Qonita Kurnia Anjani, Peraih Medali Emas Untuk Produk Inovasi dan Penemuan di Iasi Romania

Qonita meraih penghargaan prestisius di bidang produk inovasi dan penemuan di Iasi Romania. Meski meraih penghargaan bertaraf internasional, nama Qonita tak banyak disebut media. Laman web resmi Unhas pun hanya menayangkan foto beserta penjelasan singkat tentang prestasinya.

Cobalah ketik ‘prestasi anak muda Makassar’ di mesin pencarian Google. Apa yang akan kalian temukan? Jumlah hasil pencarian hanya sekira 490.000 dan itu pun didominasi berita-berita lama. Rupanya media kita, utamanya media daring, tak banyak mengangkat soal prestasi anak muda Makassar. Tanya kenapa?

Apakah memang teramat sedikit anak muda Makassar yang berhasil mengukir prestasi? Jawabannya bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Melalui sedikit usaha, saya berhasil menemukan nama Qonita Kurnia Anjani. Siapa Qonita?

Saya menemukan namanya melalui website unhas.ac.id. Laman website resmi Universitas Hasanuddin itu pun hanya menampilkan gambar disertai keterangan “Selamat Kepada Mahasiswi Unhas (Qonita Kurnia Anjani, dari fakulktas Farmasi UH) yang Meraih Juara I pada Lomba Karya Tulis Ilmiah di Romania, dengan judul : “Nepelatobi : Solution for Prevention Colorectal Cancer” dalam kompetisi  “8th Europan Exhibition of Creativity and Innovation (EUROINVENT) 2016” yang dilaksanakan pada 19-21 Mei 2016 di Iasi, Romania.”

Tak ada penjelasan lain selain yang saya kutip di atas. Keterangan itu pun ternyata salah. Belakangan, saya berhasil menemukan alamat surel Qonita dan mengirimkan beberapa pertanyaan terkait prestasinya.

Melalui surel balasan, Qonita mengklarifikasi kalau ia bukan memenangkan lomba karya tulis, “Sebelumnya saya mau klarifikasi dulu, penghargaan yang saya terima di Romania kemarin bukan Juara I LKTI, melainkan Peraih Medali Emas untuk produk inovasi dan penemuan” tulis Qonita dalam pembuka jawaban dari beberapa pertanyaan yang saya kirimkan.

Mahasiswi Jurusan Farmasi angkatan 2012 ini berhasil memenangkan medali emas untuk produk inovasi dan penemuan dalam kompetisi  8th Europan Exhibition of Creativity and Innovation (EUROINVENT) 2016 yang dilaksanakan pada 19-21 Mei 2016 di Iasi, Romania melalui inovasi ekstrak kulit rambutan sebagai pencegah kanker kolorektal.

Lalu bagaimana cerita hingga Qonita bisa meraih penghargaan bergengsi itu?

Desember 2015, bersama teman yang bernama Satriyani, mereka berinisiatif untuk mengajukan inovasi produk ke kompetisi di Taiwan.  Pada kompetisi tersebut mereka mendapatkan medali perak. Awal Februari  2016 ia mendapat email rekomendasi untuk mengajukan kembali inovasi produk tersebut ke kompetisi di Romania.

Qonita dan Satriyani pun melakukan persiapan selama 3 (tiga) bulan. Karena keterbatasan biaya, akhirnya hanya Qonita yang berangkat ke Romania. Keputusan itu mereka ambil setelah melakukan diskusi berdua. Alasan lain, karena pada saat itu Satriyani ingin fokus menyelesaikan skripsinya.

Bagi Qonita, perjalanan ke Romania ini merupakan yang terjauh dan paling menantang. Waktu yang dibutuhkan dari Makassar ke Iasi, Romania ditempuh selama 2 (dua) hari 1 (satu) malam.  Qonita bahkan merasa sudah seperti anak hilang di sana.  “Alhamdulillah saya bertemu dengan beberapa orang Indonesia saat transit di Kuala Lumpur dan Amsterdam sehingga waktu transit tidak terlalu membosankan” kenang Qonita.

Sesampainya di lokasi lomba yaitu di Palas Mall (Mall dan Convention Center terbesar di Iasi, Romania),  Qonita menarik nafas panjang. Jumlah peserta kompetisi ini ternyata lebih dari target panitia yang diinfokan melalui email terkait penjelasan lomba. Target awal kompetisi ini adalah 300 judul/produk, namun ternyata partisipan melonjak menjadi 500 judul/produk.

“ Tapi Bismillah, saya sudah datang sejauh ini, sudah banyak yang dikorbankan ini, saya harus terus maju dan berusaha membawa pulang medali.” Qonita membulatkan tekad dalam hati. Tidak lupa ia selalu kontak dengan orang tua, Satriyani, dosen-dosen Farmasi UNHAS, dan sahabatnya untuk terus memohon doa dan dukungannya.

 

Qonita Kurnia Anjani di "8th Europan Exhibition of Creativity and Innovation (EUROINVENT) 2016" (foto: unhas.ac.id)

Qonita Kurnia Anjani di “8th Europan Exhibition of Creativity and Innovation (EUROINVENT) 2016” (foto: unhas.ac.id)

 

Lomba berlangsung selama 2 hari. Hari pertama penjurian, hari kedua pameran dan pengumuman. Pada saat penjurian, inovasi dan produk Qonita mendapat kesempatan dinilai oleh profesor dari Iraq dan Romania. Setelah presentasi tentang inovasi dan produk, Qonita juga menjawab pertanyaan tentang beberapa hal terkait produk dan rencana implementasinya.

Pada hari kedua, stan produk masing-masing peserta mulai dibuka. Banyak yang tertarik dengan inovasi dan produk Qonita, termasuk professor dari Arab Saudi dan Polandia.  “Alhamdulillah, kedua negara tersebut memberikan penghargaan khusus untuk produk kami. Sore hari pada agenda pengumuman, bergetar haru pada saat diumumkan medali emas untuk Indonesia.” Ungkap Qonita. Ia pun membawa pulang 1 (satu) medali dan 2 (dua) penghargaan khusus untuk UNHAS, Makassar, dan Indonesia. “semua berkat doa dari orang-orang yang telah mendukung saya.”

Inovasi dan produkyang  Qonita bawa ke kompetisi itu adalah tentang kombinasi bakteri Lactobacillus Casei dan ekstrak kulit rambutan yang diformulasi dan dibentuk menjadi mikrokapsul. Secara kasat mata bentuknya seperti serbuk biasa, namun sebenarnya merupakan kapsul spheris berukuran mikro. Inovasi ini dilatarbelakangi oleh banyaknya limbah kulit rambutan pada saat musimnya yang hanya terbuang dan menumpuk mengotori lingkungan.

Ekstrak kulit rambutan juga termasuk material yang dapat dikategorikan memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat sehingga dapat dijadikan kandidat obat kanker karena dapat mengatasi radikal bebas dalam tubuh.  Sehingga perlu upaya tertentu untuk memanfaatkan limbah ini. Adapun bakteri jika dikonsumsi dapat rusak dan tidak berfungsi sebelum sampai di usus besar jika sudah terkena asam lambung dan garam empedu, maka diperlukan formulasi khusus untuk melindungi bakteri ini agar tetap stabil. Qonita dan Satriyani pun berinovasi mengkombinasi bakteri Lactobacillus casei dan ekstrak kulit rambutan untuk meningkatkan efektivitas bakteri tersebut menjaga kesehatan usus dan organ pencernaan lainnya sehingga kanker kolorektal dapat dicegah dan penyerapan nutrisi semakin baik.

“Kami prihatin dengan jenis penyakit kanker kolorektal yang 80% terdeteksi pada saat late stage yang pengobatannya hanya bisa dengan kemoterapi. Oleh karena itu sangat dibutuhkan upaya pencegahan untuk bisa terhindar dari penyakit ini.” ungkap Qonita. Belum lagi harga produk suplemen kesehatan yang berisi bakteri di pasaran sangat mahal dan kurang terjangkau. Qonita berharap dengan pengolahan bahan baku produk yang berasal dari limbah dapat menjadikan produk ini lebih murah dan terjangkau bagi semua kalangan masyarakat.

Qonita yang telah melewati ujian sidang bulan April kemarin berharap anak-anak muda Makassar keluar dari zona nyaman, “Ayo keluar dari zona nyaman. Kehidupan kita lebih bermakna jika bisa memberikan manfaat bagi sesama.” Ajak Qonita pada anak-anak muda Makassar menutup surelnya.

Related Posts

About The Author

6 Comments

Add Comment