Pesta Komunitas Makassar 2015: Sinergi, Harmoni dan Aksi Ratusan Komunitas Makassar

Siang menjelang sore 6 Juni, saya menuju Benteng Jumpandang atau yang lebih dikenal sebagai Fort Rotterdam. Parkiran depan pintu benteng penuh sesak saat saya tiba. Akhirnya saya memutuskan untuk memarkir motor di parkiran dalam benteng. Parkiran khusus karyawan itu pun sudah penuh, untunglah masih menyisakan sedikit ruang untuk motor saya.

Memasuki pintu gerbang dalam benteng, benteng ini memiliki 2 (lapis) gerbang, saya terkesima melihat pemandangan yang terpampang di depan mata. Area benteng disesaki oleh pengunjug Pesta Komunitas Makassar  (PKM) 2015 yang berlangsung selama 2 (dua) hari, 6 – 7 Juni 2015. Sebagian besar anak muda.

*

“Ah jadi ini barang!” saya lupa pada siapa kalimat itu saya ucapkan setahun lalu saat pembukaan Pesta Komunitas Makassar 2014 yang berlangsung di Monumen Mandala. Niatan untuk menyatukan berbagai komunitas di Makassar, sebagai pelaksana sekaligus penampil dan pengisi acara, dalam sebuah kegiatan akhirnya terwujud.

Bukan hal mudah tentunya, mengingat akan sangat banyak kepala dan ego yang harus dipertemukan. Butuh waktu bertahun – tahun, sejak 2011 saat ide awal ini muncul dari beberapa orang teman hingga terwujud pada 2014. Sejarah pun mencatat 75 komunitas melebur ke dalam sebuah kepanitiaan dimana mereka juga mengambil peran sebagai penampil dan pengisi acara.

Tahun kedua pelaksanaan PKM, lagi – lagi saya harus berdecak kagum pada semangat teman – teman penggiat komunitas di Makassar. Pada PKM 2015, meski masih tercatat sebagai salah satu Steering Committee, saya memilih untuk tak terlibat jauh. Selain karena harus berfokus pada hal lain, memberikan kesempatan untuk yang lebih muda adalah sebuah keharusan.

Keseruan Pesta Komunitas Makassar 2015 [dokumentasi @komunitasmks]

Keseruan Pesta Komunitas Makassar 2015 [dokumentasi @komunitasmks]

“Tantangan pelaksanaan PKM 2015 ini jauh lebih ringan dan mereka pasti bisa” begitu pikir saya. Dari segi finansial memang lebih mudah mengingat tahun ini Dinas Pariwasata dan Ekonomi Kreatif Kota Makassar turut mendukung kegiatan ini setelah melihat pelaksanaan PKM tahun sebelumnya dengan memberi bantuan pendanaan kegiatan.

Pelaksanaan PKM 2014 sangatlah berat karena panitia harus menyatukan ide dari puluhan komunitas, menyiapkan penampil dari puluhan komunitas hingga harus mencari dana dan sponsorship. Beruntunglah kami memiliki Ashari Ramadhan, yang biasa kami panggil Kak Rama, yang bersedia menjadi ketua panitia. Menyusun struktur kepanitiaan PKM 2014 ini juga tidaklah mudah, harus ada sosok yang bisa menjadi penyatu puluhan komunitas. Butuh waktu 4 (empat) bulan, dari rapat pertama, untuk mendapatkan ketua panitia.

Berbekal pengalaman tahun lalu, pelaksanaan kegiatan PKM 2015 terasa lebih mudah. Penyusunan kepanitiaan tak butuh waktu lama.  Rapat pertama sudah menghasilkan susunan kepanitian yang terdiri dari beragam komunitas. Dengan semangat kebersamaan dan keterbukaan, struktur panitia inti PKM 2015 terdiri dari perpaduan panitia PKM 2014 dan wajah – wajah baru yang sama sekali baru. Susunan kepanitiaan dan peserta PKM 2015 sendiri ditutup pada tanggal 20 Mei, 3 (tiga) minggu sebelum Hari H, untuk memberi kesempatan seluas-luasnya pada pelibatan komunitas – komunitas yang ada di Makassar.

Pesta Komunitas Makassar 2015 Sinergi Harmoni dan Aksi Ratusan Komunitas Makassar

Pesta Komunitas Makassar 2015 Sinergi Harmoni dan Aksi Ratusan Komunitas Makassar

Pelibatan komunitas – komunitas tak hanya pada struktur kepanitiaan tapi juga pada pelibatan sebagai pengisi acara dan booth komunitas. Tercatat 130 komunitas yang mendaftar hingga 20 Mei 2015, nyaris 2 (dua) kali lipat dari tahun sebelumnya. Dan karena inilah, tantangan PKM 2015 menjadi jauh lebih berat. Mengakomodir ide, gagasan dan juga ego 130an komunitas tentu bukanlah hal mudah.

Meski mengamati dari jauh, saya melihat bagaimana konsep dan isi acara harus berkali – kali dibongkar dan disusun ulang karena jumlah peserta yang terus bertambah padahal persiapan sudah semakin mepet. Gesekan – gesekan antar panitia dan komunitas pun niscaya terjadi. Namun, dengan kordinasi Anshari Wijaya sang ketua panitia, mereka berhasil menaklukan dan melebur ego demi sebuah tujuan yang sama; Pesta Komunitas Makassar 2015.

*

Masih antara percaya dan tidak, saya menyaksikan kerumunan banyak orang di 3 (tiga) area Benteng Jumpandang. Apa yang saya lihat hari itu, Sabtu 6 Juni 2015, jauh melebihi harapan dan bayangan saya.  Ada 60 tenda charnavil berukuran 3 x 3 meter plus 32 space berukuran sama untuk menjadi tempat komunitas memajang kreatifitas mereka. Kesemuanya berada di samping dan depan gereja dalam Rotterdam.

Pilihan jumlah booth dan space ini adalah kesepakatan panitia untuk mewadahi semua komunitas dengan keterbatasan dana penyewaan tenda. Ada beberapa komunitas memilih untuk tak menempati tenda dan memberikannya pada komunitas lain. Ada pula beberapa komunitas yang memilih berbagi tenda tanpa memasang sekat dan menyatukan kreatifitas mereka. Inilah salah satu wujud peleburan ego itu.

Ada pula 32 tenda yang diperuntukkan untuk Usaha Kecil Menengah (UKM). Jumlah ini melebihi kesepakatan awal yang hanya menyediakan tenda untuk 20 tenant. Keputusan untuk menambah tenda ini untuk menampung banyaknya permintaan UKM yang ingin berpartisipasi. Saya yang bisa mengakses email dan akun – akun media sosial PKM 2015 melihat sendiri bagaimana antusiasme UKM – UKM yang ingin terlibat. Hingga H -2, beberapa UKM masih mendaftar meski pendaftaran sudah tertutup jauh sebelumnya.

Tenda – tenda ini diisi oleh tenant makanan dan minuman, fashion hingga usaha pencucian sepatu. Keputusan panitia untuk menambah tenda UKM ini ternyata berbuah manis. Hampir semua tenant melaporkan jualan mereka sold out sebelum acara berakhir. Sebuah UKM bahkan menuliskan “Alhamdulillah, persediaan untuk 3 hari habis dalam 5 jam” dalam akun media sosialnya.

Selepas Maghrib, Sabtu 6 Juni, saya berada di tengah – tengah area utama yang dikelilingi booth komunitas. Saya memilih berdiri di belakang personel Indonesian Drummer Makassar yang menjadi bagian dari seremoni pembukaan. Dan, saya terserang perasaan mewek saat salah satu Master of Ceremony membacakan narasi pembukaan. Perlahan, pelupuk mata saya terasa basah melihat bagaimana kolaborasi komunitas – komunitas dalam seremoni itu membentuk sebuah harmoni dalam seremoni itu.

Hari pertama berlangsung meriah. Seorang teman bahkan mengabarkan bahwa ia tak bisa masuk ke area Benteng Jumpandang. “Maaf, saya tak hadir, saya kesulitan cari parkiran mobil dan sudah kehabisan tiket,” ungkapnya. Teman itu mengira bahwa gelaran ini memakai tiket untuk masuk, padahal kegiatan ini terbuka untuk umum.

Anggapan bahwa kegiatan ini berbayar dan menggunakan tiket masuk, mungkin muncul karena teman itu melihat beberapa panitia berdiri di depan pintu gerbang benteng yang tertutup sebagian. Panitia terpaksa menyeleksi pengunjung yang ingin masuk ke area benteng. Hal ini dilakukan atas permintaan petugas keamanan yang mulai khawatir saat melihat aliran pengunjung yang tidak berhenti.

“Selama sepuluh tahun saya menjaga tempat ini, belum ada kegiatan yang seramai ini, kami khawatir dengan jumlah pengunjung yang terus membludak dan keamanan menjadi tidak terkendali,” ungkap seorang petugas keamanan Benteng Jumpandang. Pihak Benteng Jumpandang keesokan harinya bahkan meminta panitia untuk melibatkan aparat kepolisian dalam pengamanan acara. Panitia yang tak memiliki anggaran untuk itu akhirnya memutuskan untuk membentuk ‘divisi baru’ yaitu Divisi Keamanan untuk mengantisipasi kekhawatiran pihak benteng. Anggota divisi dadakan ini diambil dari panitia semua divisi kecuali Divisi Acara.

Seperti pada hari pertama, di hari kedua seluruh booth komunitas dari berbagai kategori;  Hobby, Travelling, IT dan Onliners, Sosial – Edukasi dan Lingkungan, Kreatif, hingga Foto dan Videography didatangi oleh pengunjung. Tentu ini kesempatan untuk memperkenalkan komunitas mereka kepada khalayak ramai.

Tidak sedikit dari pengunjung yang langsung mendaftar menjadi anggota baru komunitas yang membuka pendaftaran. Gerakan Coin A Chance bahkan melaporkan via twitter bahwa mereka berhasil mengumpulkan uang recehan sejumlah sejuta lebih selama 2 (dua) hari pelaksanaan.

Selain ‘pameran’ dan panggung komunitas, ada pula Project Kolaborasi yang menjadi pembeda PKM 2015 dari tahun sebelumnya. “Project kolaborasi merupakan modifikasi dari item kegiatan kelas kolaborasi tahun lalu. Jika kelas kolaborasi lebih menekankan pada konsep coaching clinic maka pada project kolaborasi, masing masing komunitas setiap kategori, diberi waktu untuk memaparkan ide terbaik sekaligus next  project mereka.” Ungkap Asril, salah satu Steering Community yang mendampingi panitia dari awal.

Dari ide – ide dalam project kolaborasi ini selanjutnya akan dipilih dua ide terbaik dari setiap kategori untuk diwujudkan secara bersama-sama. Inilah salah satu tujuan utama dari adanya Pesta Komunitas Makassar, bagaimana mempertemukan komunitas – komunitas yang ada di Makassar untuk terus berkumpul, berbagi, dan bersama mewujudkan kegiatan – kegiatan positif dan kreatif untuk perlahan memupus imaji Makassar yang tersaji di layar kaca dan pemberitaan media.

Pesta Komunitas Makassar hanyalah langkah awal untuk menyatukan anak – anak muda Makassar, yang tergabung dalam ratusan komunitas dengan beragam latar, untuk kemudian bersinergi dalam harmoni untuk melakukan, tidak hanya sebuah, aksi – aksi nyata demi sebuah perubahan. Mereka harus tetap melakukan refleksi dan evaluasi dari langkah – langkah mereka demi mengurai kekurangan – kekurangan yang ada dan kemudian melakukan perbaikan dalam kegiatan – kegiatan ke depan.

Gelaran Pesta Komunitas Makassar 2015 sudah berakhir, namun pekerjaan rumah bagi anak – anak muda Makassar itu belumlah usai. Mereka masih harus terus bergenggaman tangan untuk mengawal dan mewujudkan hasil project kolaborasi lintas komunitas. Mereka masih harus terus bergerak bersama demi sebuah kota, Makassar, yang lebih baik dan nyaman untuk dihuni.

 

tulisan dan video tentang PKM 2015 bisa dibaca di http://komunitasmakassar.org/2015/06/16/tulisan-dan-video-tentang-keseruan-pkm2015/

Related Posts

About The Author

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.