Coremap CTI: Upaya Peningkatan Potensi Kemaritiman Indonesia

Melalui Coremap CTI, pemerintah Indonesia dalam hal ini berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui upaya peningkatan potensi kemaritiman Indonesia.

Sebagai negara maritim, dengan dua pertiga luas lautan lebih besar daripada daratan yang menjadi potensi kemaritiman Indonesia, merupakan potensi besar untuk memajukan perekonomian Indonesia. Nilai perekonomian dari laut Indonesia diperkirakan mencapai 3 hingga 5 triliun dollar AS, atau setara sekitar Rp. 36 hingga 60 triliun per tahun.

Untuk menjaga kelestarian sumber daya alam dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Kementerian Kelautan dan Perikanan menjalankan program Coremap CTI (Coral Reef Rehabilitation and Management Program – Coral Triangle Initiative) yang bertujuan bertujuan ubtuk mengelola sumberdaya terumbu karang, ekosistem terkait, keanekaragaman hayati secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Program Coremap – CTI ini telah berlangsung selama 5 tahun sejak tahun 2014 dengan lokasi program mencakup 7 (tujuh) kabupaten kota untuk wilayah timur (Pangkep, Selayar, Raja Ampat, Wakatobi, Biak, Buton, dan Sikka) dan 7 (tujuh) kabupaten kota untuk wilayah barat (Tapteng, Nias Utara, Kepulauan Mentawai, Bintan, Lingga, Natuna dan Kota Batam).

Untuk Provinsi Sulsel, Coremap – CTI, melalui Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir & Laut (BPSPL)-Makassar, telah dikembangkan di Pangkep dan Selayar. BPSPL Makassar merupakan salah satu  Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah lingkup  Ditjen Pengelolaan Ruang Laut – Kementerian Kelautan dan Perikanan. Coremap CTI mendukung BPSPL Makassar yang  melaksanakan tugas pengelolaan meliputi; perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan sumber daya pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil yang berkelanjutan.

Salah satu kegiatan terbaru dari BPSPL Makassar ini adalah sosialisasi konservasi sumber daya alam pesisir dan laut di dua pulau di Kab. Pangkajene Kepulauan (Pangkep) yaitu di Pulau Sabutung, Kec. Liukang Tupabbiring Utara yang dipusatkan di SMA Negeri 1 Liukang Tupabbiring. Pemilihan sekolah sebagai lokasi ini juga bertujuan sebagai upaya edukasi.

Foto bersama Kepala BPSPL Makassar, guru dan siswa SMA Neg 1 Liukang Tupabbiring Utara Pangkep, Staf Humas PRL - KKP dan jurnalis dari beberapa media nasional dan lokal

Foto bersama Kepala BPSPL Makassar, guru dan siswa SMA Neg 1 Liukang Tupabbiring Utara Pangkep, Staf Humas PRL – KKP dan jurnalis dari beberapa media nasional dan lokal.

“Kita melakukan sosialisasi konservasi ini untuk memberikan pemahaman guna meningkatkan kepedulian generasi muda tentang lingkungan laut, pesisir dan pulau-pulau kecil.” Ungkap Kepala BPSPL Makassar Ir. R. Andry Indryasworo Sukmoputro, M.M.

Dalam kegiatan ini terungkap bahwa kesadaran warga, utamanya usia sekolah, akan pentingnya menjaga terumbu karang sudah terlihat. Bahkan, upaya pelestarian terumbu karang sebagai ekosistem laut vital, rumah dan tempat pembesaran ikan di Pulau Sabutung sudah memberikan dampak positif.

“Dulu waktu kecil, tidak bisa ki mancing di dermaga karena tidak ada ikan. Sekarang, kalau mau mancing tinggal ke dermaga karena banyak mi ikan” ungkap seorang siswa.

Pada kesempatan ini, Kepala BPSPL Makassar Ir. R. Andry Indryasworo Sukmoputro, M.M. bersama staf Humas dan Kerjasama Ditjen Ditjen Pengelolaan Ruang Laut – Kementerian Kelautan dan Perikanan, juga secara simbolis menyerahkan sarana pengembangbiakan dan bibit kuda laut. Sarana budidaya kuda laut di Pulau Sabutung ini sendiri sudah berdiri sejak Desember 2015.

Kuda laut (Hippocampus sp) ini memiliki ekonomi tinggi dan peluang ekspor yang besar mengingat tingkat permintaannya yang tinggi. Kuda laut diperdagangkan sebagai ikan hias (ornamental fish) dan juga sebagai bahan obat. Konsumsi kuda laut di Asia mencapai 45 ton pertahun (+ 16 juta ekor), dimana konsumen utamanya adalah China +20 ton, Taiwan+11,2 ton dan Hongkong +10 ton (Syafiuddin, 2004). Peluang ini tentu bisa kita manfaatkan melalui upaya peningkatan potensi kemaritiman Indonesia, dalam hal ini konservasi dan budidaya kuda laut.

“Konservasi dan budidaya kuda laut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.” Kata Kepala BPSPL Makassar.

Budidaya Kuda Laut (Hippocampus sp) sebagai upaya peningkatan potensi kemaritiman Indonesia

Budidaya Kuda Laut (Hippocampus sp) sebagai upaya peningkatan potensi kemaritiman Indonesia

Coremap CTI melalui BPSPL Makassar juga memberikan dukungan bantuan kepada Yayasan Makassar Skalia sebagai bentuk keseriusan dalam hal mengawal pelestarian lingkungan dan edukasi maritim. Coremap – CTI memberikan bantuan berupa 4 (empat) set alat Scuba Dive sekaligus kompresor untuk pengisian tabung selam melalui anggaran Coremap CTI tahun 2016 pada Yayasan Makassar Skalia.

Bantuan ini diberikan pada Yayasan Makassar Skalia yang melaksanakan program rehabilitasi terumbu karang di Pulau Samalona dan sekitarnya melalui edukasi maritim untuk pelajar dan mahasiswa di kota Makassar. Bantuan alat selam ini diharapkan bisa mendukung program dari YMS. Selain untuk melakukan pelestarian terumbu karang dan pemantauan jenis ikan karang, namun juga akan dimanfaatkan pelajar dan mahasiswa dalam aktifitas program edukasi maritim.

Pada tanggal 23 November, alat selam tersebut digunakan juga untuk melakukan monitoring terumbu karang yang ada di perairan P. Badi Kab. Pangkep bersama beberapa jurnalis dari berbagai media nasional dan lokal dan Humas Ditjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam kegiatan Journalist traveling Coremap CTI Ditjen Pengelolaan Ruang Laut.

Potensi terumbu karang di Pulau Badi yang berjarak sekira satu jam perjalanan laut menggunakan speed boat ini sangat menjanjikan karena memiliki luas tak kurang dari 2 hektar persegi. Selain itu, di Pulau Badi juga terdapat learning centre tentang bagaimana budidaya kuda laut yang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi.

Semoga upaya yang dilakukan oleh Coremap – CTI ini bisa semakin meningkatkan kesadaran masyarakat pesisir utamanya usia muda akan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem laut dan pesisir. Hal ini tentu bisa meningkatkan kesejahteraan nelayan kita melalui peningkatan potensi kemaritiman Indonesia.

Related Posts

About The Author

Add Comment