PKM 2015 di Benteng Jumpandang Makassar

Inilah yang harus menjadi tantangan sekaligus jawaban dari pertanyaan QuoVadis Komunitas Makassar Hari Ini? Akan ke mana Komunitas Makassar hari ini dan masa nanti?

Pertama: merancang dan mengadakan kegiatan bersama,

tak perlu mengadakan pesta besar, cukup dengan pesta-pesta kecil tapi sering. Cukup dengan memperbanyak kolaborasi antar komunitas, membuat enam atau lima acara kecil dalam setahun sesuai tema dari kategori komunitas yang berkolaborasi.

Kedua: melakukan refleksi dan evaluasi dari langkah – langkah mereka demi mengurai kekurangan – kekurangan yang ada dan kemudian melakukan perbaikan dalam kegiatan – kegiatan ke depan.

Termasuk dalam hal ini membentuk tim kerja untuk mengaktifkan kembali semua kanal-kanal media sosial yang dimiliki PKM. Jika memungkinkan, menghidupkan kembali website sebagai sumber informasi mengenai komunitas-komunitas di Makassar. Paling tidak memuat profil dan info kegiatan komunitas-komunitas yang ada di Makassar. Kelak, jika ini bisa konsisten, maka kalender even komunitas Makassar yang menjadi salah satu tujuan adanya Pesta Komunitas Makassar bisa terwujud.

Ketiga: menentukan dan ‘merebut’ satu publik area untuk dijadikan sebagai tempat berkumpulnya komunitas-komunitas di Makassar.

Harus ada sebuah tempat bagi komunitas untuk selalu bertemu dan berkumpul. Semakin sering pertemuan lintas komunitas terjadi, maka ide-ide kreatif dan kerja-kerja kolaboratif akan semakin mudah terwujud.

Pada helatan PKM 2015 saat sesi bincang-bincang, saya pernah meminta pada Ibu Rusmayani, Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar, untuk memberikan sebuah tempat bagi komunitas-komunitas Makassar bisa berkumpul. Sayang sekali, saat itu ibu Rusmayani tak bisa memberikan jawaban mengenai tempat itu. Sebagai jawaban, Ibu Rusma menawarkan untuk teman-teman datang ke kantor Dinas Pariwisata jika memiliki ide atau kegiatan.

Ibu Rusmayani sebagai perpanjangan tangan pemerintah kota sudah membuka kesempatan untuk teman-teman komunitas berkomunikasi dengan pemerintah. Sebuah tawaran menarik sebenarnya, meski agak sulit terpenuhi mengingat biasanya anak-anak muda ini tak begitu suka berurusan dengan birokrasi.

Untuk itu perlu upaya terobosan dari teman-teman komunitas untuk mencari atau merebut sebuah area publik untuk selalu bertemu dan berkumpul. Salah satu area publik yang bisa teman-teman tempati adalah Monumen Mandala yang selama ini jarang terpakai untuk umum kecuali ada kegiatan.

Mengadakan pesta-pesta kecil, refleksi dan membentuk tim kecil, merebut ruang publik, ketiga hal tersebut, rasanya cukup untuk menjawab pertanyaan Quo Vadis Komunitas Makassar? Juga, sebagai pengantar diskusi Komunitas Makassar Hari Ini yang akan diadakan oleh Akademi Berbagi, Jumat 28 Oktober 2016.

Related Posts

About The Author

Add Comment