PASIKOLA, Petepete Anak Sekolah

Pasikola atau Petepete Anak Sekolah berawal dari lokakarya design thinking bagaimana menciptakan transportasi publik yang dicintai masyarakat.

Lokakarya yang menghasilkan ide Pasikola ini diselenggarakan oleh Pemkot Makassar, dalam hal ini Dinas Perhubungan, bersama UNDP, Pulse Lab dan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) pada bulan November 2016.

Pada awalnya, saya tak begitu tertarik untuk menghadiri lokakarya ini saat Ibu Zusanna Gosal, Wakil Direktur BaKTI, menginfokan dan mengajak untuk bergabung. “Ah, palingan workshop ini hanya untuk menghabiskan anggaran” pikir saya saat itu, apalagi kegiatannya diadakan pada bulan November, akhir tahun.

Satu-satunya alasan menghadiri lokakarya ini karena menggunakan pendekatan design thinking yang melibatkan beberapa fasilitator yang saya kenal mumpuni seperti Kak Luna Vidya. Jadinya, saya pun datang dengan niat hanya satu, mencuri ilmu dari Kak Luna dan fasilitator lainnya. Tak lebih dari itu. Tak mau menaruh harapan lebih mengingat sangat banyak lokakarya yang saya ikuti berakhir menjadi sekadar seremonial belaka.

Mengenai Lokakarya ini baca juga Mengurai Kemacetan di Makassar

Pada workshop ini mengemuka 6 (enam) ide dari enam kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari berbagai unsur elemen masyarakat seperti akademisi, komunitas kreatif hingga penyandang disabilitas. Hadir pula perwakilan Organisasi Angkutan Darat (Organda), Dinas Perhubungan dan Kepolisian. Keenam ide itu muncul dari diskusi kelompok yang kemudian dimatangkan pada sesi ujicoba pada warga sekitar.

Pada bagian akhir lokakarya yang berlangsung tiga hari ini, keenam kelompok mempresentasikan ide mereka ke hadapan Pavaani Reddy, perwakilan UNDP Region Asia Pasifik dan Mario Said Kepala Dinas Perhubungan Kota Makassar. Pada sesi pitching ini, keenam kelompok itu diberi kebebasan menggunakan media apa saja dalam presentasi namun hanya diberi waktu selama lima menit.

Pada sesi presentasi ini akhirnya terpilih dua ide untuk dikembangkan dalam tahapan inkubasi yaitu Petepete Anak Sekolah, disingkat Pasikola, dan aplikasi E-Nassami. Kegembiraan menyelimuti tim kami karena tak percaya dan menyangka presentasi kami mengenai Pasikola terpilih sebagai ide terbaik dan akan berlanjut ke tahap inkubasi.

Kenapa kami tak percaya? Sebab presentasi kami terkesan apa adanya. Saat kelompok lain menggunakan berbagai media bantu seperti power point dan purwarupa, bahkan ada yang dalam bentuk mini teater, kami hanya menggunakan tiga slide (dari papan plastik) dengan menggunakan guntingan Koran. Slide pertama menjelaskan masalah yang dihadapi, kemudian slide kedua berisi ide dan konsep Pasikola, lalu diakhiri dengan slide ketiga yang berisi value yaitu kenapa harus memilih Pasikola.

Kelompok 3 yang bersama fasilitator Luna Vidya. Kelompok ini yang menelurkan ide Pasikola pada Workshop Transportasi Publik yang diselenggarakan oleh UNPD, BaKTI, Pulse Lab dan Pemkot Makassar

Kelompok 3 yang bersama fasilitator Luna Vidya. Kelompok ini yang menelurkan ide Pasikola pada Workshop Transportasi Publik yang diselenggarakan oleh UNPD, BaKTI, Pulse Lab dan Pemkot Makassar

Ide Pasikola berangkat dari ketiadaan akses transportasi publik yang secara khusus menjangkau sekolah-sekolah. Saat ini ada 17 rute Pete-pete di Makassar yang umumnya hanya melalui jalur arteri dan tidak menjangkau jalur lokal atau pemukiman dan sekolah-sekolah. Sekolah – sekolah favorit yang ada di Makassar umumnya berada di ‘kota lama’ semisal di sekitaran kawasan Pecinan (Kompleks SDN Sudirman, SMPN Neg 2, SMPN 5 dan SMPN 6) dan kawasan Cendrawasih (SMPN 1, SMPN 3, SMAN 2, SMAN 8 dll).

Banyak orang tua siswa yang memasukkan anak ke sekolah – sekolah favorit yang berlokasi umumnya di kawasan kota lama sementara mereka berdomisili di kawasan-kawasan baru semisal, Daya, Sudiang, Samata dll. Ini tentu membutuhkan akses transportasi publik untuk memudahkan mobilitas peserta didik.

Ketiadaan akses transportasi publik pada sekolah ini mendorong peningkatan penggunaan kendaraan pribadi orang tua siswa ketika mengantar dan menjemput anak mereka. Titik penumpukan kendaraan terjadi di lokasi sekolah, di mana bentor, petepete dan kendaraan pribadi mobil dan motor berhenti-menurunkan dan menaikkan penumpang.Penggunaan kendaraan pribadi ini kemudian mengakibatkan munculnya titik-titik kemacetan baru, utamanya di area sekolah-sekolah.

Tak sedikit pula orang tua siswa menyediakan kendaraan pribadi bagi anaknya, termasuk anak usia di bawah umur yaitu pelajar sekolah menengah pertama (SMP). Hal ini memicu pada jumlah kecelakaan pada pengguna kendaraan usia di bawah umur. Dalam sebuah berita di di laman web resminya, Satuan Lalu Lintas Poltabes Makassar melansir data kecelakaan  hingga Agustus 2011 telah mencapai sekitar 1.600 kasus. Korban kebanyakan dari usia produktif, 75 persen kecelakaan dialami pengendara sepeda motor dengan korban kecelakaan luka maupun meninggal, 46 persen berusia produktif berumur 11-30 tahun.

Hal lain yang mendasari lahirnya ide Pasikola adalah semakin tersisihnya keberadaan petepete konnvensional yang pernah mengalami masa kejayaan pada era awal 2000an. Saat ini ada sekira 2000an armada petepete yang beredar di jalan-jalan kota Makassar. Sayangnya, acapkali kita menjumpai petepete ini sepi penumpang. Sangat jarang kita bisa menemui petepete yang terisi penuh oleh penumpang. Keberadaannya kian tersisih oleh kendaraan pribadi.

Tahapan setelah lokakarya adalah inkubasi yang diadakan pada bulan Februari – Maret 2017. Pada tahapan inkubasi ini, kedua tim yaitu tim Pasikola dan E-Nassami mematangkan ide dengan mengunjungi pihak-pihak yang dianggap akan dapat membantu terwujudnya ide mereka. Dalam proses inkubasi ini kedua tim juga mengadakan riset dan uji lapangan berupa kunjungan ke Dinas Perhubungan Kota Makassar dan Dinas Pendidikan Kota Makassar guna melihat kemungkinan pelaksanaan ide Pasikola ini.

Tim Pasikola juga belajar langsung pada anggota Yayasan Ikatan Supir Antar Jemput (YIKSAJ) Kompleks SDN Mangkura dan pengelola angkutan Sekolah Islam Athirah. Di kedua sekolah ini, tim belajar bagaimana kedua pengelola jasa angkutan sekolah ini menjalankan jasa antar – jemput anak sekolah. Beberapa pembelajaran penting dari keduanya kemudian diadopsi oleh Pasikola, semisal bagaimana menentukan durasi dan rute penjemputan.

Tim Pasikola menemui supir petepete di Terminal Malengkeri

Kunjungan lain adalah ke SMP Negeri 5 Makassar, SMP Negeri 2 Makassar, Kompleks SDN Negeri Mangkura, dan Kompleks SD Negeri Sudirman. Dalam kunjungan ke sekolah-sekolah ini, tim  bertemu dengan orang tua siswa, siswa sekolah dan juga guru-guru serta kepala sekolah untuk mengetahui kebutuhan mereka dalam hal jasa angkutan antar jemput anak sekolah.

Pada saat melakukan kunjungan ke kompleks SDN Mangkura, tim menemui beberapa orang tua siswa sekolah tersebut. Ibu Endang, salah satu orang tua siswa, menyatakan ia membutuhkan dan sangat mendukung jika ada layanan antar jemput siswa semacam Pasikola. Ia mengaku akan sangat terbantu dengan adanya layanan ini mengingat ia berdomisili di kawasan Barombong, salah satu kawasan baru yang mengalami pertumbuhan pesat, yang tidak memiliki akses transportasi publik. Ibu yang memiliki anak yang saat ini duduk di kelas V, mengaku harus menunggui anaknya hingga pukul 5 sore setiap hari. Ibu ini mengusulkan angkutan Pasikola menyediakan air minum di dalam mobil.

Begitu pun dengan Ibu Nurbaya, yang memiliki dua anak yang bersekolah di SDN Mangkura dan satu anak lagi di sekolah lain. Ia pun menyatakan dukungannya pada Pasikola ini karena bisa meringankan bebannya melakukan antar jemput mengingat ia memiliki tiga anak yang bersekolah di dua tempat berbeda.

Dari sisi siswa, kami menjumpai Cindy, siswi SMPN 5 yang berdomisili Jl Irian ini menggunakan pete-pete untuk ke sekolahnya yang berada di Jl. Sumba. Rumahnya berada di lorong, sehingga perlu berjalan kaki sekira lima menit keluar ke Jl. Irian (dekat Toko Jameson) dan menunggu pete-pete. Saat pulang sekolah, Cindy harus berjalan kaki lebih jauh ke jalan utama bila ingin naik pete-pete satu kali ke rumahnya. Bisa saja ia memilih menggunakan bentor tapi itu berarti akan ada pengeluaran ekstra yang tidak sedikit.

Selain ketiga narasumber di atas, tim mencatat ada banyak temuan dari berbagai narasumber lainnya, termasuk pengemudi petepete konvensional. Hasil temuan ini nantinya sangat berguna dalam pematangan ide dan konsep Pasikola, dan juga dalam penyusunan Business Plan Pasikola.

saksikan juga dokumentasi video rekaman proses dari workshop hingga Piloting 1.1 di bawah ini

video bisa diakses di http://bit.ly/videopasikola

bersambung ke bagian 2: Pasikola: Inkubasi Hingga Piloting

Related Posts

About The Author

Add Comment