Resolusi Juara 2012: Merekam Makassar, Dari Diari Hingga Blog

Menulis. Saya akan mengucapkan kata itu jika orang-orang menanyakan kata apa yang bisa mewakili saya. Kecintaan menulis ini berawal dari dari sebuah hukuman. Yup, hukuman! Sewaktu kecil saya melakukan kesalahan dan hukumannya adalah saya tidak diperbolehkan bermain di luar rumah. Orang tua saya beranggapan bahwa pergaulan di luar rumah itulah yang membuat saya jadi nakal.

Akhirnya, saya menjadi anak yang kurang bergaul dan hanya tinggal di rumah saja. Untungnya, orang tua saya tidak menghukum saya begitu saja. Sebagai kompensasi dari hukuman itu, orang tua memberi saya bacaan. Mulai dari koran hingga novel. Bacaan-bacaan itu kemudian mampu mengalihkan perhatian saya dari ajakan teman-teman untuk bermain. Hingga sekarang, jadilah saya orang yang  selalu dahaga akan bacaan.

Kebiasaan membaca saya pun berkembang menjadi hobi menulis. Dulu, saya pernah memiliki sebuah buku tulis berisi banyak nama dan jabatan. Jika sedang bosan membaca, saya beralih pada tivi. Saat itu hanya tersedia TVRI yang lebih banyak menayangkan berita-berita kesuksesan pembangunan. Tak ada kerjaan, saya mencatat nama-nama narasumber acara-acara TVRI tersebut. Jadilah buku itu penuh dengan nama-nama orang beserta jabatannya. Mulai dari ketua Rukun Tetangga (RT) hingga  menteri. Dari Sabang hingga Merauke.

Ketika memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) kebiasaan itu beralih pada diari. Hingga kini, saya masih menyimpan sekira 7 buku diari. Dalam diari, saya mencatat beberapa kenangan. Semisal, pengalaman ke perpustakaan wilayah dengan naik Damri bertingkat. Juga pengalaman bolos hanya untuk melihat mall pertama di Makassar di hari pembukaannya. Membuka kembali diari-diari itu, biasanya bayangan akan Makassar silam terbayang.

Di bangku kuliah, kebiasaan menulis itu akhirnya terasah ketika saya bergabung dalam Unit Kegiatan Pers Mahasiswa di kampus. Pada tahun 2005, saya mengikuti sebuah pelatihan menulis dimana peserta diminta memilih objek tulisan sendiri mengenai Makassar. Ada empat tema, yaitu; fenomena, ruang, komunitas, dan kuliner. Peserta bisa memilih sesuai dengan kedekatan dan minat mereka. Saya sendiri memilih memilih menuliskan tiga hal; fenomena bahasa di kalangan waria Makassar yang berkumpul di Lapangan Karebosi, sejarah kawasan pelabuhan Makassar yang identik dengan prostitusi, dan sejarah Pasar Senggol Makassar. Ketiga tulisan saya, bersama tulisan peserta penulisan itu kemudian dibukukan dalam Makassar Nol Kilometer terbitan Penerbit Ininnawa.

Menulis akhirnya menjadi sebuah kecintaan. Terlebih lagi sejak internet mudah diakses oleh siapa saja. Adanya internet, diiringin dengan kehadiran blog dimana saya bisa menuangkan apa saja yg saya rasa, dengar dan lihat. Tulisan itu bisa berupa curhat, puisi,  atau catatan setelah membaca atau menonton. Juga catatan perjalanan.

Pengalaman menulis tentang Makassar itu kemudian berbuah mimpi. Saya memimpikan memiliki sebuah blog yang tak hanya berisi catatan pribadi tapi juga berisi tulisan-tulisan tentang Makassar. Sebuah blog yang bisa menjawab keingin-tahuan orang-orang yang tentang Makassar.

Saya membayangkan, seperti buku Makassar Nol Kilometer, blog itu terbagi empat tema yaitu; Ruang, Fenomena, Komunitas, dan Kuliner, ditambah laman Sejarah. Laman Ruang berisi catatan-catatan tentang ruang-ruang publik yang ada di Makassar, semisal Lapangan Karebosi, Benteng Rotterdam dan sebagainya. Juga tentang tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi di Makassar.

Fenomena berisi segala hal-hal unik yang ada di Makassar seperti penjual obat yang kini marak kembali di sekitar anjungan Losari setelah lama menghilang karena Lapangan Karebosi, dimana mereka sering berjualan, beralih fungsi menjadi pusat perbelanjaan. Selain itu, ada banyak fenomena menarik yang bisa dituliskan di Makassar dan bisa ditampilkan di blog itu nantinya.

Selama ini pemberitaan mengenai Makassar selalu saja tentang tawuran dan hal negatif lainnya. Kegiatan-kegiatan positif jarang sekali mendapat perhatian media massa. Padahal, di Makassar ada banyak komunitas yang melakukan berbagai kegiatan atau menghasilkan karya yang membanggakan. Nah, blog ini nantinya akan menampilkan profil dan kegiatan komunitas-komunitas yang ada di Makassar. Ini tentu saja untuk mengimbangi citra negatif Makassar yang terlanjur melekat akibat pemberitaan yang tidak berimbang.

Kuliner. Siapa yang tidak pernah mendengar tentang ikan bakar? Makassar terkenal sebagai kota yang menyajikan ikan bakar dan makanan seafood yang nikmat. Juga Coto Makassar, cita rasa makanan khas Kota Daeng ini bahkan melekat pada salah satu produk  mie instan. Tak hanya itu, masih banyak beragam makanan khas tradisional daerah ini yang belum tergali dan ditampilkan pada khalayak ramai.

Sebagai kota yang dulunya merupakan ibukota kerajaan besar dan berpengaruh, Makassar memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota pelabuhan ini sudah menjadi kota yang multikultur sejak abad 16 dimana pedagang berbagai negara bertransaksi di ibukota kerajaan Gowa ini. Cerita-cerita tentang Benteng Somba Opu, benteng terkuat yang pernah ada, juga akan menjadi sajian blog ini bersama sejarah panjang Makassar.

Saya membayangkan sebuah blog yang akan menampilkan itu semua sebagai resolusi yang harus terwujud di tahun 2012. Siapapun, nantinya bisa berpartisipasi dengan menyumbangkan tulisan atau foto. Nah, itu tentu saja bisa terwujud jika ada dukungan internet dengan kecepatan yang kuat.

Catatan: resolusi ini sudah terwujud dengan adanya web Makassar Nol Kilometer yang publish pertama kali tanggal 15 Januari 2012

Related Posts

About The Author

94 Comments

Add Comment