Merayakan Rempah, Merayakan Mahakarya Indonesia

Berabad lampau nusantara ini memiliki sebuah surga dimana rempah-rempah tumbuh meruah di tanah ini. Kepulauan Maluku, nama surga tempat rempah ini subur melimpah. Pesona hutan-hutan rempah di surga ini kemudian mengundang bangsa-bangsa lain. Bangsa Arab, Portugis hingga Belanda pun datang demi mendapatkan tanaman surga ini.

Tak berlebihan jika rempah disebut sebagai tanaman surga. Bagi bangsa Eropa pada zaman itu, rempah adalah simbol status bagi keluarga kaya. Bagaimana tidak berharga jika jaman dulu rempah-rempah setara dengan emas. Karena itulah bangsa Eropa berlomba-lomba mengarungi lautan demi menemukan asal dari tanaman surga ini.

Ekspedisi-ekspedisi inilah yang kemudian mengubah peta dunia dan melahirkan penjajahan. Bangsa Eropa tak hanya puas dengan mengetahui sumber gemah rempah namun ingin menguasainya. Lahirlah kolonialisme di nusantara. Kesamaan nasib dari negeri-negeri nusantara ini kemudian melahirkan Indonesia. Karena rempah negara kita ada.

Bagaimana nasib rempah-rempah kita sekarang?

Indonesia yang memiliki kekayaan sumber daya alam dan rempah yang melimpah hanya mampu menjadi pemasok bahan baku produk rempah. Kita menjadi pengimpor produk rempah-rempah dan turunannya dalam berbagai produk baru, semisal bumbu masakan, obat-obatan, parfum dan kosmetik yang mempunyai nilai tambah tinggi.

Produk olahan-olahan dari rempah itu menjadi barang mahal dan ekslusif yang masuk juga ke Indonesia dalam jumlah yang cukup besar melalui gerai supermarket untuk konsumsi hotel dan kalangan menengah-atas. Sementara harga bahan baku berupa rempah di tingkat petani sulit terangkat dan menyamai harga pasar dunia.

Tak perlu jauh-jauh mengambil contoh. Vietnam yang tanahnya terbatas dan dulu belajar dari Indonesia tentang lada, kini bisa menjadi nomor satu dalam produksi lada. Singapura yang tidak punya lahan pertanian pun bisa menjadi eksportir rempah karena membeli dari kita. Dulu Belanda memiliki banyak gudang-gudang di Indonesia. Sekarang gudang-gudang rempah ada di Singapura.

Demikian pula Serawak, Malaysia, yang mengimpor lada dari Kalimantan Barat, tapi mereka mengolahnya kembali menjadi parfum, permen, jelly dan lainnya hanya dari lada. Mereka membeli rempah mentah kita, kemudian mengolah dan mengekspor kembali. Contoh lain adalah gambir yang hanya ada di Indonesia, tapi pengekspor gambir terbesar adalah India.

Pemerintahan baru di bawah Jokowi haruslah menaruh perhatian pada bagaimana membangun kembali kejayaan rempah. Agar kita tak lagi hanya menjadi produsen bahan mentah lalu menjadi pengimpor produk olahan. Pemerintah harus mengeluarkan kebijakan yang memihak petani. Untuk meningkatkan pendapatan petani, pemerintah harus membeli langsung dari petani untuk memotong jalur pembelian yang merugikan petani. Gudang-gudang rempah harus dibangun untuk menampung produksi mereka.

Jalur Tol Laut yang dicanangkan oleh Jokowi bisa membantu faktor angkutan dari daerah ke pusat untuk solusi bagi petani-petani rempah di kepulauan. Ini tentu mengurangi biaya pengangkutan yang mahal. Jalur Tol Laut Jokowi ini ini bisa disinergikan dengan jalur yang mengangkut rempah-rempah dari wilayah kepulauan. Berdasarkan bukti penemuan arkeologi peradaban Sumeria, kita pernah punya Jalur Rempah yang tidak kalah tua dibandingkan Jalur Sutra. Jalur Rempah ini didominasi jalur maritim, sesuai dengan program kemaritiman Jokowi.

Yang tak kalah penting adalah bagaimana meningkatkan kualitas petani dalam mengolah bahan baku mentah menjadi produk olahan rempah yang bermutu dan bernilai jual tinggi. Sudah saatnya membekali petani kita dengan kemampuan mengolah dan menghasilkan produk bernilai ekonomis tinggi. Contohnya Pala, selama ini hanya dimanfaatkan fulla dan bijinya saja sebagai rempah-rempah. Buah daging Pala termanfaatkan dengan baik. Dagingnya yang berwarna putih kekuningan dibuang dan hanya menjadi limbah padahal dapat diolah menjadi sirup, selai, maupun manisan.

sumber: http://ekohappy.wordpress.com/

sumber: http://ekohappy.wordpress.com/

Sirup olahan dari pala ini tidak membutuhkan investasi mahal dan teknologi yang digunakan juga sederhana. Sirup pala dengan menggunakan tekonologi tepat guna ini dapat dilakukan oleh industri rumah tangga. Selain proses pengolahan, petani juga harus dibekali dengan pengetahuan label produk, cita rasa produk, kontiniutas bahan baku, packaging, serta bagaimana menghadapi tantangan pasar.

Pala dan produk olahannya hanyalah salah satu contoh. Masih banyak produk lain yang bisa dihasilkan dari tanaman rempah. Misalnya jahe (minuman kesehatan), cengkeh (minyak cengkeh dan obat-obatan), kemiri (minyak kemiri, sabun, biogas, bricket dan pupuk organik), dan juga jenis rempah-rempah lainnya bisa menjadi produk olahan yang bernilai ekonomis tinggi. Bisa pula dengan memadukan rempah dalam produk lain semisal coklat dengan aneka rasa rempah.

cokelat aneka rasa rempah

Coklat Aneka Rasa Rempah. sumber: Kompas/Sri Rejeki

 

Setelah upaya-upaya peningkatan produksi rempah dan pengolahan produk turunan menjadi olahan bernilai ekonomis tinggi, pemerintah perlu mengenalkan kembali rempah-rempah ini kepada publik melalui museum-museum rempah. Museum ini nantinya akan menyajikan sejarah panjang gemah rempah di nusantara.

Selain itu, museum-museum ini juga harus menyajikan bagaimana rempah-rempah diolah dan menjadi produk-produk yang laku di pasaran. Juga bagaimana memperkenalkan rempah dengan cara populer seperti menyediakan merchandise bergambar rempah, misalnya dalam kaos dan chasing ponsel. Museum rempah ini harus dibuat semenarik mungkin agar orang-orang tertarik mengunjunginya.

Jalur-Rempah

Napak Tilas Jalur Rempah

Jika memungkinkan, museum rempah ini dibangun di beberapa kota yang memiliki sejarah panjang akan rempah. Rangkaian kota-kota yang memiliki museum ini sebaiknya dilalui oleh jalur rempah. Dari sisi wisata, pemerintah dapat mengadakan napak tilas mengenang kejayaan rempah dengan kapal-kapal tradisional dengan membawa wisatawan menyusuri jalur rempah dan singgah di beberapa museum rempah yang terdapat di beberapa kota.

Langkah selanjutnya untuk mengembalikan kejayaan gemah rempah adalah adanya penetapan Hari Rempah. Pemerintah mungkin bisa mempertimbangkan tanggal 23 September sebagai Hari Rempah Nasional. Tanggal ini adalah tanggal dimana ratusan tokoh maritim mendeklarasikan Solidaritas Jalur Rempah yang kemudian ditindaklanjuti dengan sarasehan “Strategi Poros Maritim RI Abad 21 Berbasis Jalur Rempah”

Upaya-upaya peningkatan kapasitas dan pendapatan petani rempah, pendirian museum-museum rempah lalu napak tilas dan penetapan Hari Rempah bisa menjadi rangkaian pengembalian kejayaan rempah nusantara. Kelak, petani rempah dan kita semua bisa memiliki momen dimana kita dapat merayakan Hari Rempah, merayakan Mahakarya Indonesia

Related Posts

About The Author

One Response

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.