Modus di Balik Postingan Like dan Amin di Media Sosial

Apa Itu Hoax dan Kenapa Banyak Yang Percaya?

Apa sebenarnya hoax itu? Hoax seringkali diartikan sebagai berita bohong yang sengaja disebar agar dipercayai oleh orang banyak, – dan juga berita yang mengandung fitnah dan kebencian,- untuk tujuan tertentu. Tujuan – tujuan itu bisa jadi untuk alasan ideologis, persaingan kekuasaan, persaingan bisnis berupa marketing internet hingga pada motif untuk meraih keuntungan finansial.

Lalu mengapa masyarakat kita mudah percaya pada berita dan hoax semacam itu? Ada beberapa penyebab, seperti yang dilansir BEM Fakultas Psikologi UI;

Mengapa hoax gampang dipercaya? [sumber: issuu.com/bunchpsikoui]

Mengapa hoax gampang dipercaya? [sumber: issuu.com/bunchpsikoui]

  1. Akses Informasi yang terbatas

Seseorang bisa jadi memercayai berita yang mengandung fitnah dan kebencian atau berita hoax bukan karena orang itu mudah dibohongi tapi lebih pada keterbatasan informasi yang sampai padanya. Biasanya, informasi yang sampai padanya adalah informasi sepihak tanpa adanya informasi yang berupa klarifikasi berita hoax yang terlebih dahulu sampai.

  1. Tingkat popularitas informasi

Informasi yang datang terus menerus dari banyak orang bisa membuat kita jadi menganggap informasi itu benar adanya. Semakin banyak yang menyebarkan sebuah informasi atau berita hoax maka semakin mudah kita percaya bahwa berita itu adalah sebuah kebenaran dan membuat kita menutup mata pada klarifikasi pada berita tersebut. Kebohongan yang dilakukan berulang dan diamini oleh orang banyak orang akan jadi sebuah kebenaran.

  1. Ketertarikan

Manusia cenderung melakukan selective attention  atau perhatian selektif yaitu memilah dan memilih salah satu sumber informasi yang ia rasa paling penting atau dekat dengannya dan mengabaikan yang lainnya. Faktor-faktor yang memengaruhi perhatian selektif adalah harapan, stimulus, dan nilai-nilai yang ia percayai.

  1. Confirmation Bias

Confirmation bias atau bias konfirmasi adalah kecenderungan seseorang untuk mencari bukti-bukti yang mendukung pendapat atau kepercayaannya serta mengabaikan bukti-bukti yang menyatakan sebaliknya. Bias konfirmasi ini mengakibatkan orang lebih mencari informasi tambahan yang mendukung dan menguatkan informasi atau berita hoax yang mereka peroleh sebelumnya dan melakukan pengabaian pada informasi berupa bukti – bukti yang membantah atau berupa klarifikasi pada berita hoax itu.

Analisa hoax pembalut yang mengandung virus HIV/AIDS di web Indonesian Hoaxes

Analisa hoax pembalut yang mengandung virus HIV/AIDS di web Indonesian Hoaxes

Salah satu contoh hoax yang kencang beredar belakangan ini adalah tentang pembalut wanita yang mengandung virus HIV/AIDS. Seruan dari berita hoax ini adalah untuk memboikot produk Israel. Hoax tentang pembalut wanita yang mengandung virus HIV/AIDS ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 2013 kemudian didaur – ulang dan disebarkan kembali melalui berbagai media sosial. Salah satu ciri berita hoax adalah informasi yang berulang dan mengalami pengemasan ulang untuk menyesuaikan kondisi  atau terkini.

Sebagai pengguna ponsel cerdas, tentulah kita harus lebih cerdas dari gawai yang kita miliki dalam memilih dan memilah informasi sebelum menyebarkannya. Saat menerima informasi atau membaca berita ada baiknya kita mencari tahu dulu sumber dan kebenarannya. Di jaman digital dimana informasi melimpah tak sulit untuk mencari sumber informasi lain sebagai pembanding atau bahan untuk menganalisa kebenaran sebuah berita. Portal Indonesian Hoaxes ini bisa menjadi salah satu tempat untuk mengecek kebenaran sebuah informasi.

Jangan sampai kita ikut menyebarkan hoax atau berita yang penuh fitnah dan kebencian hanya karena kita malas menggunakan otak pemberian Tuhan. Kamu  tentu lebih cerdas dari ponsel atau gawaimu, kan? [baca juga: Menebar Kebencian, Menuai Ketenaran dan Uang]

Jika tak pandai memilah informasi, kita akan terseret ikut menyebarkan berita yang mengandung fitnah dan kebencian, berita bohong atau bahkan adu domba. Ujung – ujungnya adalah kita akan terjebak pada keterbelahan dan saling mencaci – maki sementara pembuat berita justru tertawa karena tujuannya telah tercapai.

Oh iya, kembali pada status yang meminta kamu menuliskan ‘amin’, jika menemukan status seperti itu cukup katakan “berdoa kok di Facebook, emangnya Tuhan punya Facebook?”

***

 

baca tulisan sebelumnya Modus di Balik Postingan Like dan Amin di Media Sosial

 

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment