Perpanjang STNK dan Ganti Plat di Samsat Dengan Cepat

Masa berlaku Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) sepeda motor yang menemani saya ke mana- mana selama ini sudah berakhir sejak dua tahun lalu. Namun, selalu saja ada alasan untuk tidak segera perpanjang STNK dan ganti plat. Tak terasa, denda pun makin membesar..

Nah, suatu hari saya membaca adanya pemutihan denda bagi pajak kendaraan. Keputusan ini dikeluarkan oleh Samsat Sulsel dan berlaku dan 1 Juli hingga akhir September 2016. Kesempatan ini tak ingin saya lewatkan. Maka kemarin, 20 Juli 2016, saya meluangkan waktu perpanjang STNK dan ganti plat di Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) Sulsel di Jl. Mappanyukki yang terkenal dengan layanan cepat itu.

Sebenarnya, saya sudah pernah ke Kantor Samsat Sulsel yang tak jauh dari Stadion Andi Mattalatta Mattoanging ini. Sayangnya, saat itu saya tak membawa serta Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKP) sebagai syarat utama perpanjangan STNK. Kedatangan saya kali itu, harus berakhir di depan meja informasi Samsat.

Kedatangan kedua kali ini saya sudah membawa semua kelengkapan yang dibutuhkan yaitu; BPKP dan STNK plus fotokopinya ditambah dengan fotokopi Kartu Tanda Penduduk. Saya datang sekira jam 2 siang lewat. Setiba di bagian informasi, saya diminta oleh bapak berseragam polisi untuk mengeluarkan STNK. Setelah memeriksanya, ia meminta untuk memfotokopinya. “Ikut saja sama bapak itu” ujar bapak polisi itu sembari menunjuk seorang lelaki parlente berjaket kulit. Saya menolak, “saya urus sendiri saja Pak”

Di tempat fotokopi, saya mencari tahu alur dan persyaratan perpanjangan STNK dan ganti plat. Setelah memfotokopi BPKP dan STNK saya langsung menuju bagian pemeriksaan fisik yang terletak di bagian kiri belakang kantor Samsat. Setelah melakukan pemeriksaan fisik yaitu nomor mesin dan kerangka motor saya lalu menuju bagian registrasi. Di bagian registrasi, sudah ada dua orang di depan saya.

Tak menunggu lama, giliran saya tiba. “Registrasi bayar 10.000” bapak berjaket hitam di depan memberitahu saya lalu kemudian masuk ke ruangan loket melalui pintu samping. “Bayar 10.000?” tanya saya pada petugas di loket. Tidak keterangan mengenai biaya yang tertera di loket. Agak ragu, petugas loket itu mengiyakan. Di belakang petugas loket itu, saya lihat bapak berjaket hitam tadi sedang membuka-buka berkas bersama seorang ibu.

Alur Cek Fisik Kendaraan di Kantor Samsat

Alur Cek Fisik Kendaraan di Kantor Samsat

Setelah registrasi selesai saya menuju ke Loket C yang berada di dalam gedung utama. Letaknya di bagian kanan setelah pintu masuk. Di dinding bagian loket ini sebuah spanduk berisi janji pelayanan perpanjang STNK dan ganti plat cepat terpasang. Bagi pemilik STNK yang memiliki nama yang sama dalam STNK dan KTP hanya membutuhkan 10-15 menit. Awalnya saya ragu dengan janji itu, apalagi nomer antrian 591 dan di kertas nomer antrian tertulis masih ada 91 orang sebelum saya.

Layar nomer antrian tak menyala. Saya makin gelisah. Bagaimana bisa tahu giliran jika layar antrian mati? Saya yang awalnya duduk di kursi tunggu akhirnya berdiri dan mengambil beberapa gambar aktifitas di ruangan itu. Di beberapa bagian, himbauang untuk tidak menggunakan jasa calo perpanjang STNK dan ganti plat terpampang di dinding.

Tak butuh lama seseorang memanggil nomer antrian saya tanpa sebelumnya saya dengar suara itu memanggil nomer sebelum lain. Lelaki yang memanggil nomer antrian saya itu kemudian menyerahkan berkas dan meminta saya ke bagian Kasir A.  Ibu yang bertugas di Kasir A menyambut saya dengan senyum ramah lalu menyebutkan biaya yang harus saya bayar.  Semuanya Rp. 575.000,- untuk pajak kendaraan selama dua tahun plus denda yang sudah mengalami pemotongan. “Ini sudah termasuk pemutihan itu yah?” tanya saya. Si Ibu kemudian menjelaskan bahwa yang saya dapatkan adalah potongan denda sebesar 64 ribu. Rupanya pemutihan yang saya pahami berbeda. Awalnya saya mengira tak ada denda. Mungkin ada persyaratan pemutihan yang tak saya baca.

Urusan membayar selesai. Saya menuju ke loket pencetakan STNK yang ada di bagian kiri. Seorang lelaki berkacamata, usianya sekira 50an tahun, duduk menghadap layar komputer. Duduknya menyamping. Kepalanya sejajar dengan meja yang setinggi perut atau dada lelaki dewasa. Lelaki itu asyik dengan komputer. Sesekali tangannya membuka lembaran map dan mengetikkan nomer plat motor yang ada di dalam berkas. Begitu nomer plat selesai diketik, di layar komputer akan muncul data-data pemilik kendaraan.

Di depan bapak itu ada setumpuk map. Jumlahnya, saya yakin tak kurang dari 50 map. Bapak itu mengabaikan saya dan tetap asik dengan komputer. Setelah memasukkan data yang ada pada setumpuk map tadi, ia mencetak STNK dengan printer yang tak jauh dari tempat duduknya. Ada tiga – empat orang yang sepertinya bukan pegawai Samsat duduk tak jauh dari bapak itu. Mereka mengenakan baju kaos.

tumpukan map berkas di loket cetak stnk kantor samsat

Tumpukan map berkas di loket cetak STNK

Bapak tadi tak juga melayani saya. Di atas meja loket masih ada tumpukan berkas yang tingginya dua kali lipat dari tumpukan yang di meja bapak tadi. Saya meletakkan berkas di atas tumpukan itu. Dua orang yang ada di belakang saya ikut meletakkan berkasnya. “Jangan simpan di situ, nanti dikira anu-nya anggota” tegur bapak tadi dengan suara agak tinggi lalu melanjutkan pekerjaannya.

Setengah jam berlalu. Bapak tadi menyelesaikan berkas yang tadi ia ambil dari atas meja. Kemudian ia memisahkan map-map yang memiliki nomer antrian seperti berkas saya dengan yang lainnya. Ia lalu mencetak STNK di printer yang tak jauh dari mejanya. Beberapa STNK yang sudah tercetak ia susun dan serahkan ke salah satu orang yang berbaju kaos tadi. Setelah itu, ia menyebut nomer antrian saya dan menyerahkan STNK baru dan meminta saya ke bagian pencetakan Tanda Nomer Kendaraan Bermotor  (TNKB) atau pelat motor.

Bagian pelat motor ini berada di sebelah kiri gedung utama. Saya segera menuju ke sana. Di depan loket, seorang bapak yang lebih dahulu datang memberitahu saya untuk mengurus pelat motor di kantor Samsat lama yang berada di gedung Kantor Dispenda Jl. Pettarani kalau mau cepat. Saya kemudian menghampiri loket. “Siapa yang urus ini?” tanya lelaki penjaga loket. “Saya urus sendiri, Pak” jawab saya. Si penjaga loket kemudian meminta saya ke Pettarani. Persis kata bapak sebelumnya. “Kalau mau cepat, ke Pettarani saja. Di sini harus menunggu sampai bulan Agustus” katanya.

Baca Juga: Bagaimana Mengurai Kemacetan di Makassar

Pelayanan Samsat Sulsel ini tergolong cepat dan mudah. Waktu yang saya butuhkan dari pemeriksaan fisik kendaraan hingga ke bagian cetak pelat tak sampai satu jam. Belum lagi ruangan tunggu di dalam kantor pelayanan yang tergolong nyaman. Hanya saja, himbauan dan pengawasan untuk tidak menggunakan jasa calo saat perpanjang STNK dan ganti plat perlu ditingkatkan lagi.

Related Posts

About The Author

Add Comment