pak polisi, sekali lagi…

saya tertegun setelah sempat tertawa membaca sebuah sms singkat di sebuah surat kabar berbunyi: saya lebih baik memilih push up 50 kali daripada harus bertemu polantas yang kerjanya hanya pungli terus.
lama saya terdiam, bertanya pada diri sendiri: apa yang lucu dari sms ini? ternyata, saya sedang menertawakan diri sendiri.pengirim sms ini mungkin menderita penyakit yang sama dengan saya: policephobia. saya lebih memilih untuk jalan kaki dibanding menggunakan kendaraan bermotor bila jarak tempuhnya tidak terlalu jauh.
kalaupun harus menggunakan sepeda motor bersama teman, saya memilih untuk duduk di belakang saja. malas rasanya bila mengendarai motor dan tibatiba harus berhadapan orangorang berseragam coklat itu. seperti isi sms di atas, mereka selalu mencari cara agar bisa ‘menilang’ para pengendara. begitupun punglipungli mereka. apapun mereka lakukan asal bisa menebalkan kantong. saya memilih untuk menggunakan angkot bila jaraknya jauh, lebih aman. saya tidak berani mempertaruhkan nyawa pada penggunapengguna jalan yang kadang tidak beradab.
dalam diam saya teringat headline korankoran beberapa waktu lalu. empat polisi tewas dalam bentrokan ketika mencoba mencoba menghentikan aksi penutupan jalan oleh masyarakat anti freeport di abepura. pun, seminggu lalu seorang polisi tewas ketika mencoba melerai pertikaian antar warga di makassar.
begitu mudahkah nyawa seorang aparat terlatih melayang di tangan orangorang yang seharusnya mereka ayomi? seberapa besar penghargaan orangorang terhadap polisi? dan tak butuh waktu lama bagi saya untuk mengambil kesimpulan: kepercayaan masyarakat pada polisi sudah mencapai titik ekstrem, benci. bukannya melindungi dan mengayomi, para polisi malah menciptakan rasa tidak aman pada masyarakat. bahkan mungkin dendam di hati karena perlakuan para polisi itu pada masyarakat.
kasus tewasnya polisi abepura dan makassar, mungkin adalah salah satu contoh pelampiasan rasa orangorang yang selama ini ditindas atas nama hukum dan seragam. ketika ada kesempatan, mereka tidak sempat berpikir panjang lagi bahwa polisi juga manusia biasa. yang ada adalah: sumber ketakutan harus dihilangkan, dendam harus terbayarkan. dan polisi terkapar tewas.
ketidakmampuan polisi menciptakan rasa aman bagi masyarakat sesuai dengan semboyan mereka adalah indikator betapa rapuhnya bangsa ini. bila mereka, sebagai salah satu bagian dari aparat penegak hukum selain jaksa dan hakim, tidak lagi mendapat penghargaan yang layak sudah sewajarnya bila negara ini kacaubalau…

Related Posts

About The Author

Add Comment