Pulau Tinabo Takabonerate, Surga Tersembunyi di Kaki Sulawesi

Pulau Tinabo Takabonerate adalah pulau utama dari Taman Nasional Takabonerate yang memiliki karang atol terbesar di Asia Tenggara dengan luas 220.000 hektar.

Juga terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Moldiva dengan, dengan terumbu karang yang tersebar datar seluas 530 km². Selain kawasan atol terbesar ketiga di dunia, Takabonerate kaya akan spot penyelaman. Tercatat titik penyelaman di taman nasional ini sebanyak 17 spot.

Takabonerate memiliki 21 pulau dengan delapan diantaranya berpenghuni yaitu; Latondu Besar, Tarupa Besar, Rajuni Kecil, Rajuni Besar, Jinato, Pasitallu Timur dan Pasitallu Tengah. Sebagai titik pertemuan bagi warga dari timur Sulawesi Selatan seperti pendatang Bugis dari Bone dan Sinjai, warga berbahasa Makassar seperti Bantaeng dan Selayar dari Bantaeng dan Bulukumba, dari Buton, Kabaena hingga warga berdarah Flores. Tak mengherankan jika Takabonerate memiliki penduduk dengan ragam bahasa yang berbeda.

Salah satu pulau di Kawasan Takabonerate adalah Pulau Tinabo yang menjadi pusat kawasan Taman Nasional Takabonerate yang ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 2001. Tinabo adalah  sebuah pulau kecil, panjang sekitar 1,5 kilometer dan lebar 500 meter, yang bertabur pasir putih selembut bedak bayi.

Anda pasti akan berdecak kagum bahkan sebelum menjejakkan kaki di dermaga. Seluruh pulau dikelilingi oleh pantai berpasir putih, dikelilingi oleh air laut yang selalu jernih sepanjang waktu. Warna air di sekitar Tinabo semakin dalam berturut-turut kehijauan, biru muda, hingga biru tua menuju ke bagian laut yang lebih dalam.

Bagi pecinta sunrise dan sunset, pulau ini adalah surga. Langit cerah akan menampilkan semburat senja yang memukau. Menyaksikan paduan warna orange dan merah saat matahari terbenam perlahan memberikan sensasi tersendiri yang sulit didapatkan di tempat lain. Apalagi sembari menyesap kopi di bawah pohon Cemara Laut yang menghiasi pulau ini.

Senja di Pulau Tinabo, Taman Nasional Taka Bonerate

Senja di Pulau Tinabo Takabonerate

Tak perlu berenang ke tengah laut, kita sudah bisa menikmati keindahan  pemandangan bawah laut yang sangat cantik. Bagi yang tak tahu berenang,  cukup dengan snorkling untuk mengintip karang-karang dan ikan-ikan beraneka warna di tepi pantai atau di sekitar dermaga.

Bagi Anda yang hobi menyelam, kawasan Takabonerate ini sangat tepat untuk wall-dive karena ada banyak kawasan dengan kontur dinding/jurang, area yang miring melandai hingga pulau-pulau bawah air. Selain itu, keindahan bawah air itu tidak hanya untuk penyelam, banyak tempat juga yang dapat dilihat keindahannya dari 0-5 meter dengan snorkling.

Air yang jernih dan ikan-ikan kecil warna warni yang melimpah serta terumbu karang yang beragam menjadi surga tersendiri bagi para snorkeler. Di tepian pantai pulau Tinabo ini kita juga bisa menyaksikan Baby Shark (bayi hiu) jenis Black Tip berenang dengan bebasnya. Salah satu aktifitas yang bisa dilakukan adalah memberi makan bayi hiu.

Memberi Makan Bayi - Bayi Hiu di Pulau Tinabo  Takabonerate

Memberi Makan Bayi – Bayi Hiu di Pulau Tinabo  Takabonerate

Selain memiliki banyak spot diving, Takabonerate juga kaya akan terumbu karang. Saat ini sudah teridentifikasi sebanyak 261 jenis dari 17 famili diantaranya Pocillopora eydouxi, Montipora danae, Acropora palifera, Porites cylindrica, Pavona clavus, Fungia concinna, dan lain-lain. Sebagian besar jenis-jenis karang tersebut telah membentuk terumbu karang atol (barrier reef) dan terumbu tepi (fringing reef). Semuanya merupakan terumbu karang yang indah dan relatif masih utuh.

Jika ingin berkunjung ke Pulau Tinabo Takabonerate TN Takabonerate sebaiknya pada bulan Maret, April dan sampai pertengahan Mei trus pertengahan September sampai Oktober, November dan Desember. Di luar bulan itu ombak besar dan angin yang bertiup kencang membuat perjalanan ke Tinabo akan terasa. Belum lagi cuaca di Tinabo pada bulan – bulan selain bulan di atas kurang bagus.

Untuk menuju Selayar anda bisa memilih menggunakan jalur darat atau laut.  Jalur darat bisa ditempuh dengan menggunakan bus berkapasitas 40 kursi dari Terminal Malengkeri Makassar menuju Pelabuhan Tanjung Bira Bulukumba. Perjalanan akan dilanjutkan dengan perjalanan laut menggunakan feri penyeberangan menuju Dermaga Pamatata Selayar dengan waktu tempuh 2 (dua) jam. Dari Pamatata masih dibutuhkan perjananan darat selama 1 (satu) jam menuju kota Benteng. Tariff untuk bus AC dari Makassar ke Selayar ini sebesar 170.000/orang.

Pesawat Twin Otter Maskapai Avia Star yang melayani rute Makassar - Selayar

Pesawat Twin Otter Maskapai Avia Star yang melayani rute Makassar – Selayar

Pilihan lainnya adalah dengan menggunakan jalur udara dengan menggunakan pesawat terbang dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar menuju Bandara Aroeppala Kab. Kepulauan Selayar. Ada 2 (dua) maskapai yang melayani rute penerbangan ini yaitu Wings Air dan Avia Star. Maskapai Wings Air menggunakan pesawat tipe ATR 72 dengan kapasitas 72 kursi dan berangkat dari Makassar pukul 08:55 setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Maskapai Avia Star menggunakan pesawat lebih kecil yaitu Twin Otter dengan kapasitas penumpang 18 kursi dan berangkat tiap hari Senin, Rabu dan Jumat.

Sayangnya, akses menuju Pulau Tinabo Takabonerate masih sangat terbatas, belum ada pelayaran regular dari Benteng, ibukota Selayar menuju Pulau Tinabo. Untuk menuju pulau ini, adalah dengan menumpang perahu masyarakat atau menyewa speed boat dari kota Benteng atau dari Dermaga Pattumbukkang di sebelah timur Pulau Selayar.

Jarak tempuh dari Kota Benteng 7 – 9 jam jika menggunakan perahu biasa atau 4 – 5 jam dari Benteng menggunakan speedboat berkapasitas 10 – 15 orang harus anda tebus sekira 3 – 5 juta pulang pergi. Untuk menikmati surga tersembunyi ini memang akan mengeluarkan biaya lebih. Tapi, percayalah biaya sejumlah itu akan sebanding, bahkan lebih, dengan apa yang anda dapatkan di sana. Bukankah, surga itu tak ternilai harganya?

Related Posts

About The Author

4 Comments

Add Comment