Pesan dari Tempat Sampah

Rabu pagi, 30 Maret, Walikota Makassar Moh. Ramdhan Pomanto melantik 435 Kepala Sekolah SMK, SMA, SMP dan SD di areal pembuangan sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang.

Pelantikan ini pun menuai pro kontra di media sosial. Beragam tanggapan muncul dari netizen. Sebagian besar netizen menyatakan keberatan pada pemilihan lokasi pelantikan. Guru adalah profesi mulia, kenapa mereka dilantik di tempat sampah? Ini pelecehan namanya! Begitu kira – kira suara dari yang kontra pada pelantikan di TPA ini.

Salah satu netizen yang meyuarakan ketidaksepakatannya adalah Daeng Ewink, yang menuliskan “Meskipun ada permasalahan sampah, tp sangat tdk wajar GURU di lantik di TPA om #sedih saya :((“ melalui akun @ewink_chk. Bagi pentolan supporter PSM Makassar ini, guru dan kepala sekolah pendidik adalah profesi paling tinggi di bumi, tak sepantasnya mereka dilantik di tempat sampah.

Hal senada disampaikan oleh Pay Sohilauw melalui akunnya [email protected] Pay menuliskan “saya sebagai seorang yg berprofesi sebagai tenaga pengajar, tersinggung jika kepsek di lantik di tempat sampah, apapun motif & alasannya”

suara keberatan lain tentang lokasi pelantikan kepala sekolah oleh walikota Makassar

suara keberatan lain tentang lokasi pelantikan kepala sekolah oleh Walikota Makassar

Melalui akun Fan Page resminya, walikota yang karib disebut Danny Pomanto ini menjelaskan alasan pemilihan TPA Antang sebagai tempay pelantikan kepala – kepala sekolah ini. Dalam laman itu, Danny menjelaskan

“Pemilihan TPA Antang sebagai lokasi pelantikan bertujuan untuk memberi kesadaran kepada seluruh warga Makassar agar tidak membuang sampah sembarangan serta mendukung program penanganan sampah yang telah ditetapkan oleh Pemkot Makassar.”

 

Status Danny Pomanto mengenai pelantikan kepsek di TPA Antang.

Status Danny Pomanto mengenai pelantikan kepsek di TPA Antang.

 

Permasalahan sampah memang menjadi sorotan warga Makassar  akhir – akhir ini. Seminggu belakangan, bau tak sedap memenuhi udara di beberapa wilayah di Makassar, utamanya di malam hari. Bau tak sedap ini muncul akibat proses pengerukan tumpukan sampah yang menggunung. Tumpukan sampah ini menghalangi akses masuk truk pengangkut sampah yang ingin membuang sampah.

Sejatinya, apa yang dilakukan oleh Walikota Makassar ini bukanlah hal baru. Semasa menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Jokowi pernah melakukannya. Ia melantik Walikota Jakarta Timur H.R. Krisdianto dan wakilnya, Husein Murad di lapangan penuh sampah di Gang Swadaya, Kampung Pulo Jahe, Cakung, Jakarta Timur pada Desember 2013.

Selain kontra, pelantikan di TPA ini mendapat dukungan dari netizen. Hal itu terlihat dari akun @jalanankota, akun ini menilai  langkah walikota Makassar ini adalah ide kreatif. Dalam sebuah kicauan, akun ini menulis “Apa yang dipikirkan oleh walikota Makassar ini lompat jauh dari pikiranmu. Pelantikan ratusan kepsek di TPA itu sy kira ide kreatif.”

Untuk menyebutnya  sebagai ide kreatif mungkin tidak tepat mengingat sudah ada yang melakukan hal serupa sebelumnya. Namun, pelantikan di tempat sampah ini mendapat perhatian khalayak dan jadi bahan perbincangan, utamanya di media sosial. Dengan begitu warga Makassar dan kepsek – kepsek yang dilantik akan ingat bahwa ada permasalahan sampah di kota ini. Walikota secara tidak langsung menyampaikan bahwa ia peduli TPA dan permasalahan sampah yang perlu perhatian dan penanganan serius. Pencitraan atau bukan, itu kembali pada warga Makassar sendiri.

Bagi saya ini, ini momen yang tepat bagi Walikota Makassar menunjukkan keseriusannya dalam persoalan sampah. Mulai dari pembenahan program tempat sampah ‘gendang dua’ yang tersebar di hampir seluruh jalanan di Makassar.  Mungkin Walikota bisa turun ke jalan dan melihat betapa banyak gendang dua yang rusak dan tidak berfungsi karena ketiadaan wadah sampah. Padahal, menurut media, nilai anggaran pengadaan kantong plastik pada tahun 2015 kemarin hampir mencapai 8 milyar.

Oh iya, soal kantung plastik, kabar terakhir menyebutkan bahwa Pemerintah Kota Makassar membagikan dua juta kantong sampah untuk dibagikan kepada masyarakat melalui 14 camat dan sejumlah bank sampah di wilayah masing-masing.

Ada yang pernah dapat dari lurah atau camatnya?

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment