Nak, Ini Tentang Ketakutan

Surat Cinta Yang Telat #14

 

Dear Cora dan Alena,

Nak, sudah lama saya tak menyapa kalian. Kali ini, perkenankan, saya ingin bercerita tentang ketakutan. Iya. Ketakutan.

Sebutlah saya penakut. Ada banyak ketakutan yang pernah dan masih saya miliki hingga sekarang. Pernah, berarti itu ketakutan yang saya alami semasa kecil. Satu dua, mungkin tiga hingga empat, ketakutan masa kecil yang bisa saya ceritakan padamu. Akan saya cicil, mulai dari surat ini.

Dulu, saya mengaji di masjid yang tak jauh dari rumah. Itu kalau dilihat di masa sekarang. Masa di mana tak ada lagi hutan kecil dan hamparan sawah yang harus saya lalui untuk mencapai masjid itu. Masjid yang sekarang masih berdiri megah di tusuk sate antara jalan raya dan lorong yang menghubungkan jalan raya itu dengan jalan di mana rumah yang saya tempati sekarang.

Setengah dari jarak lorong itu dulunya hanya pematang sawah, setengahnya lagi saya harus melewati sebuah hutan kecil. Dalam hutan ada dua rumah. Bermodalkan senter kecil, panjangnya sekira dua baterei AAA plus kepala senter tempat balon lampu, saya yang berusia tak lebih dari 10 tahun saat itu harus melaluinya setiap hari selepas Maghrib untuk menuju masjid tempat belajar mengaji. Melalui hutan kecil tidaklah menimbulkan ketakutan. Bukan, bukan ketakutan itu yang mau saya ceritakan.

Ketakutan yang mau saya ceritakan adalah ketakutan pada sebuah malam pengajian. Masjid yang kami tempati itu masih sementara dalam pembangunan. Dinding – dindingnya belum berdiri kokoh, atapnya belum terpasang semua. Hujan turun dengan derasnya. Angin bertiup kencang. Seng – seng masjid pun berderak saling menimpa. Bunyinya sungguh menakutkan saya. Belum lagi kejadian itu berlangsung pada malam Jumat. Sungguh saya ketakutan setengah mati, membayangkan bahwa kiamat akan terjadi malam itu. Sebelumnya, saya pernah mendengar cerita bahwa kiamat akan terjadi pada malam Jumat. Cerita itu, mungkin saya dengar dari sesama anak – anak bermain dan mengaji saat itu. Untunglah, kiamat tak jadi malam itu.

Ketakutan lainnya, masih saat saya berusia tak lebih 10 tahun. Persisnya saya lupa. Kali ini tersebab oleh sebuah berita. Iya, sebuah berita. Kamu boleh tertawa dulu sebelum melanjutkan membaca cerita ini.

Sudah tertawa? Baiklah kita lanjutkan.

Masa itu anak – anak saya lewati dengan pilihan tontonan hanya satu, TVRI. Beruntunglah kalian yang sekarang bisa bebas memilih stasiun tv. Semoga saat kalian membaca surat ini, tayangan tivi – tivi kita sudah bagus. Tak seperti sekarang yang membuat saya memutuskan berhenti menonton tivi kecuali ada tayangan langsung pertandingan sepakbola atau konser musik.

Di antara tayangan yang sangat terbatas itu, ada satu acara yang sangat saya sukai. Nama acaranya Dunia Dalam Berita. Saya menyukai acara berita semasa kecil. Kesukaan menonton berita itu diikuti dengan kebiasaan mencatat. Apa saja. Mulai dari nama kepala desa di pulau Jawa hingga nama seorang bupati di pelosok Papua. Saking sukanya menonton dan mencatat, ada beberapa buku tulis saya habiskan. Sayang, saya tak menyimpannya sebagai bukti pada kalian kelak.

Nah, suatu malam Dunia Dalam Berita menayangkan berita tentang sebuah meteor yang akan jatuh di bumi. Dalam berita itu disebutkan, titik jatuhnya ada dua kemungkinan: di Indonesia atau Yugoslavia. Oh, iya Yugoslavia kini pecah menjadi beberapa negara; Serbia, Slovenia, Kroasia, Makedonia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro, dan Kosovo. Nama – nama ini saya dapatkan setelah mengintip Wikipedia. Bukan karena saya tahu dan menghafalnya J

Bayangkan betapa penakutnya saya saat itu. Hanya karena sebuah berita sebuah batu meteor akan jatuh saja sudah membuat saya ketakutan setengah mati. Saking takutnya, ada tiga bulan lebih saya tak berani menonton tayangan Dunia Dalam Berita lagi. Wajah saya saat menonton siaran itu mungkin sangat pasi. Untunglah, saat itu bapak sudah mampu membeli televisi sendiri.

Sebelum televise ada di rumah kami, selepas mengaji di masjid saya menonton di rumah tetangga sampai tertidur. Setiap malam, bapak akan menjemput dan membawa saya yang tertidur dalam gendongannya. Ah. Semoga kelak, saya bisa menemani kalian menonton acara favorit kalian.

Dear Cora dan Alena,

Kalian pasti bertanya untuk apa saya ceritakan ketakutan – ketakutan konyol ini. Tak usah mencari jawab. Saya menuliskan ini tak lebih untuk mencoba mengingatkan diri sendiri bahwa setiap manusia memiliki ketakutannya masing – masing. Juga agar kalian tahu bahwa tak perlu lari dari ketakutan. Sering kali, ketakutan dan keberanian datang beriring-iringan. Yang paling penting bukanlah apa ketakutan kita, apa yang kita lakukan saat kita takut. Hadapi saja, kata Iwan Fals.

Ah, saya sepertinya saya sedang mencoba menjadi Mario Teguh. Sejujurnya, hampir setahun belakangan saya dihantui ketakutan. Yah. Sebuah ketakutan tentang kalian. Ketakutan bahwa kalian tidak akan pernah hadir dalam hidup saya. Ketakutan itu lahir dari sebuah ketakutan lain yang belum bisa saya ceritakan pada orang lain..

 

sumber foto: emmawerdayani.com

Related Posts

About The Author

Add Comment