Phinisi, Gadis Cantik Di Lautan

Haji Muslim Baso seorang yang ramah. Selalu menawarkan senyum pada setiap orang dan berjabat tangan dengan erat. Lebih dikenal dengan nama Haji Baso, di kawasan Bira wilayah pembuat kapal Phinisi ia adalah seorang sesepuh.

Dialah punggawa untuk Phinisi. Punggawa dalam arti seorang yang ahli dalam mendesain bangunan kapal Phinisi dari awal hingga akhir. Punggawa menentukan hari baik untuk memilih kayu. Menggelar ritual penebangan pohon yang biasanya pada hari ke lima dan ketujuh bulan berjalan. Angka lima bermakna naparilimai dalle’na  – rezeki sudah di tangan.  Angka tujuh natujuangngi dalle’na – selalu dapat rezeki.

Epik I La Galigo, naskah beraksara lontara mencatat kapal Phinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading  menggunakan pohon besar Walenrenge untuk menempuh perjalanan meminang putri Cina, We Cudai. Sebelum Sawerigading menebas batang Walenrenge, digelarlah sebuah ritual khusus. Dalam keyakinan masyarakat Bugis dan Makassar, pohon adalah pemberi kehidupan dan harus dihormati. Entah untuk digunakan sebagai apapun, rumah, perabot, ataupun kapal.

Saat saya menemui Haji Baso beberapa waktu lalu dia sedang mengerjakan dua buah Phinisi. Dengan kelembutan hati dan ketajaman matanya dia menelisik semua rangka kapal. Dalam kerjaannya yang sibuk itu, dia masih memberikan saya waktu bercerita.

 

Saat dia menunjuk batang kayu besar, saya tahu itu adalah lunas yang berfungsi menjadi pondasi utama atau backbone. Peletakan lunas memiliki ritual khusus. Punggawa memulai doa agar kapal kokoh, sementara para para sawi – para pekerja Phinisi – diberikan keselamatan. Ritual tolak bala ini penting karena menjadi komitmen mereka pada leluhur untuk terus mereka lakukan.

Lunas Phinisi memiliki makna simbolis, bagian depan merupakan simbol lelaki sedangkan balok lunas bagian belakang diartikan sebagai simbol wanita. Pemotongan lunas dilakukan tanpa boleh berhenti  dan potongan ujung lunas tidak boleh menyentuh tanah. Potongan balok bagian depan akan dilarikan untuk dibuang ke laut dan menjadi benda penolak bala. Setelah lunas selesai, dilanjutkan dengan pemasangan papan pengapit lunas, disertai upacara Anjarreki yaitu untuk penguatan lunas.

Sejak pemasangan lunas, Punggawa menyajikan kue tradisional seperti Haje/Baje, dengan harapan untuk menuai kenikmatan, sama nikmatnya ketan gula dan santan yang menjadi bahan kue itu. Ada pula Onde-Onde yang saat pembuatannya dimasukkan ke dalam wajan akan langsung tenggelam tapi akan muncul ke permukaan ketika matang. Seperti kayu yang tenggelam di lautan, namun saat berbentuk kapal akan mengapung selamanya.  Ada juga biji yang putih bersih dengan harapan agar penumpang datang berduyun-duyun menggunakan Phinisi – saat digunakan sebagai kapal komersil.

Penyusunan papan dari arah bawah dengan ukuran lebar yang terkecil sampai ke atas dengan ukuran yang terlebar, proses diteruskan dengan pemasangan buritan tempat meletakkan kemudi. Jika badan perahu sudah selesai  maka dilanjutkan dengan a’panisi, yaitu memasukkan majun pada sela papan untuk merekatkan sambungan papan supaya kuat. Selanjutnya adalah allepa, yaitu mendempul yang bahannya dari campuran kapur dan minyak kelapa. Sentuhan terakhir pada Phinisi adalah menggosok dempul dengan kulit pepaya.

Saat melakukan peluncuran, inilah yang dikatakan Haji Baso sebagai semacam proses menunggu kelahiran bayi, dilakukanlah ritual selamatan yaitu appasili , menggunakan seikat dedaunan yang terdiri dari daun sidinging, sinrolo, taha tinappasa, taha siri, dan panno-panno bersama pimping dicelupkan ke dalam air lalu dipercikkan ke sekeliling Phinisi.

Tak hanya itu, ritual pun bisa saja melaksanakan pemotongan hewan seperti kambing atau sapi, tergantung dari besar dan bobot Phinisi. Harapannya agar Phinisi bisa berjalan lancar seperti binatang secara normal.  Ritual akhir adalah Ammossi yaitu upacara pemberian pusat pada pertengahan lunas kapal layaknya melakukan pemotongan tali pusar bayi yang baru lahir.

 

SAAT ini Haji Baso berusia 68 tahun. Dia memeroleh keahlian dari ayahnya dan memulai karirnya sebagai pembuat perahu atau sawi pada tahun 1961 hingga 1967. Pada akhir dekade 60an Haji Baso telah menikah dan memiliki empat anak.  Pendapatan sebagai sawi tak mencukupi kebutuhan keluarga. Dia pun berjualan kain dan kemudian membuka toko menjual bahan-bahan konstruksi, suku cadang untuk mesin dan barang dagangan campuran. Haji Baso menjadi pengusaha besar.

Kesuksesan menjadi pengusaha ternyata tak membuatnya tenang. Panggilan hati kecilnya akan Phinisi seperti ombak yang membuncah.  Pada awal 90-an, Haji Baso kembali memoles kapal leluhur yang agung. Kapal yang sejak ratusan tahun lalu mengarungi lautan.

Bagi Haji Baso, pembuat perahu dan perahu itu sendiri semacam ibu dan anaknya. Mereka terikat secara batin. Phinisi bukan sekadar anak kecil tapi “manusia cantik di daratan, kalau layar berkembang jadi gadis di lautan. Phinisi adalah gadisnya lautan.”

Phinisi buatannya umumnya dipesan oleh warga negara asing. “Phinisi sekarang banyakan bule yang punya. Orang Amerika bisa miliki, bisa gambar desain yang mirip, tapi tidak bisa bikin dan jelaskan makna-maknanya seperti orang Ara, mereka tidak paham hakikatnya,” kata Haji Baso.

Kini kapal leluhur masyarakat Bugis dan Makassar itu menjadi Mahakarya Indonesia yang  membawa harum nama Indonesia. Dengan layar-layarnya yang kuat dan nahkoda yang handal, Phinisi membelah lautan dan samudera.  Semoga tradisi dan pembuatan Phinisi itu tetap terjaga dan lestari bagi generasi penerus.

Related Posts

About The Author

2 Comments

Add Comment