Narsisme Akut Pemimpin = Sampah Visual

 

Dalam sebuah blog saya menemukan postingan menarik bagaimana betapa publikasi dalam berbagai bentuk sangat mengganggu pemandangan, dan juga kebersihan kota. Blog ini sepertinya menaruh perhatian besar pada kota dan segala dinamika yang berdenyut di dalamnya. Saya berkunjung ke blog ini ketika menemukan link yang dibagi seorang teman melalui twitter.

Postingan di link itu menyoroti bagaimana pertarungan calon kandidat ketua umum HIPMI diwarnai dengan tebaran wajah kandidat-kandidat itu di kota Makassar melalui baliho. Wajah-wajah ini tentunya salah alamat. Pemilih mereka bukanlah warga Makassar secara keseluruhan, namun baliho mereka telah tersebar hampir di seluruh penjuru Makassar. Hasilnya, sampah visual tentu saja! Tulisan lengkap blog itu bisa dibaca di sini

Sampah visual sebenarnya sudah lama muncul di berbagai kota di Indonesia. Tepatnya, ketika pemilihan secara langsung dimulai. Pemilihan langsung pertama kali dilakukan pada saat Pilipres 2004 untuk memilih Presiden dan Wapres. Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, pilkada dimasukkan dalam rezim pemilu, sehingga secara resmi bernama “pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah”. Pilkada pertama yang diselenggarakan berdasarkan undang-undang ini adalah Pilkada DKI Jakarta 2007.

Mulai dari presiden, gubernur hingga walikota/bupati dipilih secara langsung. Begitupun dengan anggota dewan, dari pusat hingga ke tingkat kabupaten. Agar terpilih, para kandidat kepala daerah beserta calon anggota legislatif sibuk memperkenalkan diri ke masyarakat. Salah satu medium yang dipakai adalah baliho. Indonesia terdiri dari 398 kabupaten, 93 kota, 1 kabupaten administrasi, dan 5 kota administrasi. Jadi bayangkan saja seberapa banyak baliho yang akan dicetak!

Memperkenalkan diri tentulah sah-sah saja mereka lakukan.Hanya saja jika itu dilakukan berlebihan tentulah jadi mengundang pertanyaan. Ada apa dengan mereka? Asumsi awalnya adalah mereka tidak percaya diri bahwa mereka dikenal baik oleh calon pemilihnya. Kalo dikenal, kenapa mesti mengumbar wajah?

Seorang teman yang pernah mengecap pendidikan di bidang psikologi memaparkannya alasan dibalik maraknya baliho-baliho itu. Teman ini mengupas masalah ini dengan membahas Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulsel saat ini. Menurutnya, SYL (dan elit lain, pen) mengidap penyakit Gigantic Ego dan Megalomania.

Teman itu menulis, “coba kita lebih jauh melihat apa sebenarnya yang diidap oleh gubernur kita ini, yang salah satu gejalanya adalah narsisme luar biasa, dengan memajang foto-foto dimana-mana dan perilaku-perilaku ‘menyimpang’ lainnya. Karena SYL adalah seorang pemimpin maka kita coba lihat dari sudut pandang kita melihatnya sebagai seorang pemimpin, seorang gubernur. Dan karena saya curiga SYL menyimpan gejala-gejala psikopatologis yang banyak di derita oleh para ‘pemimpin’ yang selalu dengan mudah terselip menjadi analog dengan ‘pemegang kekuasaan’. ‘MEGALOMANIA’ atau juga disebut ‘Waham Kebesaran’, yah gejala-gejalanya mungkin kesana” Lengkapnya bisa di baca di sini.

Seorang teman pula, yang saya kenal via twitter juga bercerita sedikit pengalamannya mendesain baligo untuk Dinas Kehutanan yang akan mengadakan program peluncuran benih di sebuah kabupaten. “sy jg kmrn ngedesain baliho launching penaburan benih, 5 jenis, foto beliau smua gede2 -_-“ ungkap teman tadi via akun @t*****i_c*****t. Foto itu, tentu saja lebih besar dari pesan yang ingin disampaikan oleh Dinas Kehutanan pemilik hajatan.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa foto SYL mengambil ½ sampai 2/3 bagian baligo-baligo yg ia desain. “awalnya cmn 1 pake fotonya,sisax kadis kehutanan n JK,eh tiba2 minta dganti dia smua -_-” jelasnya via twitter.

Nah, menyikapi hal tersebut apa yang bisa lakukan? Seorang teman yang sangat kesal oleh baligo itu mengusulkan agar para bomber ‘menyerang’ baligo itu. Ada juga usul untuk membuat baligo tandingan untuk menyindir para elit itu yang menumpang tuk mengumbar wajah secara gratis melalui baligo-baligo kegiatan instansi pemerintah.

Saya kurang sepakat dengan usulan untuk mem’bomb’ atau membuat baligo tandingan yang akan menambah kotor kota dengan sampah visual. Saya lebih memilih, jika ada yang berani, membersihkan sampahvisual itu dengan mencuri baliho2 itu lalu memanfaatkannya untuk hal lain semisal menjadikannya kanvas lukisan atau materi performing art untuk memprotes kotornya kota oleh kelakuan para elit itu.

 

 

 

Related Posts

About The Author

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.