okkots… siapa takuts?

berapa hari belakangan saya sering mendengar sebuah lagu yang sering diputar di radio. lagu itu berjudul Makassar Bisa Tonji yang berarti Makassar Juga Bisa. awalnya judul lagu yang dinyanyikan oleh art2tonic ini mengingatkan saya pada sebuah acara yang diadakan salah event organiser yang menampilkan band-band dan penyanyi makassar dalam satu panggung. kalo tidak salah ingat, acara itu menghadirkan w.r supratman band, loe-joe band, b-five band dan juga tifosi. secara tidak langsung, acara ini ingin membuktikan bahwa musisi makassar juga bisa berkarya. kini, lagu Makassar Bisa Tonji itu menjadi bukti karya anak makassar.
tapi, bukan karena hal itu yang membuatku ‘jatuh cinta’ pada lagu ini. saya menyukainya karena lagu ini berhasil menyentil saya yang terkadang ‘malu’ menggunakan dialek bugis-makassar karena takut okkots (saya tidak bisa menjelaskan okkots dengan baik). lagu ini menyindir saya dan anak muda makassar, -yang menurut seorang teman,- telah tercerabut akarnya. mereka malu untuk memakai tradisi sendiri dan lebih bangga dengan ‘sesuatu’ dari luar, salah satu contoh adalah rasa malu menggunakan dialek sendiri dan malahan latah menggunakan dialek jakarta.
diawali dengan musik dan lirik yang diambil dari dolanan jawa, mereka kemudian bercerita tentang seorang yang selalu menggunakan logat jakarta (lu-gue) setelah pulang dari jakarta. cerita kemudian mengalir dengan menggunakan dialek makassar. art2tonic, dengan cerdas, menyampaikan pesan bahwa dialek makassar juga bisa dipakai dan enak didengarkan. mereka telah membuktikan langsung dalam lagu itu.
pesan dan pesona lagu itu sampai kini masih ‘mengendap’ dalam pikiran, maka izinkan saya membaginya. dengan meminjam bait penutup lagu itu; “kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. kalau ada umur kita panjang. mariki’ berjanji untuk tidak logat lagi.”

Related Posts

About The Author

Add Comment