Perih(al) Kita #2: Tabula Rasa Lelaki Terindah

Sebuah amplop terselip di bawah pintu. Entah kapan tibanya. Pagi sesaat setelah saya mengunci kamar lalu menjalani rutinitas? Sore saat saya menunggu senja tak kunjung datang karena terhalang hujan? Mungkin juga seseorang menyelipkannya di larut malam sesaat sebelum saya membuka pintu? Entah.

Di dalam gelap, ujung kakiku menyentuh amplop yang sepertinya diletakkan tergesa itu. Setelah menyalakan lampu dan kipas angin, yah kipas angin, kupungut amplop itu. Tanpa membuka pakaian, sebagaimana ritual wajib setelah memasuki kamar, kuhempaskan pantat di kursi di depan meja sudut kamar.

Perlahan, amplop itu kubuka.

 

Dear kekasihku, laki – laki yang menjeratku dalam kenangan..

Hmm.. kalimat pembukanya seperti tak asing..

Kotaku sudah dibalut hujan, sepekan tak bisa kunikmati hangat mentari. Rasanya aneh, buku-buku jariku terlihat lebih tua dari yang seharusnya, wajahku pucat kehilangan rona merahnya, pun mungkin ketika kau mencubitnya dengan gemas rona merah itu tak akan nampak. Bagaimana di kotamu? Hujan kah? Atau malah sebaliknya, matahari malah bersinar cerah di kotamu? Jangan lupa untuk tetap minum yang banyak yah!

Satu per satu bayangan perempuan yang pernah mengisi hidupku bermunculan. Jari – jari keriput karena kedinginan. Pun, wajah – wajah pucat kehilangan rona merah berganti silih hadir dalam kepala. Aku berusaha mengingat, mana di antara pemilik jari dan wajah itu yang mungkin mengirim surat ini. Namun, semakin berusaha semakin sulit menemukan pemilik jari dan wajah itu.

Lalu hujan. Ah hujan datang tak lama setelah surat ini sampai. Ah.

Apakah hujan itu? Sekumpulan tetes air atau segenang kenangan? Lalu apakah benar hujan membawa sakit? Mana yang lebih menyakitkan; sekumpulan air yang menerpa tubuh atau segenang kenangan yang menerjang ingatan?

Aku tidak mau kau sakit, dan tolong lakukanlah sesuatu atas dasar kecintaanmu pada dirimu sendiri, bukan karena anjuran mereka yang (menurutmu) mencintaimu.

Hujan datang tak tentu belakangan. Tahun ini, Makassar sepertinya bukan tujuan yang menarik bagi hujan. Pernah ia datang tiga berturut tanpa jeda dan apa yang ia dapatkan? Caci maki dari orang – orang yang dulunya sangat mengharapkannya. Seakan – akan orang – orang itu lupa bahwa mereka pernah begitu merindukan hujan ketika kemarau hadir berkepanjangan.

Hujan datang bersama genangan air di mana – mana. Seakan ingin menunjukkan bahwa beginilah jika kota kami tak terurus dengan baik. Jalanan ditinggikan, saluran air diabaikan, air mengalir ke halaman rumah. Air masuk hingga ke kamar – kamar warga. Tanpa permisi. Serupa kenangan yang suka datang ke dalam bilik ingatan paling dalam.

Tolong, jatuh cintalah pada dirimu, sebelum jatuh cinta lagi. Kegagalan kemarin adalah cerita yang kelak akan membuat kita (di suatu saat nanti) bertemu dan menertawakan banyak hal.

Sejak jatuh hati pada pandangan pertama pada seorang perempuan pada sebuah siang di sebuah workshop penulisan aku tak pernah lagi jatuh cinta pada orang lain. Aku memang jatuh cinta berkali – kali sejak itu tapi hanya pada seorang perempuan. Perempuan pemilik matahujan. Perempuan yang dari matanya memancar kesejukan. Perempuan dengan mata yang mampu meredam terik matahari, amarah hati atau badai besar sekalipun.

Jatuh cinta lagi? Suatu saat nanti, mungkin.. Setelah bertemu dengan perempuan matahujan dan menertawakan kisah – kisah lama kami. Mungkin..

Salahkan aku, atas semua kenangan yang mungkin bisa jadi tak hanya menyiksaku, bisa jadi kau pun demikian.

Sebab ternyata ada banyak hal yang bisa membuat kita mengenang; seperti bau masakan, besar punggung seseorang yang kebetulan sama dan yang paling penting adalah lagu. Kau harus mengutuk dirimu untuk mengenalkanku pada Foo Fighter dan Coldplay, malam itu kau menyanyikan Trouble dan The Scientist. Malam itu kita ada di sebuah ruangan gelap, kau memelukku dan aku meraba jari manismu..

Hujan makin deras. Suara air jatuh di pancuran makin besar. Bayangan siapa pengirim surat ini pun makin kabur. Foo Fighter? Coldplay? Saya memang menyukai dua band ini, tapi menyanyikan Trouble dan The Scientist? Kentut saja saya fals, kata teman kuliah dulu.

Kau tak salah, cinta tak salah, aku tak salah; kita hanya dua manusia yang memang butuh penghiburan, aku anggap setahun kemarin adalah tamasya panjang yang oleh-olehnya adalah kenangan yang takkan lekang oleh waktu, hanya ada satu dan hanya untukku.

Kuhempaskan tubuh lelah ke peraduan. Mencoba memejam. Sebuah wajah membayang, samar. Di pelupuk mata wajah itu tersenyum. Suratnya masih panjang. Masih tersisa dua lembar kertas diari. Tak kuasa melanjutkan. Rasa penasaran makin mengepung. Siapa gerangan pengirimnya?

Aku kehabisan kata, untuk mengenalmu aku harus membaca banyak hal. Lebih dekat dengan hal yang kurasa tidak pernah bisa terpahami; kamera, puncak gunung, film, politik, musikmu bahkan semua hal yang kau sukai adalah hal yang tidak pernah bisa kupahami. Namun tetap kuusahakan untuk mengerti. Sebab aku ingin menyamai ritmemu, aku ingin beda dari mereka yang pernah menyakitimu. Aku ingin berdiri kuat memelukmu bahkan ketika kau sudah tak lagi menginginkan hangat yang kutawarkan. Aku akan tetap berdiri!!!!

Sebuah adegan terpampang jelas di langit kamar: seorang lelaki memapah seorang lelaki setengah mabuk memasuki sebuah kamar hotel. Susah payah lelaki itu menahan tubuh lelaki satunya saat mencoba membuka pintu kamar. Pintu kamar hotel terbuka. Wajah lelaki itu tersenyum sesaat sebelum menutup pintu kembali. Senyum terindah dari seorang lelaki.

Kepalaku tiba – tiba pening. Pusing yang luar biasa. Sesuatu mengocok isi perut. Namun senyum itu terus membayang di langit kamar. Seluruh isi kamar terasa berputar kencang. Aku berdiri, mencoba meraih saklar lampu. Semoga gelap mampu mengusir bayangan lelaki itu. Limbung. Sesaat sebelum terjatuh, mataku menangkap dua baris terakhir.

Aku mencintai mu, hanya dengan cinta. Tanpa apapun.

Dari lelaki yang terjerat kenangan olehmu.

 

Related Posts

About The Author

Add Comment