Perih(al) Kita, Surat #1

Dear Perempuan yang tak mau beranjak dari kenangan.

 

Semalam suratmu tiba, sesaat sebelum mata ini terpejam. Kantuk sudah menyergap, maafkan aku tak segera mengirim jawab.

Sore ini, berteman segelas teh hangat dan ingatan tentangmu, aku ingin membalas surat yang kau awali dengan sebuah tanya:

Kenapa kenangan selalu membuat kita menjadi lemah?

Ah, mengapa kau tiba – tiba mengirim kenangan dalam bentuk sebuah tanya? Sengajakah kau membuatku babak belur terkepung dan dihajar kenangan?

Seperti kau tahu, kenangan adalah harapan yang tak mewujud, sirna oleh kenyataan – kenyataan hidup. Kenyataan – kenyataan yang tak bersahabat dengan harapan. Di hadapan kenangan, kita menjadi lemah mengingat harapan – harapan kita yang musnah. Musnah oleh takdir. Takdir yang selalu kau pertanyakan.

Kepadamu yang sedang menikmati malam di kota kenangan.  Pernahkah kau percaya, tentang takdir pasangan ‘yang baik hanya untuk yang baik dan yang tak baik untuk tidak baik?’

Itu disebut keadilan semesta, katanya. Tapi aku.. Mengapa merasa ganjil?!

Bagaimana denganmu? Tidakkah kau merasa demikian?

Saya percaya satu hal: Tak ada orang sepenuhnya ‘yang baik’, pun sebaliknya. Tak ada yang benar – benar putih, pun sepenuhnya hitam. Kita adalah abu – abu dan akan selamanya begitu. Ada bagian hitam dalam putihmu. Ada bagian putih dalam hitamku. Untuk itulah, kita butuh seseorang untuk saling melengkapi. Sungguh sayang, kita tak ditakdirkan untuk saling menggenapi. Usah lagi kau pertanyakan takdir yang sudah berjalan atas kita.

Begitu banyak pertanyaan di kepalamu. Begitu banyak hal yang membuatmu muak. Tentang kita yang tak mungkin bersatu. Tentang mimpi – mimpi yang tak mungkin menjadi nyata.

Aku muak.

Muak sekali.

Muak karena tidak bisa lagi mencintaimu, hanya untuk membuktikan bahwa kebaikan akan selalu menemukan kebaikan. Padahal mereka mungkin lupa bahwa untuk mengenal kebaikan, paling tidak mereka harus mengenal seperti apa itu buruk, seperti apa itu ketidak-baik-an!

Kau bebas mencintaiku sampai kapan pun kau sanggup. Seperti aku yang akan terus mencintaimu semampuku. Hanya saja, kita tak lagi mungkin untuk saling melengkapi. Tak bisa lagi kita mempertemukan kebaikan dan ketidakbaikan yang kita punya. Mereka sudah memasang tembok tinggi yang tak mungkin aku panjati.

Kau tahu berkali – kali kita menabrakkan diri. Berkali – kali kita terluka. Tembok itu kian kokoh, sekaligus angkuh. Hingga kita berdua lelah. Tak sanggup lagi. Hanya mampu saling meraba melalui dinding – dinding tebal dan dingin itu.

Perih(al) Kita, Surat #1 b

 

Dear Perempuan yang mengirim kepungan kenangan,

Malam ketika membaca suratmu ini, dingin tembok itu memelukku. Menghantam dadaku. Membawa bergunung rindu menggantung di leher. Ingatan akanmu berkelindan dalam kepala. Sesak. Berlarian. Berkejaran.

Kepada laki-laki yang menikmati malam di kota kenangan. Malam ini aku terlalu kacau, mungkin kecupanmu bisa berhenti membuatku meracau, sesekali aku merindukan kenangan di kotamu.

Menikmati hujan dan tertawa dalam balutan pelukanmu.

Mencium aroma napasmu saat kau mengecup bibirku, merasakan lengan kokohmu saat melingkar pada bagian tubuhku.

Mengapa pula kau kirimkan bait – bait serupa di atas itu? Menenggelamkanku dalam genangan kenangan. Kau ingin membunuhku perlahan yah? Baiklah. Kau berhasil, paling tidak untuk malam itu. Tapi, yakinlah, aku akan selalu bisa bangkit. Untuk selalu hidup demi ingatan tentangmu. Kenangan satu-satunya bukti kalau kita hidup bukan untuk hari ini saja.

Bukankah hidup adalah rangkaian kenangan, juga harapan?

Kita hanyalah dua orang yang memang mencintai sekali Tuhan dan orang tua, memilih mengalah, mengganti kenangan buruk dengan kenangan lebih baik :”)

Terima kasih untuk pengertiannya melalui pengabaian yang kuterima.

Aku mencintaimu

Dengan hanya cinta.

 

Dear Perempuan yang menikmati kepungan kenangan,

Kita pernah berjuang, meski mungkin tak pernah cukup untuk mereka. Juga, untuk cinta kita. Setidaknya, kita tahu, kita pernah berjuang dan gagal.

Terima kasih untuk cinta yang selalu ada. Terima kasih untukmu yang mengajarkanku akan makna perjuangan, kehilangan dan keikhlasan melepaskan.

Aku mencintaimu.

Dengan segala kenangan.

 

 

 

sumber foto:

F1t4juwita.wordpress.com

Related Posts

About The Author

Add Comment