Pasikola, Agar Tak Menjadi Tua di Jalanan

Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.

Kutipan di atas adalah sindiran satir Seno Gumira Ajidarma dalam tulisannya yang berjudul Menjadi Tua di Jakarta. Seno Gumira Ajidarma yang merupakan Sastrawan yang juga seorang Wartawan, Penulis, Fotografer dan Kritikus Film Indonesia ini menyindir warga Jakarta yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka di jalanan karena persoalan kemacetan yang melanda ibukota tersebut.

Membaca tulisan Seno, yang kini menjabat sebagai Rektor Institut Kesenian Jakarta itu, membuat saya terserang kecemasan saat itu. Bukan apanya, Makassar pun sudah menunjukkan hal yang sama. Kemacetan sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Tingginya akan kepemilikan kendaraan yang tak berimbang dengan luas kapasitas jalan menjadi penyebabnya.

Minimnya akses transportasi massal sebagai pendukung perkembangan kota akan memaksa warga menggunakan kendaraan pribadi. Ini pula yang sedang terjadi di Makassar, kawasan-kawasan pemukiman bertumbuh pesat. Kompleks perumahan berdiri di mana-mana namun tak diimbangi dengan kehadiran moda transportasi yang menunjang mobilitas warga. Mau tak mau, warga membeli kendaraan pribadi.

Data BPS 2016 menunjukkan Makassar memiliki jumlah penduduk sebanyak 1.7 juta jiwa dengan jumlah kendaraan menghampiri angka 1.5 juta unit. Bisa bayangkan betapa padat dan sesak jalanan Makassar? Kondisi ini membuat saya cemas membayangkan apa yang ditulis oleh Seno di atas bisa menjadi kenyataan di Makassar. Saya tak mau menjadi tua di jalanan Makassar.

November 2016, Pemerintah Kota Makassar dan Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) dengan dukungan United Nations of Development Programme mengadakan sebuah workshop tentang transportasi. Sebagai blogger dan penggiat media sosial, saya mendapat undangan untuk menjadi peserta.

Sekira 50an peserta dari beragam latar menjadi peserta yang dibagi menjadi enam kelompok. Setiap kelompok kemudian mendiskusikan permasalahan transportasi yang mereka alami sehari-hari. Dari permasalahan itu kemudian mereka mencari  ide solusi untuk masalah-masalah temuan.  Ide solusi dalam bentuk purwarupa juga kemudian dibawa ke warga sekitar untuk memberi tanggapan.

Dalam workshop itu kelompok kami menelurkan ide Pasikola, akronim dari Petepete Anak Sekolah. Petepete adalah sebutan mikrolet angkutan umum di Makassar yang keberadaannya makin tidak populer. Tersisih oleh kendaraan pribadi dan angkutan daring. Ide Pasikola ini muncul karena salah satu masalah transportasi yang kami temui adalah akses tranportasi massal  dari kawasan-kawasan pemukiman ke sekolah-sekolah juga sangat minim. Hal ini membuat warga mau tak mau menggunakan kendaraan pribadi untuk keperluan antar-jemput anak. Tak pelak, kemacetan di beberapa titik sekolah menjadi pemandangan yang akrab dalam keseharian warga Makassar.

Pasikola akhirnya terpilih dari enam ide yang dipresentasikan pada hari akhir workshop. Setelah workshop, ide Pasikola yang terpilih ini kemudian masuk pada proses inkubasi dan riset selama dua bulan yaitu pada Februari – Maret 2017. Dalam masa itu kami menjumpai banyak pihak, mulai dari orang tua siswa di beberapa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Makassar hingga pengemudi petepete yang nongkrong di Terminal Mallengkeri.

Hasil dari riset itu kemudian kami tuangkan ke dalam modifikasi petepete yang sesuai dengan keinginan calon pengguna. Pasikola kemudian hadir dengan beberapa fasilitas ramah anak seperti; perpustakaan mini, teralis pengaman, penyejuk ruangan, pengharum ruangan, tempat sampah, air minum, kotak P3K dan tabung pemadam kebakaran.

Ada pula aplikasi android sebagai media penyambung informasi antara orang tua siswa, sekolah dan manajemen Pasikola. Dalam aplikasi ini orang tua siswa bisa memantau keberadaan mobil dalam waktu pengantaran dan penjemputan. Orang tua juga bisa berkomunikasi langsung dengan pengemudi demi memastikan keamanan dan keselamatan siswa.

 

Pasikola dengan Aplikasinya. #Pasikola #piloting1_2 #piloting1_3

A post shared by Pasikola (@epasikola) on

Para pengemudi pun kami latih agar menjadi pengemudi yang professional, santun dan beretika. Demi memaksimalkan layanan, para pengemudi Pasikola kami bekali dengan pelatihan dua tahap; In House Training dan On The Job Training. Selain fasilitas dan aplikasi, operasional Pasikola juga disertai dengan Standar Operasional Procedure bagi para pengemudi untuk memastikan keamanan dan kenyamanan siswa pengguna.

Dengan dukungan UNDP, tim Pasikola di bawah koordinasi BaKTI dan Pemkot Makassar (dalam hal ini Dinas Perhubungan), terhitung sejak 15 Mei 2017 Makassar hingga Oktober 2017 ini telah menyelesaikan tiga masa piloting melayani 3 sekolah yaitu SMPN 3 Makassar, SDN Kompleks IKIP dan SDN IKIP 1 dengan jumlah siswa layanan sebanyak 40 siswa. Dari 40 siswa itu 26 adalah laki-laki dan 14 perempuan. Secara demografi, semua siswa pengguna Pasikola tersebar di 5 kecamatan yaitu: Panakukkang, Tamalate, Mariso, Rappocini dan Mamajang. Sementara sekolah terletak di Kecamatan Mariso (SMPN 3) dan Kecamatan Panakukkang (SDN Kompleks IKIP dan SDN IKIP 1).

Sebelum adanya Pasikola 75% dari 40 siswa layanan menggunakan kendaraan pribadi untuk ke sekolah yaitu mobil atau motor, baik itu diantar oleh orang tua atau pun keluarga lainnya. Ada pula yang sudah menggunakan sepeda motor ke sekolah. Sisanya sebesar 25% menggunakan transportasi umum seperti bentor, pete-pete atau ojek online.

Angka pengurangan kendaraan pribadi yang awalnya digunakan untuk mengantar-jemput siswa sekolah memang belum menunjukkan angka signifikan mengingat armada Pasikola juga masih sangat sedikit. Namun saya mencatat ada beberapa dampak positif yang mulai terlihat sejak adanya Pasikola.

  1. Pengurangan penggunaan kendaraan pribadi dalam proses antar jemput meski angkanya belum signifikan. Salah seorang siswa pengguna Pasikola awalnya menggunakan kendaraan pribadi (sepeda motor) ke sekolah, hal ini tentu membawa resiko kecelakaan bahkan kematian pengguna kendaraan di bawah umur.
  2. Orang tua pengguna layanan memiliki waktu luang setelah adanya Pasikola. Waktu luang di pagi hari yang dulunya untuk mengantarkan anak ke sekolah bisa mereka gunakan untuk hal lain. Begitu pun pada siang atau sore hari pada jam pulang sekolah, orang tua bisa lebih fokus pada aktfitas mereka tanpa dipusingi dengan penjemputan anak.
  3. Tingkat kepercayaan orang tua pada pengemudi semakin bagus. Dalam memudahkan koordinasi proses antar jemput dengan orang tua siswa, kami membuat grup Whatsapp untuk setiap armada. Dalam grup itu interaksi antar pengemudi dan orang tua terjalin sehingga menimbulkan rasa kepercayaan pada pengemudi.
  4. Stigma yang melekat pada pete-pere di Makassar adalah angkutan yang ugal-ugalan dan semaunya. Adanya pelatihan dan SOP yang diterapkan dalam Pasikola, pada akhirnya mampu membuat para pengemudi Pasikola menjadi lebih professional, santun dan beretika dalam menjalankan tugasnya. Begitu pun dengan penggunaan Whatsapp dan aplikasi. Sebelum bergabung dengan Pasikola para pengemudi belum bisa menggunakan ponsel cerdas dan media sosial. Melalui pelatihan dan pembiasaan setiap hari, kini mereka sudah bisa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pengemudi bahkan mengaku tidak lancar baca tulis sebelum bergabung dan merasa bersyukur karena sudah bisa memanfaatkan tehnologi.

Pada Piloting 1.4 yang akan berjalan mulai November 2017 Pasikola akan menambah dua armada untuk melayani sekolah baru yaitu Kompleks SDN Sudirman yang juga terletak di kawasan padat dan sering kali mengalami kemacetan. Pertambahan armada akan dilakukan bertahap. Pada awal 2018, direncanakan armada Pasikola sudah berjumlah 10 armada untuk melayani kebutuhan antar jemput anak sekolah.

Ke depan,  untuk memastikan keberlanjutan layanan, Pasikola diharapkan dapat menjadi Badan Layanan Umum Daerah di bawah Pemerintah Kota Makassar.

Pasikola, jika berjalan sesuai harapan dan dengan jumlah armada yang memadai, tentunya bisa menjadi salah satu solusi dari permasalahan kemacetan di Makassar dan warga Makassar tak lagi merasakan kemacetan. Agar saya dan warga Makassar tak perlu lagi takut untuk menjadi tua di jalanan seperti yang dituliskan Seno Gumira.

 

Related Posts

About The Author

2 Comments

Add Comment