Pustaka Ballak Kana Jeneponto

“Kapan ki lagi datang, Kak?” tanya seorang anak saat kami beranjak pergi.

“Minggu depan pi lagi, Dek” jawab Aswar.

“Deh, lama na” ada nada kekecewaan dari suara anak yang bertanya tadi. Rupanya, seminggu terasa lama baginya. Mungkin ia masih ingin membaca dan tak sabar menunggu hingga seminggu. Melihat adegan ini, dalam hati saya bertanya“ benarkah minat baca anak-anak Indonesia memang sangat rendah?”

*

Adalah Khrisna Pabhicara yang pada pertengahan September kemarin menghubungi dan meminta kesediaan saya untuk berbagi pengalaman tentang dunia kepenulisan bersama teman-teman relawan Pustaka Ballak Kana. Tak berpikir panjang, saya langsung mengiyakan ajakan itu. Ada beberapa alasan kenapa saya langsung menerima permintaan itu. Pertama, karena yang meminta adalah Khrisna Pabhicara yang meminta saya. Kedua, karena ini tentang dunia tulis-menulis dan membaca. Ketiga, karena Jeneponto bagi saya adalah sesuatu yang sangat intim.

Perkenalan saya dengan Jeneponto bermula pada permintaan Khrisna Pabhicara pada saya dan Aan Mansyur untuk membantunya menjadi fasilitator kegiatan Akademi Pelajar Cerdas Turatea pada tahun 2005. Selama kurang lebih tiga bulan, kami bertiga, berbagi pengetahuan dan melatih belasan siswa-siswi terpilih dari SMA se Jeneponto. Itulah awal perkenalan saya dengan Jeneponto dan juga Khrisna. Pada tahun 2006-2007 saya kembali lagi ke Jeneponto. Kali ini atas ajakan seorang teman untuk membantunya menjalankan program pendampingan desa dari sebuah lembaga swadaya masyarakat yang ia aktif di dalamnya.

Keintiman saya dengan Jeneponto semakin erat ketika awal tahun 2008 saya memulai bekerja sebagai konsultan dalam sebuah program dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Lembaga donor pemerintah Jepang ini menempatkan saya sebagai Konsultan Kabupaten  di Jeneponto. Hanya sebulan saya bertugas di kabupaten penghasil garam ini karena kantor menarik saya ke kantor provinsi. Namun, selama tiga tahun hampir tiap pekan saya mengunjungi Jeneponto, bergantian dengan kabupaten dampingan lain; Barru dan Wajo.

Selasa siang, 11 Oktober, berboncengan dengan Daeng Ipul, saya menyusuri sekira 90an kilometer menuju negeri Butta Turatea ini. Ini kali pertama setelah sekian lama saya tak membawa motor menempuh jarak jauh. Membayangkan harus menunggu mobil angkutan dan berdesakan di dalamnya membuat saya memilih menggunakan motor. Perjalanan kami tempuh selama dua jam lebih.

Lima menit sebelum pukul 15:00 wita, kami tiba di rumah seorang kepala lingkungan di desa Bonto Tangnga Kecamatan Binamu. Teras rumah ini difungsikan sebagai perpustakaan mini Pustaka Ballak Kana. Ballak Kana, dalam bahasa Indonesia berarti ‘rumah kata’. Sebuah inisiasi gerakan literasi yang digerakkan oleh beberapa anak muda Jeneponto.

Dua jendela mereka manfaatkan sebagai rak buku. Begitu membuka jendela, kita akan melihat buku-buku tersusun rapi. Tak begitu sulit menangkap pesan mereka: ‘buku adalah jendela dunia’.  Koleksi mereka masih sedikit namun sudah beragam. Untuk segala usia. Saat ini mereka sudah memiliki Kafe Baca dan akan membuka dua lagi teras baca di dua titik.

Beberapa orang sudah menunggu kami. Saat mencicipi hidangan kopi dan kue, satu per satu relawan berdatangan. Mereka akan segera bergerak membawa buku-buku bacaan ke pelosok-pelosok Butta Turatea. Hari ini Selasa, hari ini di mana mereka setiap pekannya melakukan aksi menebar buku. Pada pekan keempat ini mereka memilih lokasi di wilayah Kecamatan Binamu. Bermodal lima motor, delapan relawan bergerak menuju BTN Romanga.

Di sana, sudah menunggu Kak Andriani, pengelola Sanggar Lontara, yang menyediakan rumahnya sebagai persinggahan para relawan Pustaka Ballak Kana. Di rumah singgah itu, telah menunggu juga beberapa adik asuh Sanggar Lontara yang akan ikut berbagi bacaan. Adik-adik Sanggar Lontar ini semuanya masih berstatus pelajar SMA. Berbekal buku yang mereka kumpulkan dan bawa, mereka pun ikut.

Setelah berembuk, para relawan Pustaka Ballak Kana ditambah adik-adik Sanggar Lontara membagi diri ke dalam lima rombongan yang akan menyebar ke lima area berbeda. Mereka menyebutnya armada. Saya bersama Daeng Ipul mengikuti Aswar dan Anti yang menuju Kawasan Jeneponto Lama yang dulunya merupakan kota Jeneponto. Kami hanya mengikuti dari belakang sambil bertanya-tanya di mana mereka akan berhenti. Setelah agak lama, di Lingkungan Tanrusampe, akhirnya Aswar dan Anti menemukan sekelompok anak kecil yang tampaknya baru saja selesai mengaji.

Aswar dan Anti memilih memarkir motor di depan sebuah rumah bale-bale dan segera mengeluarkan buku-buku dari dalam ransel mereka. Belum semua buku tergelar di bale-bale, anak-anak usia sekira lima hingga sembilan tahun itu sudah berebutan. Saya menghitung, tak kurang dari 10 anak-anak. ada yang serius membaca hingga seakan sedang berdeklamasi. Ada yang sekadar membolak-balik buku dan hanya mengamati gambarnya. Aswar berusaha membantu beberapa anak-anak yang lebih kecil yang belum begitu lancar membaca untuk mengenal dan menyambungkan huruf membentuk kata dan kalimat.

“Kapan ki lagi datang, Kak?” tanya seorang anak saat kami beranjak pergi.

“Minggu depan pi lagi, Dek” jawab Aswar.

“Deh, lama na” ada nada kekecewaan dari suara anak yang bertanya tadi. Rupanya, seminggu terasa lama baginya. Mungkin ia masih ingin membaca dan tak sabar menunggu hingga seminggu. Melihat adegan ini, dalam hati saya bertanya “benarkah minat baca anak-anak Indonesia memang sangat rendah?”

Kami lalu bergerak menuju Lingkungan Pattontongang, Kelurahan Biringkassi. Di depan sebuah tanah lapang yang agak luas, kami berhenti karena melihat ada beberapa anak-anak kecil bermain. Aswar dan Anti pun menggelar buku di atas karpet kecil yang mereka bawa. Awalnya, saya hanya melihat tak lebih lima anak di tanah lapang itu. Namun begitu buku sudah tergelar, jumlah mereka bertambah. Rupanya di belakang tanah lapang itu ada beberapa rumah penduduk, dari sanalah anak-anak kecil itu bermunculan.

Pustaka Ballak Kana di Lingkungan Pantontongan, Kel. Biringkassi, Kec. Binamu, Kab. Jeneponto. Selasa 11 Oktober 2016

Pustaka Ballak Kana di Lingkungan Pantontongan, Kel. Biringkassi, Kec. Binamu, Kab. Jeneponto. Selasa 11 Oktober 2016

Saya melihat antusiasme yang sama dari anak-anak kecil ini. Mereka berebutan buku, meski sebagian dari mereka belum lancar membaca. Hal yang sama dilakoni Aswar, seperti pada titik sebelumnya, ia membantu anak-anak yang belum lancar membaca. Sayang, adzan Maghrib harus mengakhiri pustaka bergerak ini. Kami kembali ke BTN Romanga di mana pisang dan sukun goreng plus es buah sudah menunggu.

Usai melepas lelah dan mengisi perut dengan hidangan yang ada kami kembali ke perpustakaan mini di Desa Bonto Tangnga, Kecamatan Tamalatea. Sesampainya di sana, panggilan makan datang lagi. Kali ini di rumah salah satu relawan yang tak jauh dari perpustakaan mini tadi. Sebenarnya perut saya masih penuh, namun menolak suguhan makanan bagi suku Bugis dan Makassar adalah pantangan. Itu sama saja mengundang celaka datang.

Suku Bugis dan Makassar percaya, menolak makanan yang sudah tersaji akan membuat orang tersebut mengalami kecelakaan. Pun, menu Gantala Jarang yang merupakan makanan khas Jeneponto berupa daging kuda sangat sukar untuk ditolak. Jadilah, perut kekenyangan mengundang kantuk dan mengganggu posisi duduk.

Pukul 20:00 wita, kami memulai diskusi penulisan yang merupakan tujuan utama kami ke sini. Mulai dari menelisik apa tujuan mereka menulis hingga kendala yang mereka hadapi. Tak terasa waktu menunjukkan pukul sebelas malam lewat. Dalam bincang-bincang itu kami menyepakati akan kembali dan mengadakan kelas yang intens.

Sayang, saya dan Daeng Ipul belum menemukan jadwal yang cocok. Setidaknya, hingga menjelang Desember kami harus mengatur waktu akhir pekan kami untuk berbagi tentang kepenulisan di beberapa tempat dan dengan tentu saja mempertimbangkan kegiatan kami lainnya. Suatu saat kami akan kembali dan berbagi lebih intens lagi jika waktu sudah memungkinkan.

Untuk melatih kemampuan menulis para relawan Pustaka Ballak Kana kami mendorong mereka untuk membuat blog. Satu blog yang kemudian mereka kelola bersama. Blog ini tentu saja berisi informasi tentang Pustaka Ballak Kana mulai dari informasi dan kegiatan, refleksi relawan hingga catatan pembacaan koleksi buku mereka.

Sore hingga malam hari, kami melihat semangat anak-anak muda Turatea ini begitu besar. Mereka begitu bergairah menyebarkan buku dan menebarkan virus membaca. Dari apa yang saya lihat, dalam waktu sebentar itu, saya bisa membayangkan tantangan yang mereka hadapi ke depan. Anak-anak usia 5-9 tahun yang begitu lahap membaca buku harus selalu mendapat suplai bacaan baru. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja buku-buku Pustaka Ballak Kana akan tak memenuhi rasa haus akan bacaan anak-anak itu.

Harus ada penambahan koleksi agar gairah membaca yang telah tumbuh dan mekar tidak layu begitu saja hanya karena ketiadaan bacaan baru. Luas Jeneponto pun akan menjadi kendala. Dengan jumlah relawan yang tak begitu banyak akan sulit melakukan penyebaran semangat literasi. Perlu upaya lebih semisal menjalin kerjasama dengan banyak pihak seperti yang telah dilakukan bersama Sanggar Lontara.

Perekrutan tenaga-tenaga dan darah-darah baru mutlak diperlukan mengingat apa yang mereka lakukan butuh nafas panjang. Ini juga mengingat para relawan itu memiliki kegiatan dan hal lain yang tentu butuh perhatian mereka.

Sungguh sayang jika apa yang mereka mulai berakhir begitu saja karena kita membiarkan mereka bekerja sendiri. Mari memikirkan apa yang bisa kita bantu seperti menyumbangkan beberapa buku. Sumbangan ide pengembangan pun tentu akan sangat berharga bagi gerakan kecil ini.

Bagi teman-teman yang bersedia membantu, dalam bentuk apapun, silakan menghubungi Kordinator Pustaka Ballak Kana an Subair Sirua Daeng Ta’le di nomer 085343976222 atau berkunjung langsung ke Pustaka Ballak Kana Jl. Daud Daeng Lili, Lingkungan Tanetea, Kel. Bonto Tangnga, Kec. Tamalatea, Kab. Jeneponto.

Sedikit dari kita, akan sangat berarti bagi mereka; relawan dan anak-anak itu.

video kegiatan Pustaka Ballak Kana bisa disaksikan di sini

 

Related Posts

About The Author

2 Comments

Add Comment