Pekan Ketiga #SebulanNgeblogKepo: Antara Cinta dan Kesetiaan, Ambulans Hingga Kematian.

Mengisi Ramadan Kelas Menulis Kepo memutuskan meliburkan diri dari pertemuan mingguan. Sebagai penggantinya, kami memilih untuk mengadakan #SebulanNgeblogKepo di mana para peserta diminta menulis sesuai tema per pekan. Hasilnya menggembirakan.

 

Pada dua pekan sebelumnya peserta diminta menulis berdasarkan tema, maka pekan ketiga ini mereka dibebaskan menulis apa saja. Penilaiannya terletak sejauh mana kemampuan mereka menggali detail dan mengembangkan suasana dalam tulisan.

Dalam pekan ketiga ini, ada tiga tulisan yang menarik perhatian saya.

Pertama, tulisan Kak Innah yang berjudul Belajar Tentang Cinta dan Ikhlas dari Kakek Ramang. Tulisan ini lahir dari kunjungan Kak Innah bersama komunitas foto yang mengadakan kegiatan sosial bulan Ramadan di sebuah pemukiman kumuh. Pada saat kunjungan ini ia menjumpai Kakek Ramang, seorang pria tua berusia 80an tahun.

Entah terdorong atas rasa iba atau kepo, mungkin keduanya, Kak Innah mengajak Kakek Ramang untuk berbincang. Obrolan antara Kak Innah dan Kakek Ramang dibantu oleh seorang warga yang berperan sebagai penerjemah karena Kak Innah tak mampu berbahasa Makassar. Satu-satunya bahasa yang dikuasai oleh Kakek Ramang.

Dari obrolan mereka Kak Innah kemudian menuliskan kisah Kakek Ramang. Bagaimana kemalangan menimpa lelaki tua ini secara beruntun. Kakek Ramang dulunya tinggal di Malakaji berdua dengan istri tercinta karena tak mau merepotkan anak-anaknya. Kemalangan bermula ketika istrinya jatuh sakit. Saat sakit sang istri meminta buah mangga. Kakek Ramang pun menuruti lalu memanjat pohon mangga tetangganya. Saat memanjat ia terjatuh dan sebuah kayu kecil menusuk bola matanya sebelah kanan yang menyebabkan kebutaan.

Kemalangan Kakek Ramang tak berhenti di situ. Sang istri berpulang tak lama kemudian karena sakitnya. Hidup sebatang kara di usia renta pun dijalaninya hingga ujian berikutnya datang. Si Jago Merah melahap habis rumahnya. Tak menyisakan satu apapun.

Seorang diri tanpa harta apapun, Kakek Ramang memutuskan pindah dan mencari penghidupan dengan menjadi pemulung di Gowa. Untunglah ia bertemu seorang ibu yang mau memberikan tumpangan dengan meminjamkan lahan kosong sekira 2×3 meter. Di atas lahan itu Kakek Ramang membangun gubuk untuk melanjutkan hidup. Kisah hidup Kakek Ramang bisa teman-teman baca di Belajar Tentang Cinta dan Ikhlas dari Kakek Ramang.

Kakek Ramang (foto: Kak Innah)

Kakek Ramang
(foto: Kak Innah)

Andai ada pemilihan tulisan terbaik seperti yang biasa kami lakukan pada angkatan sebelumnya, saya akan memilih tulisan Kak Innah ini. Tulisan ini mampu memunculkan pelajaran dari kisah orang kecil. Tentang cinta dan keikhlasan Kakek Ramang menghadapi berbagai ujian dalam hidup. Kak Innah juga mampu membabarkan detail dan membawa pembaca ke dalam suasana perkampungan kumuh yang ditempati oleh Kakek Ramang.

Tulisan kedua yang menjadi favorit saya adalah tulisan Kak Ruris tentang pengalamannya menghadapi kematian pasien. Kak Ruris yang merupakan seorang perawat di salah satu rumah sakit di Makassar ini membawa saya merenung dan mengingat kematian.

Kak Ruris membuat saya membayangkan berada pada kejadian yang ia tuliskan. Bagaimana ia menggambarkan suasana ruang Unit Gawat Darurat, kedatangan pasien yang diantar oleh temannya, juga bagaimana perasaan dan sikap teman si pasien yang mengantarkannya ke rumah sakit. Coba baca dua paragraf awal tulisan Kak Ruris ini:

Tangan pria itu gemetar, mengulurkan selembar kertas. Wajahnya pucat. Mungkin di antara orang di ruangan penuh pasien dan pengunjung ini, ialah yang perasaannya paling kalut. “Besok keluarganya datang” kata pria paruh baya itu. Saya lalu menerima kertas tanda penyelesaian administrasi yang dia sodorkan.

Ia berdiri tepat di sebelah keranda hijau bersama petugas yang siap menjemput teman yang datang bersamanya dua jam yang lalu. Ia nampak kebingungan. Bagaimana tidak, mereka masih bersama dua jam yang lalu. Menginap bersama di sebuah hotel karena perjalanan dinas . Sekarang ia harus siap menerima kenyataan bahwa teman yang bersamanya sudah tak ada.

Saat menentukan penugasan #SebulanNgeblogKepo yaitu menggali kemampuan peserta untuk bermain detail dan suasana, tulisan seperti inilah yang ada di kepala saya. Membaca kalimat-kalimat dalam tulisan itu membawa saya larut dalam isi tulisan. Kak Ruris mampu ‘menggambarkan’ bukan menyebutkan. Sangat filmis. Selengkapnya, silakan baca tulisan lengkap Kak Ruris di Mati, Untuk Pengingat Mati.

Tulisan ketiga pilihan saya adalah tulisan dari Rizky Amalia Wakano alias Kakiwa, Bu Dokter yang sedang bertugas di sebuah Pusat Kesehatan Masyarakat di Barru. Kali ini Kakiwa menuliskan pengalamannya nyaris menjadi supir ambulans. Sebuah cita-cita yang sangat ia impikan.

Berbeda dengan kedua tulisan yang saya bahas sebelumnya, tulisan Kakiwa ini lebih ringan. Saat membacanya, kita bisa membayangkan bagaimana keadaan Puskesmas tempatnya bertugas. Dalam tulisan ini Kakiwa membuka tulisan tentang impiannya yang terpendam yaitu mengendarai segala jenis mobil, termasuk ambulans.

Mimpi itu nyaris menjadi nyata saat seorang pasiennya yang datang tengah malam dan butuh rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai. Di saat genting, sang supir ambulans tak dapat dihubungi. Keadaan ini sedarurat ini memaksa Kakiwa untuk memutuskan membawa sendiri ambulans itu ke rumah sakit terdekat. Sekaligus mewujudkan mimpi lamanya.

Membaca Supir Ambulans Yang Gagal ini membuat saya senyum-senyum sendiri. Sulit untuk tidak jatuh cinta pada tulisan dari seorang dokter yang loveable ini.

Ketiga tulisan di atas tentu tak lepas dari kekurangan. Tulisan Ruris misalnya, ada banyak kesalahan penulisan. Sepertinya ia tak sempat memeriksa ulang sebelum menayangkannya di blog. Pun, pada tulisan Kak Innah, terasa ada beberapa diksi yang kurang tepat. Untungnya, kekurangan-kekurangan itu tak mengganggu pembacaan.

Pun dengan 12 tulisan lain di pekan ketiga ini. Membaca tulisan-tulisan mereka membuat dada terasa hangat. Ada sukacita tersendiri melihat perkembangan tulisan mereka. Meski, masih banyak kekurangan dan kelemahan yang mereka harus perbaiki. Kami masih harus selalu belajar dan belajar menulis. Bersama, tentu saja.

 

Catatan:

Hingga pekan ketiga #SebulanNgeblogKepo  tercatat sudah menghasilkan 46 tulisan. Pekan pertama yang bertema Ramadan ada 21 tulisan. Pekan kedua  dengan tema Tempat Impian menghasilkan 10 tulisan. Pekan ketiga yang ditujukan untuk menggali kemampuan peserta dalam menggambarkan suasana dan detail menghasilkan 15 tulisan.

Ke 46 tulisan itu buah tangan dari 14 peserta Kelas Menulis Kepo dari tiga angkatan. Kami memang tidak mewajibkan semua peserta untuk ikut dalam #SebulanNgeblogKepo ini. Dari 14 peserta ini, dua peserta (Enal dan Kiwa) masing-masing menghasilkan enam tulisan.  Peserta lain masing-masing menghasilkan empat tulisan ada empat orang. Peserta yang menyelesaikan tiga tulisan juga dua orang. Untuk yang dua dan satu tulisan, masing-masing ada dua orang.

Related Posts

About The Author

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.